Sembilan Hal yang Membentuk Budaya Kerja di Marks and Spencer
Marks & Spencer peritel dari Inggris ini memiliki kiat khusus untuk bersaing dalam bisnis. Tidak terlalu gembar-gembor, tapi perusahaan ini ternyata memberikan penghargaan berupa gaji yang besar terhadap para karyawannya. Sebagai gambaran data yang dirilis beberapa tahun lalu perusahaan mengeluarkan 1 410.9 juta poundsterling (hampir satu setengah milliar poundsterling), untuk gaji dan upah, pesangon pensiunan, manfaat, pembayaran saham karyawan, dan kesejahteraan karyawan lainnya.
Namun demikian ternyata bukan soal gaji saja, yang membuat orang betah bekerja di perusahaan itu. Hingga kini dibawah kepemimpinan Steve Rowe sebagai CEO Marks & Spencer program pengembangan karier dan program pelatihan karyawan juga menjadi daya tarik tersendiri.
Perusahaan yang berpusat ini memiliki Akademi Ritel (Retail Academy), yang bertanggungjawab dalam menyampaikan program pelatihan dan pengembangan untuk karyawan di semua tingkatan. Akademi Ritel bukan hanya ditujukan kepada para manajer, tetapi juga karyawan level bawah yang berada di garda depan yang berhadapan langsung dengan konsumen. Pelatihan-pelatihan yang tersedia antara lain adalah
1.Program Induksi.
Program pelatihan berdurasi tiga hari ini merupakan induksi terhadap calon karyawan yang akan bergabung untuk bekerja di Marks & Spencer. Tujuannya agar para karyawan baru memiliki rasa percaya diri sebelum mulai bekerja. Setiap pelatihan dapat diikuti antara lima hingga lima belas karyawan. Dalam pelatihan ini mereka diajarkan bagaimana bekerja dalam tim dan mengenal budaya serta nilai-nilai yang diwariskan oleh para pendiri perusahaan.
2.Pelatihan yang Terorganisir Secara Penuh
Ini merupakan sebuah pelatihan yang diberikan kepada seluruh karyawan, ketika ada suatu inisiatif baru. Tapi tentu saja pelaksanaannya tidak dapat dilakukan secara serentak, karena perusahaan pengecer ini harus membuka toko selama tujuh hari dalam seminggu. Sebagai misal pernah suatu ketika ada seorang instruktur independen yang mendapat order melatih 56 ribu staf Marks & Spencer. Mary Grober sang instruktur mendapat fee hingga satu juta pounsterling, dari total biaya pelatihan sebesar sepuluh juta pound yang digunakan untuk membiayai inisiatif ini.
3.Pelatihan Khusus
Pelatihan lain adalah pelatihan spesifik untuk kebutuhan spesifik juga (specific training for specific needs). Perusahaan menggunakan pihak luar untuk merancang program pelatihan bidang tertentu. Kendati pengajarnya dari luar, tempat pelatihan biasanya dapat diselenggarakan di kantor pusat maupun di Akademi Ritel.
Pelatihan untuk manajer lini. Para manajer kini dapat mengakses pembelajaran jarak jauh (e-learning) yang inovatif dan menarik untuk membekali diri mereka dengan masalah HR dan manusia. Sebanyak sembilan puluh enam persen manajer yang telah memanfaatkan pelatihan jarak jauh memberikan rekomendasi kepada orang lain untuk ikut, karena biayanya murah dan isinya bagus.
4.Pelatihan Kepemimpinan untuk Sukses
Para direktur HR di perusahaan grup telah meluncurkan program unggulan Lead to Succeed. Targetnya adalah pengembangan sebanyak tiga ratus manajer senior di dalam perusahaan, dan dirancang untuk melatih para pemimpin yang akan mengelola perusahaan di masa depan.
5.Pelatihan Manajemen
Pelatihan tahunan ini ditujukan bagi lulusan baru dan untuk memenuhi permintaan rotasi atau promosi internal di perusahaan. Rata-rata ada sekitar seratus lima puluh lowongan baru per tahun untuk berbagai jabatan mulai dari penjualan, HR dan teknologi informasi. Perusahaan menerima lamaran lulusan baru dari berbagai jurusan, kemudian mereka akan dites dan dilatih secara maraton sebelum diterjunkan ke posisi yang tersedia. Semua lulusan baru akan mendapat materi pelatihan pengembangan pribadi setelah melalui analisis kebutuhan dan kajian.
6.Kesehatan dan Keselamatan
Marks & Spencer selalu berkomitmen untuk menjaga kesehatan, keselamatan dan kesejahteraan semua karyawannya, pelanggan, dan orang lain yang datang berkunjung ke toko. Hal itu dilakukan dengan terus menjalin komuniksi dan peningkatan kesadaran tentang pentingnya kesehatan dan keselamatan kerja. Tentu saja sebagai karyawan, manfaat yang akan diterima adalah keamanan dan kenyamanan lingkungan kerja. Menjadi tugas dan tanggung jawab bersama karyawan untuk saling menjaga kesehatan dan keamanan kerja.
Kebijakan perusahaan tentang kesehatan dan keamanan serta penerapannya di lapangan ditentukan oleh suatu komite keamanan dan keselamatan, manajer toko, jasa yang berkaitan dengan kesehatan, bagian operasi dan keuangan ritel, pengelolaan pengembangan properti dan fasilitas.
7.Kode Etik dan Perilaku (Code of Ethics and Behaviors)
Marks & Spencer telah memiliki kode etik yang harus ditaati oleh semua karyawan. Mengapa hal ini harus dilakukan? Mereka memiliki tanggung jawab untuk melindungi reputasi perusahaan dalam setiap hal yang mereka lakukan. Ketidaktaatan terhadap etik dan kebijakan serta prosedur yang ditentukan akan berisiko pada teguran hingga pemecatan terhadap karyawan. Dalam hal terjadi tindakan indisipliner yang memengaruhi aset perusahaan, maka oknum karyawan yang bersangkutan akan dituntut dan perusahaan akan minta ganti rugi.
8.Zero Tolerance Terhadap Korupsi.
Marks & Spencer menerapkan toleransi nol (zero tolerance) bagi siapapun yang melakukan atau menerima suap atau praktik korupsi dalam berbagai bentuknya. Perilaku jenis ini betul-betul dilarang baik yang dilakukan oleh karyawan sendiri atau setiap orang yang sedang bertindak untuk mewakili perusahaan.
9.Penipuan (fraud).
Penipuan adalah tindakan untuk mempengaruhi seseorang untuk mendapatkan uang secara tidak sah (melanggar hukum). Banyak sekali modus/cara untuk melakukan penipuan, salah satunya adalah dengan penyalahgunaan wewenang. Perbuatan seperti ini haram hukumnya di Mark & Spencer dan dianggap sebagai pelanggaran berat sehingga berisiko pemecatan.
Apa saja yang harus dilakukan para manajer untuk mencegah pelanggaran terhadap kode etik dan pedoman perilaku ? Memastikan bahwa semua bawahan tahu terhadap kode etik dan perilaku yang berlaku di perusahaan. Membantu menerangkan dan memberi nasihat dalam menginterpretasikan kode etik. Manajer juga bertugas menegakkan dan mempromosikan kode etik dan perilaku. Setiap tahun semua karyawan harus memperbarui komitmen dengan menandatangani kesediaan untuk melaksanakan kode etik dan perilaku.
Lantas bagaimana menyampaikan keprihatinan atau menanyakan suatu hal yang menjadi pertanyaan karyawan? Marks & Spencer percaya adalah penting menciptakan lingkungan dimana karyawan dapat mengajukan pertanyaan apa saja, tanpa takut nantinya akan dituduh yang aneh-aneh, bahkan mendapat hukuman pemecatan. Manajemen Marks & Spencer berpendirian bahwa karyawan yang tahu adanya perbuatan salah diminta agar melaporkan, tidak diam saja. Menjadi tanggung jawab manajer garda depan untuk mendengarkan keluhan karyawan dan mengambil tindakan yang diperlukan.
Apabila karyawan tidak mau atau enggan menyampaikan informasi kepada manajernya langsung, ia dapat berkonsultasi dengan manajer senior. Apabila laporannya sahih manajer senior wajib melakukan penyelidikan lebih lanjut.
Beberapa rekomendasi yang juga akan dilaksanakan Marks & Spencer, perusahaan ini menggunakan platform global dalam rekruitmen dan seleksi dalam operasi di dunia. Nilai-nilai yang dianut perusahaan tetap sama tetapi prosedur dalam melakukan tindakan mempertimbangkan budaya setempat. Ini merupakan isu yang harus dipertimbangkan. Pertimbangan budaya setempat juga memengaruhi cara rekruitmen yang dilakukan.
Perusahaan ini juga selalu menggunakan data dalam membuat strategi HRM ke depan, memanfaatkan kemajuan teknologi dan memperhatikan perubahan kondisi pasar demi kepentingan organisasi. Perusahaan melakukan riset pasar untuk mengetahui apa yang ditawarkan oleh pesaing kepada karyawannya dan menyesuaikan strategi berdasarkan pada data hasil riset.
Perusahaan juga memperluas pengaruh HRM hingga ke pemasok sehingga hak-hak pekerja di seluruh rantai distribusi (supply chain) dapat ditegakkan. Ini memang agak langka, memperluas penerapan manajemen sumber daya manusia hingga ke klien di luar perusahaan. Tapi itulah Marks & Spencer.
Sumber/foto : businessinsider.com/standard.co.uk
Facebook
Twitter
Instagram
YouTube
RSS