Jakarta, 19 September 2024 — Intipesan kembali menghadirkan salah satu acara unggulan bertajuk “HR Green Forum: Strengthening Role of HR in Improving Business Sustainability” yang diselenggarakan di Hotel Aryaduta Tugu Tani, Jakarta. Acara ini menghadirkan beberapa narasumber berpengalaman dan ternama di bidang sumber daya manusia (SDM) dan keberlanjutan bisnis. HR Green Forum tahun ini mengangkat topik yang sangat relevan, yaitu bagaimana peran insan Human Resource dapat mendukung dan meningkatkan keberlanjutan dalam lingkungan bisnis yang semakin dinamis dan penuh tantangan. Ari Tjahjanto, salah satu narasumber, CEO PT Wongke Solusi Nusantara, menyampaikan perspektifnya mengenai peran penting Human Resources (HR) dalam memperkuat keberlanjutan bisnis. Dalam presentasinya, Ari memaparkan bagaimana profesional HR dapat menjadi agen perubahan yang memastikan keberlanjutan bukan hanya janji tetapi benar-benar tertanam dalam operasi dan budaya perusahaan.
“Profesi HR memiliki posisi strategis dalam menciptakan keberlanjutan di perusahaan,” ujar Ari memulai diskusi. “Sebagai arsitek budaya organisasi, HR harus memastikan bahwa inisiatif keberlanjutan tidak hanya menjadi jargon perusahaan tetapi benar-benar diintegrasikan ke dalam setiap proses kerja.” Ari menekankan bahwa peran HR yang bijak adalah memimpin inisiatif Environmental, Social, and Governance (ESG) yang bertujuan untuk kesejahteraan bumi dan kesuksesan bisnis.
Beliau mengilustrasikan peran ini dengan sebuah pantun:
“Pergi ke pasar membeli ikan tenggiri,
Jangan lupa membeli daun kelor.
HR bijak memimpin ESG,
Bumi lestari, perusahaan pun makmur!”
Meskipun demikian, Ari tidak menutup mata terhadap tantangan yang dihadapi perusahaan dalam mengimplementasikan prinsip keberlanjutan. Menurutnya, “Banyak perusahaan, terutama di Indonesia, masih berjuang untuk memahami aspek kuantitatif dari ESG.” Ari mencatat bahwa sekitar 69% perusahaan mengalami kesulitan dalam menghitung aspek kuantitatif ESG dan juga menghadapi tantangan dalam membuat laporan keberlanjutan yang memenuhi standar dan regulasi yang berlaku.
“Tantangan besar lainnya adalah kurangnya sumber daya manusia yang mengerti prinsip-prinsip keberlanjutan. HR harus berperan dalam meningkatkan pemahaman dan keterampilan ini melalui pelatihan serta pembelajaran berkelanjutan,” tambahnya.
Ari juga menjelaskan bagaimana peran HR telah berevolusi selama beberapa dekade terakhir. “Kita telah bergerak dari HR yang berfokus pada administratif menjadi entitas strategis yang berperan penting dalam kesuksesan bisnis. Dalam konteks ESG, HR bertanggung jawab untuk memastikan kepatuhan terhadap standar keberlanjutan, serta mengintegrasikan praktik-praktik tersebut ke dalam pengalaman karyawan secara menyeluruh,” jelasnya.
Beliau menggambarkan tahapan evolusi ini sebagai perubahan dari administrasi sederhana ke tingkat strategis di mana HR fokus pada hasil pasar serta pemenuhan ekspektasi investor dan pelanggan.
Dalam presentasinya, Ari juga berbicara mengenai manfaat dari menerapkan bangunan hijau (green building) dalam lingkungan kerja. “Green building bukan hanya bermanfaat untuk mengurangi jejak karbon, tetapi juga terbukti meningkatkan produktivitas karyawan serta mengurangi tingkat izin sakit,” jelas Ari, merujuk pada beberapa penelitian terbaru yang menunjukkan korelasi antara desain ramah lingkungan dan kinerja pekerja.
Menurut Ari, penerapan bangunan hijau dan kebijakan berkelanjutan lainnya memberikan dampak positif tidak hanya bagi lingkungan, tetapi juga bagi kesejahteraan karyawan dan performa bisnis. “Saat perusahaan berinvestasi dalam keberlanjutan, mereka secara tidak langsung meningkatkan keterlibatan dan kebahagiaan karyawan, serta menurunkan tingkat keluar-masuk karyawan,” tegasnya.
Ari menjelaskan bahwa penerapan ESG harus dilakukan sepanjang perjalanan karyawan, mulai dari proses rekrutmen hingga tahap pengembangan dan akhirnya saat karyawan meninggalkan perusahaan. “Misalnya, kita bisa mengadopsi proses rekrutmen yang lebih ramah lingkungan, seperti booth wawancara yang ramah lingkungan atau pengurangan penggunaan kertas secara signifikan melalui digitalisasi,” paparnya.
Beliau juga menjelaskan bagaimana prinsip-prinsip ESG dapat membantu perusahaan menarik talenta terbaik. “Saat calon karyawan melihat bahwa perusahaan serius dalam inisiatif keberlanjutan, mereka lebih tertarik untuk bergabung. Ini meningkatkan daya saing perusahaan di pasar tenaga kerja,” katanya.
Mengakhiri presentasi, Ari Tjahjanto memberikan pandangan yang jelas mengenai masa depan HR dalam konteks keberlanjutan. “Sebagai arsitek budaya organisasi, profesional HR memiliki peran krusial dalam memimpin inisiatif ESG, memastikan bahwa keberlanjutan bukan hanya komitmen, tetapi menjadi DNA dari setiap tindakan perusahaan. HR tidak hanya perlu memahami regulasi dan bisnis, tetapi juga perlu peduli pada aspek lingkungan dan sosial.”
Ari menekankan bahwa penerapan keberlanjutan yang efektif membutuhkan kolaborasi dari semua bagian perusahaan, dan HR harus menjadi penggerak utama dalam proses ini.
Dengan pandangannya yang visioner, Ari Tjahjanto telah menggambarkan betapa pentingnya peran HR dalam memperkuat bisnis keberlanjutan, menjadikan perusahaannya sebagai contoh konkret bagaimana organisasi dapat berkembang tanpa mengorbankan masa depan generasi mendatang.
Ari Tjahjanto, BSc (Hons), CPOD, CMA, SEA
Ari.tjahjanto@wongke.co.id
Facebook
Twitter
Instagram
YouTube
RSS