Anak Perlu Belajar Mengelola Keuangannya Sejak Dini

Anak

Anak muda Indonesia dewasa ini, lebih menyukai membuka usahanya sendiri dibanding dengan bekerja di perusahaan orang lain. Namun demikian efeknya terhadap penghasilan terkadang kurang menentu, bila dibandingkan hasil yang didapat dari seorang karyawan yang bekerja di perusahaan.  Untuk mengatasinya diperlukan kebijakan yang baik dalam mengatur keuangannya, karena dengan bekerja sendiri kepastian untung rugi menjadi suatu resiko yang tidak dapat diprediksi. Ini antara lain bisa dilakukan dengan menganut pola perilaku keuangan cerdas. 

Hal tersebut sama seperti yaang disampaikan oleh Kepaia Perencana Keuangan OneShildt Financial Planning Agustina Fitria Aryani yang dimuat dalam sebuah haarian nasional pada Minggu  (21/8) di Jakarta.

Menurutnya sangat penting bagi seseorang, untuk memiliki  kemampuan mengatur keuangan yang baik. Agar mencukupi kebutuhan hidupnya pada hari ini maupun untuk kebutuhan masa depan. Lebih jauh dijelaskan pula bahwa perilaku pengelolaan keuangan dapat diperkenalkan sejak dini pada anak, untuk itu peran dan pola asuh orang tua sangat diperlukan. Seperti misalnya dengan mengajarkan dan membiasakan anak, untuk mengatur uang sakunya sendiri. Sehingga nantinya setelah dewasa mereka akan dapat mengatur pengelolaan keuangan sendiri dengan baik.

Pengenalan tersebut daapat dilakukan secara bertahap, sesuai dengan usia anak. 

1. Usia 3 tahun. Anak mulai mengamati dan meniru, bisa menjadi awal untuk mengenal uang. Bisa dilakukan dengan cara mengajak anak untuk membeli suatu barang atau berbelanja. Dari situlah anak akan mulai memahami, bahwa untuk mendapatkan suatu barang harus melakukan pembayaran.

2. Usia 6-9 tahun. Biasanya anak mulai mendapatkan uang saku. Cara paling sederhana dengan memberikan uang harian. Kemudian anak bisa diajarkan untuk selalu membagi dananya menjadi tiga, yakni untuk tabungan (30 persen), belanja (30 persen), dan sosial (30 persen). Dengan demikian anak tidak serta merta menghabiskan seluruh uang sakunya untuk jajan sehari.

3. Usia 10-14 tahun. Pemberian uang saku bisa diberikan dengan periode 3 harian ataupun mingguan. anak juga bisa mulai belajar menghasilkan uang dan dengan tetap melanjutkan kebiasaan membagi penghasilannya ke dalam tiga bagian. Selain itu bisa dengan mendidik mereka untuk melakukan hobi yang bisa memberi nilai tambah dan manfaat bagi orang Iain, misalnya, mengumpulkan perangko dan menjual koleksinya.

4. Usia 15-17 tahun. Anak mulai memasuki tahapan berbeda. Biasanya, anak mulai diberi kepercayaan untuk mendapat uang saku bulanan, yang juga mmebuatnya lebih bijak dan cerdik dalam mengatur dana yang diteimanya perbulan. Biasanya mereka mulai memiliki kebutuhan khusus yang terkadang harganya melebihi uang sakunya. Belajar menahan diri menjadi cara untuk mengasah kemampuan membedakan keinginan dan kebutuhan. Hal itu seperti yang didampaikan oleh Psikolog anak dan keluarga Anna Surti Ariani Psi . M.Si. 

Anna juga mengatakan bahwa pendidikan finansial bukan hanya soal uangnya, namun yang terpenting adalah bisa membedakan antar kebutuhan dan keinginan. Kemampuan membedakan inilah akan membantu proses berpikir analitis, antara mahal dan murah, kualitas dan kuantitas pada anak,  dan seterusnya. Jadi untuk menjadi individu yang melek akan finansial, perlu dibiasakan sejak dini. Hal itu akan menghasilkan hidup yang lebih berkualitas.

 

Sumber/foto : Harian Kompas/parents.com