Orangtua Perlu Melakukan Pengelolaan Mainan Anak Secara Bijak

Anak

Mainan merupakan benda yang sangat akrab dengan anak-anak, sejak mereka bayi hingga beranjak remaja benda tersebut selalu menemani mereka. Biasanya orangtua memberikan anak-anaknya mainan sebagai salah satu bentuk kecintaan mereka kepada buah hati, atau juga bisa sebagai bentuk ungkapan apresiasi terhadap  pencapaian anak.

Namun demikian menurut Maggie Dent, pakar pola asuh anak menyatakan sebaiknya para orang tua diharapkan tidak terlalu memanjakan anak, dengan memberikan kepadanya banyak mainan. Karena dirinya sering mendapat keluhan dari para orang tua yang mengaku banyak membelikan mainan untuk anak-anaknya, tetapi si anak hanya memainkan yang itu-itu saja.

Untuk menghindari hal tersebut  Dent menyarankan agar para orang tua untuk mengelola mainan anak dengan baik, seperti menyimpan setiap mainannya tiap beberapa bulan sekali di lemari. Serta mengeluarkannya setelah beberapa bulan kemudian. saran ini dilakukannya dengan mengacu pada sebuah penelitian di Jerman 20 tahun lalu. Saat itu peneliti mencoba menyembunyikan mainan yang ada di sebuah taman kanak-kanak tiap tiga bulan sekali.

Baru sehari mainan itu diambil, anak-anak yang ada di sekolah tersebut tampak bosan dan kebingungan. Namun kemudian mereka mulai menggunakan imajinasinya untuk bermain. Kemudian keesokan harinya mereka sudah bermain-main sendiri, dengan memanfaatkan furnitur yang ada, misal kursi atau lainnya.

Menurut Dent anak-anak memang lebih mudah merasa bosan  terhadap sebuah mainan, namun akan lebih baik bagi orang tua atau dewasa tidak langsung memberikan mainan agar bisa dimainkan oleh mereka. Biarkan mereka termotivasi  untuk mengatasi kebosanan itu dengan menciptakan keseruan sendiri.

Namun hal itu bukan berarti anak tidak diberi mainan sama sekali. Dent mengatakan hal itu bisa dilakukan dengan mengurangi dua-pertiga mainan anak yang ada, dan menyimpannya di gudang. Setelah tiga bulan kemudian mainan tersebut dikeluarkan lagi.

Dengan cara begini orang tua tak perlu membeli mainan baru setiap waktu. Lagipula anak mudah lupa jika pernah punya mainan itu, sehingga ketika melihat mainan yang 'disembunyikan' selama tiga bulan itu, mereka merasa itu mainan baru.

 Ajarkan pula kepada anak untuk terbiasa menyumbangkan sebagian mainan mereka kepada orang lain, sebagai bagian dari pelajaran berbagi. Ketika anak diajari berbagi mereka juga akan memahami, bahwa orang tua tidak selalu bisa memberikan apapun yang diinginkan buah hatinya. Di saat yang bersamaan orang tua bisa melatih anak untuk berkontribusi ketika menginginkan sesuatu.

Dent juga menyarankan agar orang tua tidak  sembarangan memilih mainan untuk anak. Dari berbagai studi disebutkan bahwa kebanyakan dari kita membelikan mainan, yang tidak merangsang kreativitas dan kemampuan anak dalam menyelesaikan . masalah.(Artiah)

 

Sumber/foto: detik.com/digitalistmag.com