Menulis Bisa Meredam Rasa Cemas Berlebihan pada Seseorang

psychology

Bagian sebagian orang, menulis merupakan salah satu hobi yang menyenangkan. Karena dengan menulis mereka dapat mengekspresikan emosinya dalam bentuk tulisan. Terkadang seseorang lebih memilih membuat tulisan ekspresif, yang diakui jauh lebih menyenangkan dari pada membuat tulisan lainnya. Menulis ekspresif sendiri merupakan tulisan yang berasal dari pikiran dan perasaan seseorang, dengan disertai teknik menulis yang baik. 

Namun demikian ternyata menulis ekspresif juga memiliki banyak manfaat bagi manusia,  karena dengan menulis ekspresif manusia dapat membebaskan ruang otak dan membantu fungsi pikiran hingga menjadi lebih efisien. Hal ini disampaikan oleh Hans Schroder, psikolog dan Jason Moser, associate professor psikologi Lab MSU's Clinical Psychophysiology di Michigan, Amerika Serikat.

Dalam sebuah studi yang mereka lakukan terhadap grup yang memiliki hobi  menulis ekspresif, mendapatkan hasil, bahwa seseorang akan melepaskan setiap hambatan emosi yang dialaminya dengan menulis secara bebas tentang pemikiran dan perasaan terdalamnya. Namun hal tersebut harus disertai dengan pemahaman,  bahwa itu tidak akan pernah dibaca oleh orang lain ataupun diupload ke media sosial.

Para peneliti tersebut juga menemukan bahwa melakukan latihan menulis ekspresif delapan menit, akan membantu meredam kecemasan seseorang. Juga mengurangi kesalahan yang berhubungan dengan negativitas. 

"Tulisan ekspresif dapat menyebabkan kekhawatiran 'off-load' dari memori kerja. Serta dapat mengurangi efek kekhawatiran yang mengganggu pada kognisi, sebagaimana tercermin dalam perasaan negatif yang mengalami penurunan”, papar Schroder.

Selain itu dirinya juga mengatakan bahwa dengan menulis tentang perasaan mereka sebelum melakukan tugas yang penuh tekanan, akan dapat membantu mereka yang mmiliki perasaan cemas berlebihan dalam melakukan tugas mereka secara  lebih efisien.

Dalam penelitian ini, mahasiswa yang diidentifikasi memiliki kecemasan berlebihan dibagi menjadi dua kelompok. Setengah dari siswa tersebut melakukan delapan menit tulisan ekspresif, sementara separuh lainnya menulis kronologis dari apa yang telah mereka lakukan sehari sebelumnya.

Kemudian masing-masing peserta melakukan tugas atau kegiatan harian seperti biasa, selanjutnya mereka diukur aktivitas otak dengan menggunakan electroencephalography (EEG).Ini dilakukan untuk mengukur kecepatan dan akurasi pemrosesan kognitif. Mereka yang berada dalam kelompok penulisan ekspresif melakukan tugas harian lebih efisien, dan EEG menunjukkan bahwa mereka menggunakan lebih sedikit sumber daya otak.

Peneliti MSU menyimpulkan bahwa tulisan ekspresif, memiliki potensi untuk meredam dampak  raaasa cemas yang berlebihan yang berpengaruh terhadap fungsi kognitif. Mereka juga berharap studi lanjutan di masa depan, akan menguji kemungkinan penulisan ekspresif lebih jauh lagi.

 

Sumber/gambar: psychologytoday.com//calmhub.com