Tiga Hal Penting dalam Mengembangkan Kapasitas Kepemimpinan Kita

Leadership

Menjadi seorang pemimpin harus selalu dapat mengembangkan diri secara terus menerus, untuk itu mereka dituntut untuk selalu memiliki kemampuan menjaga diri agar tidak jatuh ke dalam zona nyaman. Karena bagi pemimpin, belajar adalah bagian dari hidup mereka.

Semua skill para pemimpin bisa dipelajari. Bagian tersulitnya adalah bagaimana mengindentifikasi skill yang harus kita pelajar untuk menjadi seorang pemimpin yang hebat tadi.  Untuk itu Jeff Boss, pengarang buku Navigating Chaos: How To Find Certainty in Uncertain Situations dan The Chaos Cast Podcast: Leadership Lessons from Chaos memaparkan bagaimana cara menjadi pemimpin, seperti yang didapatkannya saat menjadi anggota Navy SEAL.

Menurut Jeff kepemimpinan bukanlah sebuah titel akademis ataupun posisi. Kepemimpinan adalah tentang kapasitas - yakni seseorang yang memahami dan memiliki pengertian tentang bagaimana cara mencari solusi dari setiap kesulitan yang ada dengan cara belajar dan berani bergerak maju untuk menghadapinya. Berikut ada tiga hal yang bisa menjadi  fkus dalam mengembangkan kapasitas kepemimpinan kita.

Keberanian

Ketika kita memutuskan untuk menjadi pemimpin, ini tentunya membutuhkan keberanian dan arah yang jelas sebagai tujuannya. Hal tersebut bisa dilihat pada contoh pada kasus di  Domino's Pizza pada 2009.

Pada saat itu mereka memiliki masalah besar pada produk mereka, sehingga membuatnya tidak disukai oleh banyak konsumen. Hal tersebut bisa dianalogikan dengan perumpamaan bahwa kita terlibat dalam tembak menembak dengan pesaing, dan celakanya senjata yang ada malah macet. Bagi Domino's problem mereka bukan hanya pada rasa yang tidak disukai oleh pelanggan, namun juga pada pemilihan merk. 

Ryan Berman, Chief Creative Officer dari merek i.d.e.a mengutip Russell Weiner, Presiden Domino's USA dalam bukunya Return On Courage menyebutkan bahwa produk Domino's tidak memiliki peringkat yang baik. Namun percaya atau tidak bahwa produk mereka  tetap bisa diterima oleh konsumen, jika dikemas mempergunakan kotak dari  merek lain. 

"Jadi sesungguhnya yang kita butuhkan adalah keberanian untuk mendengarkan masalah mereka, dan mengatakan hal yang sesungguhnya, " demikian jelasnya.

Kemudian perusahaaan ini membuat keputusan berani melalui serangkaian kampanye iklan bertajuk 'Oh Ya We Did', yang berisikan pesan penting kepada pelanggan bahwa mereka akan mendengarkan setiap keluhan pelanggan dan segera memperbaikinya.  Usaha ini akhirnya berhasil dan bahkan mampu bersaing dengan raksasa bisnis lainnya, seperti Amazon, Google Apple hingga Facebook.

Namun demikian keberanian ddalam  mengambil keputusan tidak akan berarti apa-apa, jika tidak ada kejelasan atau kepastian.

Kepastian

Apabila kita memiliki kejelasan tentang segala sesuatu yang penting, maka kita akan bisa melakukan eksekusi secara persis seperti yang dinginkan. Adanya kejelasan akan dapat menepis segala keraguan yang bisa muncul, tidak perlu menebak apa yang seharusnya dan tidak akan ada lagi pertanyaan tentang tepat tidaknya keputusan yang diambil. Kita akan dapat menyelesaikan pekerjaan tepat pada waktunya, apabila kita memiliki pengertian yang jelas tentang kesuksesan itu seperti apa.

Dengan kata lain kepastian menciptakan pencapaian kerja secara maksimal, baik secara individu maupun kerjasama dalam sebuah tim.  Apabila kita tidak memiliki tujuan dan nilai sebagai pedoman yang jelas pada saat bekerja ataupun menjalani hidup, maka kita akan merasakan ketidakseimbangan yang bisa berujung pada penurunan kinerja. Kepastian yang jelas tentunya akan mampu membawa kita pada kenyamanan dalam bekerja, dan ketika lebih banyak orang terlibat maka akan semakin banyak hasil yang dapat dicapai.

Namun untuk bisa mencapai kepastian, kita harus memiliki rasa keingintahuan yang besar.

Kepemimpinan adalah sebuah koin dengan dua sisi yang berbeda. Seorang pemimpin yang baik harus tahu kapan berbicara dan memberi arahan, namun juga sekaligus mengetahui kapan harus mendengarkan, belajar dan memimpin berdasarkan keinginan untuk mencari pengetahuan yang lebih banyak. Ketika kita memimpin mereka dengan rasa keingintahuan yang besar, maka kita tidak akan hanya mendapatkan wawasan tentang cara mereka berpikir tetapi juga bisa mendapatkan mengenai apa langkah selanjutnya akan ditempuh.   Ini bisa dilakukan antara lain dengan mengajukan beberapa pertanyaan sederhana, seperti apa pendapatmu, bagaimana mungkin kita bisa ataupun bagaimana cara terbaik untuk melaksanakannya. Pertanyaan ini bisa dipergunakan sebagai dasar mereka dan kita untuk terus belajar dan memimpin secara bersamaan.

Sebagai pemimpin kita bisa membimbing mereka untuk maju, namun bisa pula malah menjadi mundur  dan kita juga bisa memimpin orang lain maupun diri kita sendiri. Apapun hal itu tiaklah penting, karena yang terpenting adalah dimana kita akan memposisikan diri dengan berpedoman pada pengertian mengapa kita harus melakukannya dan apa yang harus kita kerjakan.

 

Sumber/foto : forbes.com/