Sandy AE Wiwanto : Seorang Leader Jangan Pelit Berbagi Ilmu

Leadership

INTIPESAN.COM - Menjadi pemimpin yang baik itu tidak mudah, karena mereka harus mampu melakukan apa yang disampaikannya kepada orang lain. Serta mampu menjalankan apa yang diperintahkannya dengan  memberikan contoh  kepada para karyawannya, dan tidak hanya sebatas menyuruh saya. Demikian yang disampaikan oleh Sandy AE Wiwanto, Head of People PT. Indonesia Air Asia (IAA) kepada Intipesan ketika mengunjungi kantor PT. Indonesia Air Asia di Tangerang, Banten pada bulan lalu.

"Orang Indonesia itu gampang kok kalo disuruh. Atasannya bilang ke kiri, maka orang-orang juga akan mengikuti ke kiri," ucapnya.

Selain itu menurutnya menjadi seorang leader yang baik, juga harus bisa mempersiapkan calon leader-leader berikutnya yang bisa menggantikannya. Oleh karena itu leader juga tidak boleh pelit ilmu, jangan khawatir dirinya tidak akan ada nilai tambahnya lagi apabila dia memberikan ilmunya kepada orang lain. 

"Kalau orang sudah menjadi berlian, ditaruh di mana saja tetap berlian. Jadi gak usah khawatir dan pelit  dalam membagi ilmu ke orang lain. Karena ketika dia kasih ilmu ke orang lain, nanti sekian persen akan balik lagi ke dia, sehingga ilmunya bisa bertambah lagi. Itu baru ke satu orang, coba ke banyak orang," Demikian jelasnya lebih jauh.

Pria pengagum Soekarno ini sering melihat, bahwa saat ini banyak leader tidak mau membagikan ilmunya. Mereka rata-rata takut nanti semua orang jadi tahu, padahal seharusnya tidak demikian.

"Jadi, kadang-kadang ada leader yang ilmunya disimpan sendiri. Takut nanti kalau orang lain tahu, dia jadi gak ada nilai tambahnya. Jadi takut nilai nilai jualnya menurun, padahal gak gitu juga.  Share saja," tambahnya.

Dia mengambil contoh perusahaan Tesla yang berani membuka rahasianya, padahal mereka bukan perusahaan otomotif tapi perusahaan aki. Serta mempersilakan perusaan lain untuk memakai teknologi tersebut. Justru dengan dibuka teknologinya, CEOnya akan berpikir bahwa nantinya orang lain akan menyempurnakan teknologinya, sehingga kelak di kemudian hari akan makin sempurna. Andaikata teknologinya tersebut tidak dibuka, maka bisa saja dikatakan itu sebagai tindakan bunuh diri. Karena ilmunya akan mandek, timnya tidak terchallenge dan  orang luar tidak bisa mengembangkan lebih banyak.

"Seharusnya setiap leader bersikap demikian dalam memimpin industri, karena dengan sharing ilmu justru produknya akan semakin berkembang lebih tinggi lagi. Jadi gak usah bergaya feodal," tutupnya.(Manur)