Richard Branson : Pemimpin dengan Jiwa Petualang

Leadership

Richard Branson dikenal sebagai seorang pengusaha eksentrik dari serangkaian perusahaan terkenal, mulai dari Virgin Atlantic Airways hingga Virgin Hotels. Dirinya dikenal juga sering melakukan  serangkaian aksi spektakular, di bidang penjelajahan yang berkaitan dengan bisnisnya. Setidaknya lebih dari sekali ataupun dua kali, Branson  harus diselamatkan akibat aksi yang dilakukannya tersebut.

Richard Branson  dirinya secara diam-diam memproklamirkan sebagai “adventure capitalist,” entah untuk tujuan promosi atau tidak.   Namun kesan eksentrik dalam dirinya terlihat dari perilaku yang dipertontonkannya, termasuk dalam mengelola perusahan-perusahaannya.

“Saya tidak berbisnis dengan tujuan untuk memupuk kekayaan.  Saya melakukannya karena tidak puas melihat orang lain melakukan usaha,” ujar Richard Branson, pada suatu ketika.

Menurut catatan pada 1985, ia harus diselamatkan dari kapal motornya, Virgin Challenger,  yang terombang-ambing di tengah lautan.   Tidak jera, tahun berikutnya ia menyeberangi Lautan Atlantik  dengan kapal motor serupa, Virgin Challenger 2, yang ngebut dengan kecepatan yang tak tertandingi.    Pada 1987, Branson menjadi orang pertama yang menyeberangi Lautan Atlantik menggunakan balon udara.  Tahun 1991, ia kembali membuat berita ketika menyeberangi Lautan Pasifik dari Jepang menuju Artik Kanada juga dengan balon udara.  Sejak itu ia telah tiga kali berusaha untuk keliling dunia menggunakan balon udara tetapi usahanya selalu gagal.   

Itu semua adalah petualangannya, lantas bagaimana caranya memimpin bisnis yang dikelolanya ? Sebagian besar orang mengenal Branson sebagai CEO yang tidak memiliki  kantor pusat, dan lebih senang mengendalikan usaha dari rumahnya di Holland Park, London Barat. Dirinya bahkan terkenal sebagaai pimpinan yang tidak pernah melakukan rapat dengan direksi, tidak dapat mengoperasikan komputer.  Ia masih mencatat  janji untuk ketemu klien  di dalam buku hariannya, serta memiliki kebiasaan  menuliskan gagasan-gagasannya secara acak-acakan di kertas.

Kendati demikian pengusaha pemberani yang sering membuat kejutan ini berhasil membesarkan usahanya dengan nama Virgin.  Praktik bisnis dan manajemennya yang antik telah menciptakan kerajaan bisnis senilai 5 milliar dollar, mulai dari toko baju perkawinan  hingga maskapai penerbangan.

Membuat Majalah

Branson memulai debut bisnisnya pada 1967, ketika ia keluar dari sekolah dan memulai membuat sebuah majalah.  Branson berharap majalahnya yang diberi nama Student, dapat menjadi corong bagi aktivis muda.   Ketika edisi pertama majalah itu keluar pada 1968, kepala sekolah Stowe, tempat ia bersekolah, menulis tentang Branson dengan kata-kata yang bernada ramalan “Selamat Branson.  Saya menduga kau kalau tidak akan masuk penjara ya akan jadi milliuner.”   Ternyata dua hal itu memang terjadi atas diri Branson.

Meskipun majalah itu berhasil mewawancarai orang-orang hebat seperti Jean-Paul Sartre, novelis James Baldwin dan Alice Walker, serta sastrawan Robert Graves, majalah itu tidak juga mendatangkan untung.    Lalu Branson mencari akal dengan menjual piringan hitam (alat perekam musik pada zaman itu, sebelum muncul kaset, sebelum muncul MP3)  lewat pos dan menjualnya dengan harga diskon.  Ia mengiklankan produknya melalui majalahnya  Student.  Ternyata penjualan musik rekaman lebih laris ketimbang majalahnya. 

Untuk mengeksploitasi lebih lanjut pasar baru yang ditemukan ini, Branson menyewa sebuah ruang di atas toko sepatu, memindahkan karyawan  Student ke sini, menaruh rak-rak untuk memajang  rekaman-rekaman musik  dan membuka toko musik berdiskon.  Ia memberi nama toko itu Virgin karena setiap orang yang terlibat dalam usaha itu masih baru atau awam.

Pembukaan toko musik ini agaknya merupakan jalan terbuka bagi usaha Branson.  Tetapi usahanya ini lagi-lagi menghadapai tantangan.  Ia dianggap menghindari pembayaran pajak dan harus masuk penjara, karena tidak mampu melunasi utang pajaknya.    Melalui negosiasi akhirnya ia dikeluarkan dari penjara dan berjanji melunasi utang pajaknya dalam waktu tiga tahun.   Belajar dari pengalaman itu, lalu Branson mulai menerapkan laporan keuangan secara benar termasuk untuk penghitungan pajaknya.

Petualangan wirausaha Branson berikutnya adalah pada 1973 ketika ia mendirikan perusahaan rekaman Virgin Record, dan mengeluarkan album Mike Oldfields berjudul “Tubular Bells.”  Lagu ini segera menjadi top hit dunia dan menempatkan Virgin Record dalam peta industri rekaman.  Perusahaan rekaman itu mulai melesat pada 1977.  Kendati sudah diperingatkan Branson tetap mau merekam lagu berjudul Sex Pistols, yang sebelumnya sudah ditolak oleh dua perusahaan rekaman lainnya.  Album Pistols kurang laris tetapi Virgin Records berkembang, bahkan menjadi perusahaan rekaman independen terbesar yang selalu dihampiri oleh pemusik-pemusik berkelas dunia seperti The Rolling Stones, Peter Gabriel, UB40, Steve Winwood dan Paula Abdul.  

Melawan British Airways

Hingga 1983, kerajaan bisnis Branson telah merambah kemana-mana menjadi 50 perusahaan, mulai dari pembuatan film hingga pembersih pendingin ruangan dan secara total mencatat penjualan sebesar 17 juta dollar.   Untuk tahun 1980-an angka itu merupakan jumlah yang besar.   Tetapi menurut Branson, uang bukanlah pendorong baginya untuk melakukan berbagai usaha.  Prinsip dia dalam memasuki suatu bisnis baru adalah ia ingin mengerjakannya secara lebih baik daripada orang lain.   Dan pada 1984, Branson masuk ke dalam bisnis yang menjadi tantangan terbesarnya  dengan mendirikan maskapai penerbangan Virgin Atlantic.

Teman-teman Branson berpendapat ia gila.  Mendirikan maskapai penerbangan melintas Samudera Atlantik artinya dia harus bersaing dengan British Airways, perusahaan besar yang sudah lama melintasi lautan.  Tapi Branson maju terus.  Maskapai lain termasuk British Airways dinilainy tidak lagi tanggap terhadap kebutuhan pelanggan.  Jika ia memiliki maskapai yang memungkinkan orang terbang dengan harga terjangkau dan pengalaman menyenangkan, maka ia yakin dapat mengalahkan mereka.

Respon awal terhadap Virgin Atlantic ternyata luar biasa. Maskapai itu dikenal karena pelayanannya yang bagus, dan kenyamanan yang mengesankan termasuk pijat di dalam pesawat, mandi sauna, es krim gratis selama pemutaran film dan layar video di setiap kursi apapun kelasnya.  Tapi awal 1990-an  menjadi saat genting bagi perusahaan yang baru naik daun itu.  Ekonomi dunia mengalami resesi.  Harga bahan bakar avtur meningkat dua kali lipat.  Orang juga agak takut bepergian karena ancaman terorisme.   Keadaan semakin parah, British Airways melancarkan upaya secara diam-diam untuk memaksa Branson keluar dari bisnis ini.

Pada 1992, kondisi keuangan Virgin Atlantic begitu terguncang sehingga para bankir Branson memaksa dia menjual Virgin Records, perusahaan rekamannya, ke Thorn-EMI agar maskapainya tetap bisa terbang.  Penjualan itu bernilai 1 milliar dollar sehingga cukup bagi Branson untuk melunasi utang-utangnya sambil mengembalikan lagi posisi maskapainya.  Tapi Branson telah kehilangan perusahaan rekaman yang sangat ia cintai dan berjanji tidak mau lagi mengandalkan pada bank.

Menjual Nama Virgin

Akhirnya ia mengembangkan pendekatan bisnis baru yang disebutnya “branded venture capital.”   Strategi yang mengejutkan ini telah memungkinkan Branson meluncurkan suatu konsep bisnis dengan memanfaatkan nama besarnya untuk menarik penanam modal.   Kunci dari strategi ini adalah dengan menjual lisensi terhadap nama Virgin.  Prinsipnya, Branson yang akan mengelola usaha menggunakan bendera Virgin pada nama perusahaan baru hasil kerjasama tersebut, sementara mitranya yang kaya akan menyetor duit.

Strategi ini manjur.  Kini Branson memiliki saham di lebih dari 200 perusahaan, termasuk dua perusahaan penerbangan. Perusahaan-perusahaan itu antara lain Virgin Interactive Entertainment, Virgin Radio, Virgin Studios, Virgin Hotels, Virgin Bridals, Virgin Clubs, Virgin Cola, Virgin Publishing, Virgin Vodka, Virgin Net, Virgin Megastore,  V2 (perusahaan rekaman), perusahaan asuransi, perusahaan penasihat keuangan, biro model, dan keretaapi cepat Eurostar, dan lain-lain.  

Namun demikian rupanya ia belum berhenti berekspansi.  Rencana Branson ke depan termasuk di antaranya adalah jasa pelayanan pesawat ulang-aling ke angkasa luar.  Ia pernah mengatakan dalam wawancara dengan Forbes, 

“Hal itu merupakan wilayah Virgin.” ujarnya bersemangat. (Eko W)

 

Sumber/foto : entrepreneur.com/virgin.com