Lima Keterampilan Memimpin Menurut John Ryan

Leadership

John R Ryan adalah presiden dan CEO Center for Creative Leadeship, sebuah organisasi non-profit yang mendedikasikan pada pelatihan eksekutif perusahaan.  Ia sering menulis untuk BusinessWeek.com dan Forbes.com.  Sebelumnya ia juga bekerja di State University of New York dan berdinas di AL AS.  Ia pensiun dari AL dengan pangkat laksamana muda, setelah berdinas 35 tahun sebagai pilot pesawat dan mengomandani skuadron tempur di Asia, Eropa dan Timur Tengah.  Berikut adalah salah satu artikelnya tentang kepemimpinan.  Apa saja keterampilan yang harus dimiliki oleh pemimpin?

Keterampilan 1. Kerja Tim dan Kolaborasi

Riset yang dilakukan oleh Christ Ernst, pengarang “Boundary Spanning Leadership,” mendapati bahwa 86 persen eksekutif yang disurvai menyatakan kemampuan untuk bekerja melintasi demografi, geografi, pemangku kepentingan (stakeholder), dan batasan-batasan yang lain adalah “sangat penting.”  Namun, hanya 7 persen saja yang mengaku menjadi pemimpin efektif  dalam mengatasi besarnya jangkauan tersebut.

Senjang yang begitu lebar (dari 86 persen hanya 7 persen yang berhasil), merupakan peluang yang sangat disayangkan.  Seperti yang ditunjukkan dalam riset Christ tersebut, mencapai perbatasan-perbatasan yang jauh bukan saja merupakan suatu tantangan.  Ia juga membuka peluang memperluas sudut pandang,  menerapkan keterampilan kolaboratif baru dan model perilaku yang diperlukan untuk mendorong transformasi di dalam organisasi.  Contoh nyata adalah pada Alan Mulally, eksekutif yang dulu pernah menanjak di perusahaan pembuat pesawat terbang Boeing.   Ia dinasihati bosnya pindah dari divisinya dengan maksud agar dapat memiliki pandangan lebih luas yang akan berguna untuk menjalankan roda keseluruhan organisasi.  

Benar.  Ia kemudian tidak lagi dinilai sebagai eksekutif yang eksklusif, ia berupaya keras untuk memperkecil batas-batas dengan sesama pimpinan yang lain.  Pada awalnya ia memang agak sulit untuk bekerjasama dengan orang lain tapi dengan kesadaran diri, maka ia berhasil mengalahkan egonya.  Namun demikian, manfaat dari kerja secara kolaboratif itu baru ia rasakan hasilnya setelah pindah kerja di perusahaan mobil Ford, dimana ia berhasil mengubah budaya  dan menghasilkan kinerja pada level yang lebih tinggi.

Kone, sebuah perusahaan yang memproduksi elevator dan eskalator, juga telah membuktikan pentingnya bekerja dalam tim.  Termasuk sebagai pemimpin dalam industrinya, divisi Amerika perusahaan itu ingin memperbesar bagian pasar dan memandang bahwa kepemimpinan sebagai jawabannya.  Perusahaan lalu mengirim sekitar 250 orang eksekutifnya mengikuti pelatihan di Center for Creative Leadership (CCL), untuk menyiapkan fondasi yang kuat di bidang keterampilan kepemimpinan individu.  

Memiliki pemimpin individual bukan berarti mereka akan tahu bagaimana bekerja sama.  Karena itu langkah berikutnya adalah pelatihan pengembangan kapasitas kepemimpinan untuk menjangkau seluruh organisasi. Mereka perlu menciptakan tim strategi antar-fungsi yang akan memperbaiki kolaborasi di seluruh jajaran organisasi.Mereka mulai menekankan kepemimpinan, kerja tim dan akuntabilitas pada setiap level.  Dan dampaknya: bagian pasar (market share) dan keuntungan perusahaan meningkat signifikan, kecelakaan kerja turun hingga 70 persen dan kepuasan pelanggan naik tiga kali lipat.

Keterampilan 2 – Inovasi dan Kreativitas

Perusahaan IBM pernah menanyai sebanyak 1 500 eksekutifnya di seluruh dunia dengan pertanyaan: Apakah keterampilan kepemimpinan yang paling utama dalam situasi yang kompleks?  Jawaban mereka adalah:  kreativitas.  Seperti telah dinyatakan oleh guru besar dari Harvard Business School, John Kotter, perusahaan sering mengharapkan adanya perubahan besar setiap tahun.  Perubahan itu - dapat berupa merjer atau masuk ke pasar yang baru – akan memunculkan tantangan-tantangan.  Kini kita hidup dalam dunia yang terus berubah secara besar-besaran.  

Resesi-resesi yang terjadi dalam perekonomian dunia hanya dapat diatasi melalui kreativitas atau kemampuan berinovasi.    Bukan hanya untuk bertahan hidup, inovasi bahkan dapat merupakan tonggak pertumbuhan, dan seringkali itu bukan berasal dari gagasan individu yang sifatnya kebetulan.   Inovasi umumnya mucul dari kerja kolaboratif yang terus dilakukan.  Masalahnya, apakah organisasi kita memfasilitasi terjadinya kolaborasi?  

Dalam menghadapi tantangan baru dan kompleks, kita sering kali langsung kembali pada pemikiran bisnis tradisional, yang berdasar atas riset, dan rumus-rumus dan fakta logis.  Tentu saja pendekatan itu bermanfaat.  Tapi dia juga memiliki keterbatasan.  David Horth dari CCL mengutip seorang eksekutif yang mengatakan untuk mendapatkan hasil yang berbeda, kita perlu melengkapi pemikiran bisnis dengan pemikiran inovatif, dengan membayangkan kondisi masa depan yang diinginkan dan memetakan cara bagaimana untuk mencapainya.  Memang ini berkaitan dengan ketidakpastian dan mengeksplorasi beberapa kemungkinan dan menanyakan tentang “Bagaimana kalau?” 

Kita semua dapat mengembangkan keterampilan berpikir inovatif.   Salah satu cara bisa dimulai dengan mencari tahu apa yang ada di benak konsumen.  Tidak hanya melakukan survai pasar tapi juga pergi dan melihat bagaimana mereka hidup dan memakai produk.  Ketika ia bekerja di Procter & Gamble, Dan Buchner dan aggota timnya mengamati di rumah konsumen bagaimana mereka mencuci.  Hasilnya adalah produk-produk baru yang sesuai dengan keinginan pelanggan. Apakah mereka mendapatkan itu lewat survai online?  

Cara kedua untuk berpikir inovatif adalah membuat prototipe secara cepat.  Hentikan analisis yang berkepanjangan.  Buat produk atau jasa baru dan uji di pasar.  Memang akan ada kegagalan.  Tapi suksesnya pasti ada.  

Keterampilan 3 - Komunikasi

Sebagai seorang eksekutif, tentu mudah bagi Anda untuk menyetop pembicaraan dengan orang lain di perusahaan.  Mungkin Anda hanya sekali-kali saja ngobrol dengan orang lain, dan jarang mendengarkan apa kata konsumen atau karyawan.  AG Lafley, CEO Procter & Gamble yang kini sudah pensiun, selama sembilan tahun memimpin P&G merupakan seorang komunikator yang tidak kenal lelah.  Ia selalu mengingatkan bahwa “Pelanggan adalah raja.”  Ia seorang maha pendengar, ia datang ke rumah pelanggan, ikut mereka berbelanja ke toko, sehingga dijuluki Chief Listening Officer.  

Ia paham untuk mendapatkan gagasan yang baik dapat dari siapa saja.  Lafley merupakan contoh yang bagus bagi kita.  Meluangkan waktu untuk mendengarkan dan mempelajari sesuatu dari pelanggan dan rekan kerja - khususnya yang berada di lini depan – karena mereka mendengar apa yang dikatakan pelanggan setiap hari.  

MenurutJohn R. Ryan, ternyata banyak organisasi kurang peka terhadap masalah komunikasi.  Mereka sangat bagus di level atas, artinya tim eksekutif dan manajer senior paham apa visi dan strategi dari CEO.  Tetapi begitu melihat lebih jauh ke dalam organisasi akan ditemukan hal yang membingungkan.  Manajer menengah dan karyawan lini depan berkali-kali tidak dapat memadukan tindakan sehari-hari mereka demi untuk mencapai strategi perusahaan – bahkan mereka juga tidak peduli bagaimana strategi perusahaan.  Apakah ini terlihat biasa?  Ingat bahwa ini bukan kesalahan mereka.   Adalah para pemimpin yang kurang mengomunikasikan dan memberi contoh ke seluruh lini dalam organisasi. 

Keterampilan 4 – Kegigihan untuk Belajar

Agar berhasil di dalam bisnis yang selalu berubah, tantangannya seringkali tidak dapat diramalkan dan kompetisi terus meningkat, maka kita harus gigih belajar.  Kita perlu menerapkan pengetahuan baru untuk mengatasi tantangan-tantangan yang muncul.  Ada riset tentang ilmu saraf(neuroscience) yang akan memberikan rasa percaya diri dan memampukan kita untuk berhasil.  Otak manusia konon adalah lentur seperti plastik.  Maksudnya kita dapat mempelajari dan memiliki perilaku baru dan mengubah perilaku kita kapan saja, tidak tergantung umur.  Dulu kita sering mendengar, orang yang sudah tua perilakunya sulit diubah.  Seolah-olah perilaku sudah terbentuk dan membatu.    

Pemimpin berapa pun umurnya perlu mempelajari keterampilan baru – dan membawa organisasinya ke level yang lebih tinggi.   Guru besar psikologi Carol Dweck menemukan bahwa setiap orang dapat dikelompokkan ke dalam dua kategori. Mereka yang memiliki sudut pandang pertumbuhan (growth mindsents) percaya masih memiliki cadangan potensi yang belum digali.  Sebaliknya, mereka yang memiliki pandangan mandeg (fixed mindset) berserah hanya mampu melakukan sesuatu secara alamiah saja  sesuai dengan talenta yang dimiliki, bukan terus bekerja keras.   

Apakah Anda memberi kesempatan kepada karyawan atau karyawati Anda untuk maju?  Atau Anda melihat bahwa potensi mereka terbatas saja?

Apa yang disampaikan oleh John R. Ryan, penulis artikel ini mungkin menarik disimak.  Ketika berdinas di AL, ia belajar bagaimana menerbangkan pesawat.  Di bawah pengarahan pelatih, ia segera menguasai bagaimana cara takeoff, landing dan membentuk formasi terbang.  Lalu pelatih mengatakan bahwa tahap berikutnya adalah mendaratkan pesawat di atas pesawat yang lain, yaitu pesawat pengangkut.  Setelah beberapa minggu melakukan simulasi di landasan normal,  saat yang dinanti tiba.  Saatnya mendaratkan pesawat di atas pesawat pengangkut.  Tidak boleh ada kesalahan apa pun.      Pilihannya adalah membawa pesawat Anda turun dan secara tepat meletakkannya di atas pesawat yang lain.  

Sesungguhnya latihan di darat tidak seratus persen persis, karena pendaratan dilakukan di atas pesawat yang sedang berada di laut.  Anda harus memperhitungkan kecepatan angin, selain itu kapal juga terguncang-guncang oleh ombak.   Anda harus betul-betul cermat, tapi juga tanggap dan bereaksi cepat.  Anda harus memiliki rasa percaya diri yang berasal dari pengetahuan yang telah dielajari, beradaptasi dan tidak takut melakukannya.   

Keterampilan 5 – Membuat Keputusan (Judgment)

Membuat keputusan (judgment) merupakan inti dari kepemimpinan.  Secara fundamental, itulah tugas paling penting.  Itu bagaikan memberikan kepastian terhadap situasi dunia yang tidak jelas/ membingungkan.  Pengambilan keputusan sebaiknya diawali dengan kerendahan hati (humility), yang mengingatkan bahwa kita bukanlah maha tahu, kita juga tidak lebih besar daripada organisasi tempat kita bernaung.  Banyak pemimpin di sektor publik maupun swasta sering lupa akan kenyataan tersebut.   Dan kepemimpinannya malah mengakibatkan kehancuran organisasi, menghancurkan kariernya dan menciptakan gonjang-ganjing ekonomi.  

Jika Anda tidak tahu segala hal dan kepemimpinan Anda adalah untuk melayani orang lain, maka aspek pengambilan keputusan berikutnya akan mengikutinya.  Apa itu?  Anda harus mengidentifikasi peran paling penting di dalam organisasi, dengarkan mereka yang menjabat di situ.   Banyak organisasi ukurannya begitu besar sehingga tidak mungkin bagi Anda  untuk berinteraksi dengan semua orang.   Karena itu Anda harus yakin dan percaya kepada 30 – 40 persen orang yang menduduki posisi penting di bawah Anda.  

Ketika salah satu dari posisi jabatan tersebut lowong, jangan tergesa-gesa mengisinya.  Cermatlah dalam memilih pengganti.  Ini juga akan membawa kita kepada aspek berikutnya dalam pengambilan keputusan: kesediaan untuk mengakui kesalahan dan segera merevisinya.  Setelah kita selesai mengangkat orang untuk mengisi jabatan yang lowong, seringkali kita ragu-ragu untuk mencopot mereka.      Jangan menunggu terlalu lama, setelah sadar bahwa Anda telah memilih orang yang salah di posisinya.   Tidaklah adil banyak orang harus menjadi korban dari perilakunya.  (Eko W)

 

Sumber/foto : ccl.org/challengesforum.org