Manfaat Kecerdasan Emosional bagi Pemimpin

Leadership

Shawn Overcast, yang telah berkecimpung di bidang human capital di berbagai sektor industri, mulai dari UMKM hingga perusahaan yang masuk ke dalam daftar  Fortune 100, menemukan pentingnya seorang pemimpin memiliki kecerdasan emosional.   Kecerdasan emosional menjadi semakin diakui dalam bisnis sekarang ini, selain tentunya penguasaan teknis industri yang dimasuki.   Penguasaan hardskill saja dirasakan kurang lengkap, perlu ada softskill.

Selama bertahun-tahun, kenaikan pangkat atau promosi umumnya diberikan kepada karyawan yang paling ahli secara teknis.  Perusahaan mengandalkan pada orang-orang yang memiliki  pengetahuan industri secara spesifik, karena itu masuk akal ia melakukan promosi berdasarkan pada keahlian yang dikuasai.   Tapi, katanya, waktu telah berubah.  Pada suatu waktu dalam sejarah, kelihaian di bidang teknis mulai ketinggalan dibandingkan dengan keterampilan hubungan antar-manusia dan kecerdasan emosional.  Kenyataannya, studi belum lama ini oleh Harris Poll mendapati bahwa 77 persen pengusaha percaya bahwa “keterampilan lunak” (soft skills) adalah sama pentingnya dengan talenta yang langsung berkaitan dengan fungsi pekerjaan tertentu.

Shawn Overcast, seorang mitra di gothamculture.com, yang juga pakar di bidang pengembangan organisasi dan hubungan antar-manusia, mendapati hal berikut.  Ia menyaksikan adanya perpindahan ke penguasaan soft skills ketika sedang bekerja bersama seorang eksekutif wanita yang meningkat kariernya karena kemampuannya di bidang teknikal.  Keahlian teknis yang dimilikimenjadi pintu masuk baginya untuk meraih jabatan sebagai pemimpin, tetapi kemudian ia merasa ada yang “nggak nyambung” (a bit of a disconnect).

Peran barunya membuat dia harus memimpin suatu tim, dan instingnya adalah mengambil alih acap kali ada anggota tim yang mengusulkan pemecahan suatu masalah.  Ia akan kembali pada pengalaman bertahun-tahun sebelumnya untuk memberikan jawaban yang menurut dia paling baik.    Setiap orang akan selalu dipengaruhi oleh masa lalunya dalam mengambil keputusan.   Secara perlahan-lahan hal ini membuat setiap orang yang dipimpinnyamulai menggantungkan pada dirinya setiap kali menghadapi masalah.    Ia terus “menunjukkan jalan” tetapi kemudian mulai menghadapi perlawanan dan membuatnya turun semangat, ujung-ujungnya bagian HR menerima masukan negatif perihal kepemimpinannya. 

Ia telah membangun karier berdasaratas keahlian teknisnya, tetapi pengukuran kinerja tidak lagi bergantung pada kemampuan tersebut.  Keberhasilan sebagai pemimpin sekarang dicapai melalui kemampuannya membangun hubungan, mengembangkan karyawan dan memotivasi tim berkinerja tinggi.

Dengan kata lain ia ketinggalan dengan apa yang perusahaan sekarang sedang gandrung: kecerdasan emosional.  

Apakah Kecerdasan Emosional (Emotional Intelligence)?

Sebelum menjawab itu kita akan melakukan tes untuk mengukur kecerdasan (IQ-Intelligent Quotient), mendaftar di kelas psikotes dan melakukan studi untuk memahami apa maksud hasil tesnya.  Untuk semua kesulitan itu, ternyata kecerdasan bukanlah prediktor sempurna terhadap kinerja.  

Lalu muncullah Daniel Goleman yang  menulis buku Emotional Intelligence (EI) pada 1995.  EI atau kecerdasar emosional adalah kemampuan untuk mengendalikan diri, emosi diri dan juga perasaan serta emosi orang lain.  Kemampuan inilah yang kemudian digunakan untuk memandu pikiran dan tindakan kita.  EI memang penting dalam interaksi sosial sehari-hari.  Tapi bagaimanakah hal itu dapat terkait dengan bisnis?

Begitu kita menjalankan peran sebagai pemimpin, kita akan diamati oleh banyak orang.  Para pimpinan secara langsung harus bertanggungjawab terhadap keberhasilan perusahaan.  Banyak hal yang harus dilakukan oleh pemimpin adalah berhubungan dengan rekan-rekan kerja dan bawahan.  Karena itu tidak mengherankan kalau 71 persen manajer dan profesional HR  lebih menekankan Emotional Quotient (EQ)  daripada Intelligent Quotient (IQ).  

Para pemimpin yang mampu mengenali emosi yang mana hal itu juga akan memengaruhi perilakunya adalah mereka yang mampu mengendalikan impuls dan mengatasi perubahan. Dan para manajer yang paham akan emosi, kebutuhan, dan perhatian terhadap orang lain cenderung akan menikmati hubungan yang lebih baik.  Kinerja bukanlah sekadar keahlian teknis – hal itu berkaitan dengan kemampuan untuk berhubungan dengan orang.

Manfaat Memiliki Kecerdasan Emosional

Tidak ada dua pemimpin yang sama, karena setiap orang memiliki keterampilan dan pengalaman yang berbeda.  Seperti telah dinyatakan bahwa EI adalah diperlukan dalam dunia kerja modern.  Para pemimpin yang mengedepankan EI akan menuai manfaat bagi perusahaannya.  Apa saja manfaatnya?

Memperbaiki Manajemen-Diri (Improved Self-management)

Dengan menyadari perilaku dan juga reaksi Anda sendiri, hal itu akan menambah khasanah pada teknik-teknik penguasaan diri.  Daripada dibelenggu oleh emosi, Anda dapat memanfaatkan emosi sebagai alat strategis dalam berkomunikasi.  Kemampuan untuk menahan diri ini penting ketika kita melakukan kegiatan pendampingan (coaching) atau bekerja untuk menginspirasi dan memotivasi orang lain.   Seorang eksekutif wanita yang tadi disebutkan, berusaha keras untuk membangun tim karena ia tidak memberdayakan orang lain untuk berkembang.

Perilaku ini menghancurkan percaya diri  dari anggota timnya, dan mereka menjadi sangat tergantung pada arahan dia untuk setiap hal yang harus dilakukan.  Sebetulnya ia sudah mulai meningkatkan kesadaran dirinya  dan mencoba untuk mengendalikan emosinya,  dan karyawan juga tahu mereka telah diizinkan untuk datang kepadanya ketika sedang berada dalam “zona belajar.”

Komunikasi yang Lebih Baik

Sebuah tim kepemimpinan yang memahami apa yang membuat orang dapat berperilaku sesuai dengan perkataanya akan menghasilkan interaksi yang  lebih efektif.  EQ  yang tinggi juga membuat orang lebih sadar diri, memungkinkan dirinya  memeroleh pemahaman mendalam terhadap kekuatan dan kelemahan orang lain.   Oleh karena itu, mereka yang memiliki EQ tinggi  umumnya juga lebih terbuka terhadap umpan balik dan pembelajaran.  

Klien lain yang dibantu Shawn Overcast dalam mengatasi masalah pribadinya, menyatakan bahwa usahanya untuk lebih sadar diri (self-aware) memberinya keberanian untuk berhubungan dengan pihak lain.  Ia dapat bertukar pikiran dengan pejabat di atasnya dan juga dengan rekan kerja tentang hal yang ia perlukan untuk pengembangan diri.  Kecerdasan emosinya terus meningkat – dan keberanian untuk berbagi cerita – membuka keberlanjutan umpan balik terus-menerus dan pengembangan terhadap perusahaannya.

Empati yang Meningkat

Empati (kemampuan memahami perasaan orang lain) diperlukan untuk menginspirasi, memotivasi, dan berhubungan dengan rekan kerja.  Dengan menjadi lebih sadar dan paham bagaimana perasaan orang lain dalam berbagai situasi, Anda akan dilengkapi secara lebih baik untuk mengurangi kegelisahan dan stres di dalam tim.   Intinya adalah pembelajaran untuk mengendalikan emosi Anda akan memungkinkan Anda membantu orang lain mengelola emosi mereka.  Setelah mampu menguasai diri, baru kita dapat membantu orang lain melakukan hal yang sama. 

Memang keterampilan teknis tetap diperlukan dalam dunia kerja modern sekarang ini, tetapi kecerdasan emosional tampaknya menjadi pembeda bagi anggota tim untuk dapat menaiki tangga lebih tinggi untuk menjadi pimpinan perusahaan.   Kemampuan EI dapat membawa pada komunikasi yang lebih baik, memperbaiki manajemen diri, dan membuat diri kita lebih memiliki empati.  Upaya untuk membangun EI memang penuh tantangan, tetapi usaha itu tidak akan sia-sia.  Akan banyak manfaat didapat dengan kemampuan mengendalikan emosi tersebut.   (Eko W)

 

Sumber/foto : gothamculture.com/centreofexcellence.com