Menelisik Karakter Dalam Kepemimpinan Nelson Mandela

Leadership

Dalam kepemimpinan karakter selalu lebih penting dibandingkan dengan strategi, hal tersebut setidaknya bisa dilihat pada kepemimpinan Nelson Mandela sebagai salah satu tokoh politik anti-apartheid yang terkenal dari  dari Afrika Selatan. Selain itu juga diperlukan lebih dari satu pemimpin heroik di level atas, untuk dapat mengubah arah suatu institusi atau suatu bangsa. Demikian  pernyataan yang disampaikan oleh Brian Bacon kontributor pada oxfordleadership.com.

Lebih jauh dijelaskan dalam mengubah arah suatu institusi atau suatu bangsa, diperlukan   lebih dari satu pemimpin heroik di level atas. Bahkan dengan salah seorang pemimpin yang paling berani dan kharismatis di puncak, diperlukan lebih dari satu generasi untuk dapat menggerakkan mayoritas populasi dari kemiskinan menuju ke masyarakat kelas menengah.   Untuk mengubah/mentransformasi suatu bangsa  (atau suatu perusahaan yang besar tentunya), pemimpin inspiratif yang menerima tanggungjawab guna melakukan transformasi. Ini tidak hanya diperlukan di level atas, tetapi juga di level-level bawahnya.  

Kurang lebih 20 tahun setelah berakhirnya rezim diskriminasi kulit (apartheid), warga Afrika Selatan masih mencari model kepemimpinan baru untuk melanjutkan cita-cita Nelson Mandela di tengah-tengah meningkatnya berbagai permasalahan, termasuk merebaknya korupsi di pemerintahan, tingkat pengangguran yang mencapai 40 persen, sekolah negeri yang rendah mutunya,  tingkat kemiskinan dan penularan HIV serta AID yang tinggi.  Tantangan-tantangan ini tidak akan dapat dipecahkan hanya oleh kepemimpinan  top-down, yang inspiratif sekalipun.  Hal-hal itu hanya dapat diatasi melalui para pemimimpin yang serius mencari solusi mengatasi korupsi dan mengkader para pemimpin yang akan membuat sesuatunya menjadi kenyataan di setiap level institusi pada bangsa tersebut.

Kendati Nelson Mandela telah dianggap sebagai pemimpin terpenting dalam perjuangan anti-diskriminasi kulit. Bahkan ada yang meragukan bahwa Mandela akan dikenang sebagai seorang yang membawa perubahan  besar  (a great transformer), hanya karena ia gagal melakukan  perubahan di bidang ekonomi dan sosial dari mayoritas masyarakat.  Beberapa penelitian bahkan memperlihatkan warga berkulit hitam Afrika Selatan mengalami  penurunan di bidang ekonomi dibandingkan dengan zaman apartheid.  Yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin.  Terlepas dari segala keberhasilannya, Nelson Mandela tampaknya kurang mampu mengembangkan para pemimpin di sekitar dirinya yang memiliki moral seperti dirinya atau bahkan lebih baik lagi.    

Warisan kepemimpinannya telah dinodai oleh budaya rakus dan korupsi di partai yang berkuasa, pada setiap level pimpinan.  Tentu Mandela tidak dapat dipersalahkan secara langsung, tetapi ia boleh dong dikritik karena tidak menegur para pemimpin partai senior yang memperkaya diri di tengah kemiskinan rakyat di Afrika Selatan.

Kenyataannya, setelah tidak lagi menjabat dan meninggalkan panggung politik, institusi yang ditinggalkan Mandela menjadi terpuruk.  Mereka memang masih berjuang tetapi belum menemukan formula.   Para pemimpin besar semestinya mengembangkan pemimpin besar pula, sehingga ketika ia turun, institusi yang ditinggalkannya menjadi lebih baik, bukan sebaliknya.  

Seperti halnya Mandela, para pemimpin besar dan kharismatis seperti Ibu Teresa, Mahatma Gandi, dan Martin Luther King dapat menginspirasi kita dengan kepribadiannya yang luar biasa, tetapi mereka tidak menyiapakan  perangkat  yang berguna untuk melakukan transformasi institusi.  Setelah para pemimpin ini pergi, institusinya menjadi semakin melemah.  Warisan terpenting dari seorang pemimpin adalah meninggalkan para pemimpin besar juga yang akan melanjutkan dan membawa institusinya ke level yang lebih tinggi.

Sedangkan mengenai pentingnya karakter dengan strategi, Brian Bacon menjelaskan bahwa Jenderal H Norman Schwarzkopf pernah mendefinisikan kepemimpinan sebagai gabungan yang kuat antara strategi dan karakter. Namun apabila kita harus memilih salah satu, maka pilihlah karakter.  Hal ini cocok diterapkan pada Nelson Mandela.    

Karakternya yang luar biasa sering membuatnya memilih strategi yang agak berbahaya/berisiko menurut pandangan Barat.  Misalnya, dukungan Mandela terhadap mantan pemimpin Libya Muammar Qaddafi dan ketidakmampuannya dalam membuat keputusan terkait dengan kehidupan pribadinya dengan mantan isterinya Winnie Mandela.    Juga tuduhan-tuduhan yang dialamatkan kepadanya – sebagai salah satu orang paling kontroversial di dunia,  seperti pernah 18 kali melakukan tindak pidana termasuk pembunuhan, penyekapan dan penganiayaan.   

Sebagai konsekuensi dari main mata antara Mandela dengan Uni Soviet, yang dinilainya cocok sebagai model,  Afrika Selatan memasuki era ekonomi yang digerakkan oleh negara, termasuk melakukan nasionalisasi industri-industri besar.   Mungkinkah sistem ekonomi yang terpusat ini mampu mendongkrak kehidupan di Afrika Selatan?

Strategi dan keputusannya yang diragukan dapat membawa pada kemandegan politik dan kegagalan, tetapi kekuatan karakternya sebagai pemimpin mampu mengatasi semua kekhawatiran tersebut.  Di manakah Mandela mengembangkan kemampuannya dalam menemukan solusi yang memuaskan  dan karakternya sebagai pemimpin?   Kemampuan itu ia dapatkan semasa masih sekolah.  Paham anti-apartheid yang dianutnya berakibat pada pengusiran dan permusuhan terus-menerus  dengan pimpinan sekolah.     

Kendati menghadapi tekanan yang terus-menerus, ia berhasil masuk ke sekolah hukum dan setelah lulus  membangun karier sebagai pengacara kulit hitam yang berhasil di Afrika Selatan – merupakan prestasi yang luar biasa untuk saat itu.  Akibat perjuangannya ia harus menjalani 26 tahun hukuman kerja paksa.  Di akhir masa penahanannya di penjara, ia ditawari kebebasan asalkan meninggalkan cita-citanya untuk melakukan perlawanan bersenjata.  Tapi ia menolak.  Tahun 1990 ia baru dibebaskan dari penjara. 

Kualitas Nelson Mandela dan Pengaruhnya sebagai Pemimpin Tak Terbantahkan

Ia berani dan gigih.  Ia adalah penentang kemapanan.  Karakter dan tindakannya yang visioner, daya tahan dan kemampuannya bangkit kembali sangat hebat.  Tetapi warisan yang membebani bukanlah apa yang ia sudah lakukan tapi apa yang tidak/belum ia lakukan.   

Ia menolak untuk mengikuti bujukan tindakan balas dendam dan menolak politik kebencian yang merasuki gerakan  anti-apartheid.   Afrika Selatan dapat diselamatkan dari perang saudara antara kulit hitam dan putih yang dapat menghancurkan bangsa.  Itulah mungkin warisan utama Nelson Mandela.  Namun demikian, kualitas individu, kepiawaian dan karakter luar biasa sebagai pemimpin, ternyata tidak cukup untuk menstransformasikan sebuah bangsa.

Nelson Mandela memainkan perannya secara luar biasa dan kita dapat belajar hal penting dari hidupnya, tapi kini saatnya bagi pemimpin generasi baru untuk tampil, para pemimpin ingin dan termotivasi untuk memberikan kewenangan dan  mengembangkan pemimpin lain untuk mengatasi masalah korupsi dan membuat lembaga menjadi lebih baik.  Pemimpin besar menghasilkan pemimpin besar.  Ini tidak hanya berlaku bagi Afrika Selatan tapi juga negara-negara lain.  (Eko W)

Sumber/foto : oxfordleadership.com/nydailynews.com