Apakah Generasi Millenials Bisa Menjadi Pemimpin ?

Leadership

Generasi Millenials saat ini merupakan penyumbang tenaga kerja terbanyak di Amerika Serikat pada 2015, dan banyak pihak berpendapat bahwa pada 2020 jumlah mereka akan meningkat hingga mencapai separuhnya. Tren ini juga akan terjadi di seluruh dunia, dan pada saat artikel ini ditulis mungkin separuh dari teman ataupun karyawan kita merupakan generasi millenials yang cukup terkenal tersebut.

Fenomena pekerja generasi ini telah banyak dibahas pada berbagai media, namun  rata-rata hanya berfokus tentang bagaimana cara mengelolanya. Ada baiknya apabila kita sekarang mencoba membicarakannya mengenai potensi kepemimpinannya. Karena cepat atau lambat mereka akan meneruskan tongkat kepemimpinan dalam sebuah perusahaan ataupun organisasi, dan menggantikan Generasi Baby Boomers akan segera pensiun.

Pada penelitian yang dilakukan oleh Harvard Business Review pada 2015 menyebutkan ada banyak  hambatan yang harus diatasi oleh generasi millenials jika mereka ingin menjadi manager. Karena mereka akan menghadapi tantangan baru yang belum pernah dihadapi oleh generasi lain, misalnya dalam hal pengengelolaan karyawan yang berusia lebih tua dari mereka. 

Sebagian besar karyawan senior sering mengalami dilema, ketika harus menerima  perintah dari atasan yang lebih muda. menurut mereka generasi muda kurang berpengalaman. Walaupun sebenarnya kekurangan ini bisa diatasi dengan penerapan program dan struktur organisasi yang efektif. Tantangan terbesar bagi manager generasi Millenials sebenarnya adalah kurangnya  kepercayaan dan wewenang yang diberikan untuk mengelola dan memimpin. 

Pertama, pemimpin muda tidak dipandang sepenuhnya dipercaya sebagai pemimpin yang lebih tua. Anggota tim yang lebih tua terkadang merasa tidak nyaman dengan gagasan dan pendapat atasan yang lebih muda. Kurangnya kepercayaan yang dirasakan oleh karyawan yang lebih tua menghadirkan penghalang pandang bagi perkembangan jenis hubungan interpersonal yang dibutuhkan selama seribu tahun untuk menjadi pemimpin yang efektif. Tantangan kedua yang muncul adalah kredibilitas dalam lingkup pengetahuan dan pengalaman manajer milen. Meskipun manajer mungkin memiliki pelatihan lebih lanjut dan lebih banyak keahlian teknis, masih ada kesenjangan kredibilitas yang dirasakan karena kurangnya pengalaman mereka. Selanjutnya, manajer yang lebih muda cenderung tidak dianggap sebagai panutan bagi rekan kerja, atau sebagai perwakilan tingkat atas dari organisasi tersebut ke pihak luar.

Biasanya para manager senior kurang mempercayai para pemimpin muda, karena mereka rata-rata tidak menyukai ide dan gagasan yang berasal dari anak muda yang belum berpengalaman. Ini nantinya akan menurunkan kualitas hubungan komuniksi dengan seniornya, dan pada akhirnya menghambat proses  kepemimpinan para manager millenials.

Hal lain adalah kurangnya referensi dan pengetahuan  para generasi muda ini, karena  walaupun mereka memiliki beragam keahlian dan kemampuan yang memadai namun tetap saja ada gap karena perbedaan pengalaman. Pada akhirnya manajer yang lebih muda cenderung tidak dianggap sebagai panutan bagi rekan kerja, atau sebagai perwakilan tingkat atas dari organisasi tersebut ke pihak luar.

Berdasarkan kesadaraan akan tantangan yang akan dihadapi oleh mereka, maka pihak manajemen perlu menangani masalah ini secara langsung manajer muda. Agar mereka diberikan kesempataan yang seimbang dalam mengembangkan kemampuan  memimpin. Ini bisa dilakukan antara lain dengan usaha pengembangan keterampilan praktis generasi Millennials, seperti membangun hubungan bisnis dan kesadaran diri dan mampu keluar dari proses pembelajaran secara lebih cepat.

Selain itu mereka juga harus belajar memahami dan  menciptakan rasa pengertian yang lebih baik kepaada para seniornya. Karena setiap generasi biasanya memiliki nilai, perspektif, dan harapan yang berbeda saat mereka bekerja. Jika Millennials mampu merangkul perbedaan ini dan menghargai talenta yang dibawa masing-masing kelompok, mereka akan dapat bekerja lebih efektif.  Untuk itu para pemimpin terdahulu harus dapat membantu Millennials dalam mengatasi stereotip negatif yang akan mereka hadapi sebagai manajer muda, dan mengatasinya tanpa merugikan semua pihak yang terkait.

Para manager dari generasi Millenials juga membutuhkan contoh dalam memimpin, karena banyak karyawan yang lebih tua ragu untuk menerima mereka sebagai panutan. Mereka perlu menunjukkan etos kerja, kepemimpinan, dan kepercayaan  dari waktu ke waktu. Hal ini berarti Manager Millennials harus menjadi yang pertama di kantor di pagi hari dan yang terakhir keluar dari kantor sewaktu jam kerja berakhir. Selain itu mereka juga harus memahami kebutuhan karyawan dari setiap generasi, sehingga dapat membantu mereka dalam mencapai tujuan organisasi.

Selain itu kunci keberhasilan yang lain adalah kemampuan untuk mengaaitkan antara kepentingan karyawan dengan misi perusahaan. Ini sangat penting untuk membantu para manajer muda, dalam memahami apa yang diharapkan dari mereka saat memimpin. Seperti membantu manajer baru guna menetapkan harapan untuk tim mereka, dan memberikan pemahaman yang jelas tentang apa yang ingin dicapai oleh organisasi. Serta dengan mendidik para Manager Millenials tentang berbagai departemen dan tujuan masing-masing,  bagaimana peran dan tanggungjawab setiap divisi dalam perusahaan.

Setiap pemimpin perusahaan yang mampu mempersiapkan dan merencanakan suksesi kepemimpinan ini dengan baik, akan mendapatkan hasil yang setimpal. Terutama dalam hal pengembangan usaha mereka melalui pola perekrutan yang baik dari para manager generasi Millenials. 

Sumber/foto : forbes.com/parade.com