Memimpin di Saat Krisis

Leadership

Mereka yang tidak atau belum pernah melewati suatu krisis ekonomi yang berkepanjangan, tentu tidak pernah merasakan bagaimana pahitnya menjalankan usaha.  Sebagai misal pada krisis ekonomi 1998, banyak perusahaan yang hidupnya berkecukupan karena menjalankan usahanya dengan utang. Namun kemudian secara tiba-tiba tidak mampu mencicil, bukan saja pokok tapi juga bunga utang.  Akibatnya perusahaan dengan mudahnya beralih pemilik, dan banyak CEO harus menelan pil pahit berupa PHK atau bahkan perusahaannya mengalami kebangkrutan.  

Dalam menghadapi masa-masa tersebut Bill George pengarang buku “True North”  dan mantan CEO Medtronic, memberikan tips untuk memimpin dalam keadaan krisis.

Krisis tidak pernah diharapkan akan datang

Dalam setiap dunia ekonomi selalu ada siklus usaha, yakni masa pertumbuhan dunia usaha dan juga kemunduran. Krisis merupakan salah satu penanda adanya kemunduran ekonomi, namun demikian tidak setiap krisis selalu berujung pada resesi. Namun demikian krisis tetap dapat menyebabkan pelambatan ekonomi.  

Apabila ekonomi di suatu negara terus mengalami pertumbuhan, maka setidaknya akan menggerus ekonomi negara lain yang mengalami penurunan.    Sebagai misal dalam skala yang lebih kecil masuknya buah impor ke Indonesia dalam jumlah besar, tentu akan memengaruhi eksistensi buah lokal tidak hanya di pasar swalayan tapi juga di pasar-pasar tradisional.  Dalam skala yang lebih mikro di dalam satu perusahaan, krisis dapat terjadi karena perusahaan tidak lagi mampu  melayani kebutuhan pasar, sehingga penjualan terus merosot.  Merosotnya penjualan terus-menerus tentu akan memicu konflik di dalam perusahaan, mulai dari adanya prediksi menurunnya kinerja karyawan hingga kepada produknya yang tidak mampu bersaing lagi di pasaran.

Dalam menghadapi situasi seperti ini seorang pimpinan  harus berani mengambil sikap dan bertindak cepat untuk menyelamatkan perusahaan.Diantaranya adalah dengan :

1. Berani Menghadapi Kenyataan

Realitas dimulai dari orang yang sedang menjabat.  Para pemimpin perlu melihat ke dalam cermin dan mengakui perannya dalam ikut menciptakan masalah.  Untuk dapat memecahkan masalah dirinya harus mengumpulkan seluruh anggota tim dan mencari slusi terhadap permasalahan..  Pengakuan ini merupakan langkah penting sebelum masalah dapat diatasi.  Upaya untuk mendapatkan penyelesaian jangka pendek yang hanya menyentuh pada gejala dari krisis dan bukan akarnya,  dan akan membuat perusahaan kembali menghadapi masalah yang sama di masa datang.   

Untuk memahami penyebab sebenarnya dari krisis, setiap orang di dalam tim kepemimpinan harus bersedia mengungkapkan seluruh kebenaran yang mereka ketahui.  Para pemimpin tidak akan dapat memecahkan masalah, jika mereka tidak mau mengakui keberadaannya.  Apa yang sesungguhnya terjadi harus diakui berdasarkan falta.

2.Krisis Dapat Memburuk

Banyak pemimpin kurang menyadari adanya krisis yang sedang terjadi, bahkan terkadang berusaha menyakinkan orang lain bahwa krisis yang terjadi tidaklah separah yang diberitakan. Sehingga mereka hanya melakukan pembahasan seperlunya saja, dan berharap krisis akan menghilang dengan sendirinya.

Hal tersebut sering membuat para pemimpin salah melangkah.  Sebagai konsekuensinya pemimpin tidak mampu lagi untuk menahan lajunya kondisi perusahaan yang (biasanya) semakin memburuk. Sebaiknya pemimpin harus segera mengantisipasinya dan mencari jalan keluar dari situasi buruk tersebut. 

3.Mempersiapkan Diri

Keadaan ekonomi selalu mengalami pertumbuhan dan penyusutan, dan  saat keadaan ekonomi sedang tumbuh pesat para pemimpin cenderung lebih khawatir terhadap pendapatan per saham (earning per share) dan pertumbuhan pendapatan,  dibandingkan dengan urusan neraca dan laba rugi tentunya.  Dalam keadaan krisis, uang kontan adalah raja.  Lupakan dulu tentang pendapatan per saham dan semua ukuran yang ada di pasar modal.  Pertanyaannya adalah apakah perusahaan memiliki cukup dana tunai untuk bertahan dalam situasi paling buruk?

4.Meminta Bantuan

Saat menghadapi krisis banyak pemimpin menopang sendiri masalah yang dihadapinya, mereka berpendapat bahwa masalahnya akan bisa diselesaikan sendiri. Namun kenyataannya para pemimpin tetap membutuhkan bantuan dari orang lain untuk menemukan solusi  dan mengimplementasikan keputusan.  Hal ini tentunya akan meningkatkan rasa percaya diri dari bawahan. Selain itu juga diperlukan  utnuk mendapatkan komitmen mereka, ketika melakukan tindakan koreksi yang mungkin menimbulkan dampak negatif.

5.Belajar Berkorban

Jika dalam menghadapi krisis harus ada pengorbanan yang dilakukan, maka para pemimpin harus mulai melakukannya dan itu dimulai dari mereka.  Hal ini misalnya pernah dilakukan oleh para petinggi dari PT Astra International di masa krisis, dimana mereka beramai-ramai menurunkan gaji mereka akibat tekanan krisis moneter pada 1997.

Setiap orang akan melihat apa yang dilakukan pimpinan.  Apakah mereka tetap mau berpegang pada nilai-nilai yang selama ini diyakini?  Apakah mereka akan takluk pada tekanan luar, atau menghadapi krisis sekuat tenaga?  Apakah mereka akan tergoda oleh iming-iming jangka pendek, atau akankah mereka  bersedia mengurbankan diri mereka demi kelangsungan hidup perusahaan dalam jangka panjang?

6. Melakukan Perubahan 

Ketika kondisi ekonomi sedang tumbuh dan berkembang, kita cenderung menolak adanya perubahan ataupun adaptasi kecil-kecilan.  Namun ketika sebuah krisis terjadi maka hal ini merupakan saat yang baik bagi pemimpin untuk perbaikan-perbaikan yang diperlukan , dengan menumbuhkan rasa keterkaitan (sense of urgency) untuk mempercepat proses perubahan..  

Krisis dapat menjadi alasan bagi pimpinan untuk melakukan PHK bagi karyawan tidak berprestasi, dan hanya meninggalkan sebagian saja yang masih produktif.  Atau juga bisa dengan mencoba  menawarkan sistem kerja baru.

7. Melakukan Ekspansi Pasar

Ini mungkin terdengar aneh, ketika menghadapi  masa krisis perusahaan didorong melakukan ekspansi. Ini sebenarnya wajar karena   pada saat  krisis terjadi justru sering mendatangkan kesempatan terbaik untuk mengubah peta persaingan, dengan memunculkan produk atau jasa baru.  Banyak orang melihat krisis sebagai sesuatu hal yang memang harus dijalani, hingga mereka dapat kembali berbisnis seperti biasa.  Tetapi “business as usual” tidak pernah kembali, karena pasar sudah berubah total.  Mengapa tidak membuat perubahan yang akan membuat pasar menguntungkan, daripada menunggu dan bereaksi terhadap perubahan yang terjadi?  (Eko W.)

Sumber/foto : wsj.com/bulldogreporter.com