Tujuh Pelajaran Leadership dari Krisis di Uber

Leadership

Hingga sekarang fenomena kepemimpinan Travis Kalanick, yang sukses dalam mengantarkan Uber menuju kesuksesannya masih banyak dibicarakan orang. Berawal dari sebuah gagasan kecil  yang sederhana dari konsep ekonomi berbagi, dirinya mampu mendirikan sebuah perusahaan raksasa transportasi dengan mengalahkan bisnis tradisional taksi yang telah berjalan puluhan bahkan ratusan tahun lamanya. 

Uber bahkan kemudian menjadi sebuah model kesuksesan usaha, yang berani melakukan berbagai terobosan untuk mendapatkan yang terbaik. Mampu bertahan melalui perjuangan keras dan tekanan, baik dari pemerintah maupun dari karyawannya sendiri. Hingga sekarang perusahaan ini telah bernilai  lebih dari US$70 milyar.

Seiring dengan semakin bertambahnya pegawai hingga mencapai lebih dari 12 ribu orang dan 10 ribu pengemudi, telah menjadikannya sebuah masalah tersendiri yang harus segera dipecahkan. Mulai tuntutan dari para mitra pengemudinya sendiri mengenai perjanjian kerja yang tidak adil, hingga kepada tuduhan melakukan praktik usaha ilegal. Namun tuduhan yang paling serius dikemukakan oleh mantan pegawainya bernama Susan Fowler, yang mengeluhkan pelecehan seksual oleh para petinggi Uber. Karena lambatnya penanganan kasusnya oleh manajemen Uber,  dirinya kemudian  memposting perlakuan tersebut ke internet. Namun ternyata Fowler justru mendapatkan pemecatan dari Uber. 

Kasus tersebut mengejutkan banyak pihak, bahkan semakin berkembang dan mendapatkan banyak dukungan. Akibatnya Kalanick dan Uber berubah menjadi figur yang paling dibenci saat ini. Menurut beberapa pengamat manajemen seperti yang dimuat dalam artikel pada laman inc-asean.com, hal itu sebenarnya tidak perlu terjadi apabila manajemen Uber ataupun Kalanick bisa bersikap lebih bijaksana dalam memimpin. Respon Uber tersebut telah memberikan banyak pelajaran kepemimpinan bagi kita semua, bahwa menjadi pemimpin tidaklah mudah. Apalagi saat menghadapi krisis. 

Berikut ada beberapa pelajaran yang dapat kita ambil dari krisis di Uber, diantaranya adalah :

1. Ketika Melakukan Kesalahan, Segera Mengakuinya dan Meminta Maaf

Beberapa jam setelah posting Fowler merebak di internet, Kalanick segera memberikan komentarnya melaui sosial media dan tidak melakukan penyelidikan atas tuduhan tersebut. Dirinya bahkan menuliskan bahwa "Apa yang disampaikan di sini sangat menjijikkan dan bertentangan dengan semua yang kita percaya. Siapa pun yang berperilaku atau berpikir seperti ini bisa mendapatkan pemecatan."

2. Mencari Bantuan dari Orang Lain

Dalam menangani kasus ini, Uber menyewa jasa konsultan Covington & Burling, untuk meneliti peristiwa tersebut secara independen dan memberikan rekomendasinya. Kalanisk juga meminta bantuan Arianna Huffington, salah seorang dewan penasihat Uber yang diyakini oleh banyak pihak memiliki reputasi yang buruk dalam menangani kasus-kasus perselisihan dengan karyawan  guna membahas budaya perusahaan di Uber. Tindakan ini kemudian malah menimbulkan kritikan tajam  dari para pegawainya. Selain itu perusahaan Huffingon Post milik Ariana juga diketahui sering melakukan berbagai pelanggaran terhadap karyawannya. Namun demikian terlepas dari kinerja masing-masing eksekutif tersebut, kritik dan masukan mereka tetap berguna guna merubah budaya Uber untuk menjadi lebih baik lagi. 

Dalam kasus tersebut Covington & Burling telah memberikan rekomendasinya terkait dalam berbagai hal, mulai dari perkara pengaturan kompensasi kepada eksekutif hingga penyesuaian jam makan malam bagi karyawan sehingga mereka bisa pulang lebih awal dalam suasann hati yang senang. Dalam hal tersebut Dewan Uber menyetujuinya dan berharap agar ini dapat merubah budaya perusahaan di Uber menjadi berbeda dari sebelumnya.

3. Segera Mundur, Jika Anda Menjadi Penyebab Krisis

Kalanick telah dipaksa mengundurkan diri, karena masa keberhasilannya dalam mengelola Uber telah berlalu. Karena setelah mengalami berbagai permasalahan dan tragedi kematian di keluarganya, dan ini banyak mengganggunya dalam setiap pengambilan keputusan di saat krisis.  Proses pengunduran dirinya sendiri juga bukanlah hal yang mudah, karena Kalanick telah identik dengan Uber sejak awal berdirinya. Butuh banyak keberanian dan jiwa besar untuk melaksanakannya.

4. Apabila Teman Menjadi Trouble Maker, Pecatlah

Sejak dulu perusahaan Uber terkenal dengan jajaran eksekutifnya, yang sebagian besar merupakan teman dekat Kalanick. Ketika mereka banyak menyebabkan masalah di manajemen, banyak dari pegawainya mengeluh karena ternyata Kalanick malah membelanya. Namun demikian akhirnya teman Kalanick tersebut telah mengajukan permohonan pengunduran diri mereka.

5. Jangan Berhenti

Kasus Fowler dan berbagai kasus lainnya yang terjadi, telah menyebabkan sekitar 20 eksekutifnya mengundurkan diri atau dipecat dari Uber. Namun demikian beberapa pihak menginginkan agar perubahan tersebut tetap berlanjut, kepada perombakan jajaran Dewan Uber. Antara lain dengan memasukkan perempuan ke dalam Dewan Uber. Karena dalam berbagai penelitian menunjukkan bahwa kehadiran perempuan dalam top eksekutif, setidaknya akan membawa dampak yang positif bagi perkembangan kinerja perusahaan. 

6. Memiliki Nilai yang Berarti

Ada banyak nilai-nilai budaya perusahaan yang sebenarnya cukup baik apabila dilakukan dengan jujur, namun demikian itu tidak pernah terjadi pada Uber. Karena dari jajaran eksekutifnya sendiri tidak pernah memberikan contoh nyata dari penerapan nilai tersebut. Untuk itu Covington merekomendasikan agar setiap pemimpin di Uber mulai memperhatikan hal ini dan menerapkan sebagai contoh bagi para karyawannya.

7. Mawas Diri

Keberhasilan bisnis Uber telah membuat sebagian besar dari mereka merasa superior, terutama para eksekutif. Mereka merasa bahwa setiap keberhasilan Uber adalah berkat jerih payah mereka, sehingga merasa bebas untuk melakukan berbagai hal yang mereka sukai. Termasuk diantaranya dengan melakukan pelecehan seksual baik verbal maupun non verbal kepada karyawan perempuan. 

Perilaku semacam ini biasa terdapat pada berbagai perusahaan di Silicon Valley, dan dikenal dengan istilah budaya "brogamer". Sebuah budaya yang berakar dari dominasi oleh orang kulit putih dari keluarga kaya dan akademi elit, bahkan budaya ini menurut banyak pihak lebih rasis daripada yang ada dan berlaku di Wall Street.

Sumber/foto : inc-asean.com/forbes.com