Membangun Pola Pikir Kepemimpinan

Leadership

Jika memimpin itu mudah, pastilah banyak orang yang ingin menjadi pemimpin. Namun demikian seiring dengan perkembangan teknologi yang sangat hyper connected, kemampuan memimpin juga ikut berkembang menjadi semakin kompleks dibandingkan dengan masa sebelumnya. Mau tidak mau kita harus menggunakan panduan dari para pemimpin yang memiliki prestasi tersebut, karena mengembangkan bakat kepemimpinan cukup sulit khususnya ketika ada elemen penting yang hilang.  Elemen itu adalah adanya ketakutan/kekhawatiran terhadap risiko yang timbul, akibat  menjelajahi dunia baru yang belum begitu jelas atau belum diketahui.

Menurut Julie Benezet, penulis buku The Journey of Not Knowing, How 21st Century Leaders Can Chart a Course Where There Is None, ada banyak perusahaan mengucurkan dana untuk membiayai pelatihan tentang dasar-dasar kepemimpinan seperti visi, pemikiran strategis dan komunikasi. Para peserta keluar dari tempat pelatihan dengan pemikiran baru, kosakata baru yang diucapkan dan rencana-rencana tindakan pribadi. Lalu mereka kembali ke meja kerjanya dan melanjutkan proyek-proyek, melakukan urusan seperti biasanya secara terperinci, mengikuti garis-garis batas yang telah ditentukan dan menampilkan hasilnya.  Apa yang salah dengan itu semua?  Tidak ada, tapi itu bukan kepemimpinan.

Kepemimpinan sesungguhnya hanyalah tentang menemukan gagasan baru yang akan membuat organisasi menjadi lebih baik dan meyakinkan banyak orang agar gagasan baru itu dapat diterima dan menjadi kenyataan. Hal baru itu dapat berupa produk yang memungkinkan penyimpanan informasi secara lebih baik, pembentukan tim dimana pemilihan anggota ditentukan di antara anggota dan bukan oleh manajer atau budaya komunikasi yang mengedepankan dukungan secara terbuka, semua itu memerlukan pemikiran baru dan perilaku. Masih lagi diembelembeli bahwa tidak ada jaminan untuk sukses.

Kepemimpinan memerlukan suatu pola pikir yang mensyaratkan pada keberanian menghadapi risiko yang tidak diketahui dan kekhawatiran-kekhawatiran yang muncul.  Untuk membawa organisasi ke masa depan, para pemimpin harus berani mengambil peluang dan siap dengan hal-hal baru yang tidak terduga.   Perusahaan-perusahaan perlu mengembangkan pola pikir para pimpinan yang mengenali hal-hal baru dan risiko di dalamnya.

Beda Pemimpin dan Manajer

Keberanian menghadapi risiko memang bervariasi dari sama sekali tidak mau hingga tidak kenal rasa takut.  Tentu saja banyak yang tidak mau ambil risiko. Itu tidak menjadi masalah, tapi orang seperti ini sebaiknya tidak memimpin.  Mereka lebih cocok untuk melakukan peran sebagai manajer, dimana peralatan dan metodologinya telah teruji dan diketahui.  Memang tidak salah hanya menjadi manajer. Manajer pada umumnya adalah orang yang menjadi mesin uang bagi perusahaan.   Sementara pemimpin adalah orang yang mau keluar dari ranah yang diketahui ke ranah gagasan baru yang belum diketahui. Itulah peran pemimpin.

Perbedaan kedua antara pemimpin dan manajer adalah bahwa seorang pemimpin memiliki visi, sedangkan seorang manajer memiliki sasaran.  Pemimpin umumnya mampu melihat ke depan melebihi orang kebanyakan.  Orang Jawa bilang ngerti sakdurunge winarah.  Apa yang akan terjadi di masa depan, dia “sudah tahu.”   Pemimpin juga menggerakkan pengikutnya/orang-orangnya/bawahannya, untuk menjadi bagian yang lebih besar.  Ia sadar bahwa suatu kelompok kerja/tim akan menghasilkan atau menyelesaikan suatu tugas yang lebih besar daripada hanya mengandalkan pada seseorang/individu.

Manajer sebaliknya berkonsentrasi pada penetapan, pengukuran dan pencapaian sasaran.  Namun demikian dia juga mampu mengendalikan situasi untuk mencapai atau bahkan melebihi sasaran-sasaran  yang telah ditetapkan.  

Perbedaan ketiga antara pemimpin dan manajer adalah bahwa pemimpin adalah agen perubahan sementara manajer adalah mempertahankan status quo, menjaga agar tidak berubah.  Mantra dari pemimpin adalah inovasi, dan ia bangga dianggap tidak mengikuti kaidah lama.  Ia memeluk perubahan dan tahu  jika sesuatu terjadi itu adalah demi perbaikan.  Ia juga sadar bahwa perubahan terhadap system akan menimbulkan gejolak.  

Manajer sebaliknya mempertahankan apa yang sudah baik, menyaring sistem, struktur, dan proses untuk membuatnya lebih baik.   

Lantas bagaimana kita dapat mengembangkan pola pikir kepemimpinan ? Di bawah ini ada empat pos penjagaan (mileposts)  sepanjang jalan melewati ketakutan dalam mencapai sesuatu yang baru:

Tentukan Impian untuk Membuat Hidup Lebih Indah

Peran seorang pemimpin adalah membawa organisasi ke masa depan, tidak tetap tinggal seperti sekarang.  Hal itu berarti harus ada penemuan gagasan-gagasan baru untuk memenuhi perubahan kebutuhan para pemangku kepentingan di dalam dunia yang berubah secara cepat.  Pemimpin yang berhasil  terjun langsung  dan mempelajari apa yang betul-betul  diinginkan oleh pelanggan, karyawan dan masyarakat. 

Mendengarkan tanpa menilai secara tidak adil merupakan suatu tantangan (prejudice can be challenging).  Tanggapan tentang hal baru  dapat mengejutkan, sulit dicapai atau bahkan memalukan.   Mereka mungkin juga berkata ini terlalu rumit.  Para manajer juga memilih anggota tim yang tidak mendukung.  Mengatasi semua keriuhan ini memang memusingkan, tapi itu memang tugas seorang pemimpin.

Menikmati Ketakutan terhadap  Risiko

Gagasan baru memang berisiko, karena Anda tidak tahu apakah mereka dapat berhasil hingga Anda mengujinya/melaksanakannya.  Banyak yang gagal setelah dipraktikkan.  Pelanggan Anda mungkin berpendapat ini bisnis orang bodoh, tidak masuk akal atau harga produknya terlalu mahal.  Bahkan karyawan Anda mungkin menyambut gagasan baru itu dengan penuh kecurigaan atau malahan bersikap mengganggu (annoyance).

Dengan adanya risiko, maka akan ada penghargaan atas keberhasilan maupun kegagalan.  Kenyataannya jalan menuju sukses diratakan melalui kegagalan.  Sukses adalah termasuk juga menerima kegagalan-kegagalan itu dan melihat masalah-masalah di perjalanan sebagai peluang belajar dan bukan alasan untuk memangkas jumlah orang, memperlambat atau meninggalkan  rencana semula.  

Hati-hati terhadap Sabotase

 Dalam proses mengujicoba gagasan baru yang tidak mengenakkan, dinding-dinding perlawanan akan muncul.   Tim dapat bereaksi dengan cara seperti terang-terangan menentang, sekadar mengkritisi, atau bersikap pasif.  Misalnya, “Gee, saya sebetulnya punya waktu untuk membantu tetapi … ”).   Para pemimpin masuk ke dalam perilaku defensif yang menyediakan kenyamanan sesaat tapi membawa mereka menjauh dari pencapaian kemungkinan yang lebih besar.

Bertahan merupakan reaksi normal terhadap risiko, termasuk risiko yang akan membawa pada pertumbuhan.   Setiap orang memiliki pertahanan.  Hal itu tampak pada berbagai bentuk:  manajemen mikro, personalisasi (personalizing), dan pertikaian (conflict) adalah tiga hal yang biasa muncul.  Membangun pola pikir kepemimpinan termasuk mengakui adanya perilaku defensif, memahami dampak negatifnya, dan mengambil strategi perilaku yang lebih baik.  

Cari Bahan Bakar

Untuk mengendalikan ketidaknyamanan dalam perjalanan menuju sesuatu yang baru, para pemimpin perlu mengidentifikasi tujuan dalam melakukan perjalanan itu.    Maksud atau tujuan menuju ke sesuatu yang baru itu dapat mewakili nilai-nilai mendasar, seperti keyakinan inti dari harkat manusia (core belief in human dignity).  Hal itu dapat sesederhana seperti bagaimana agar dapat mengalahkan lawan bisnis.    Intinya adalah mengidentifikasi sesuatu yang akan memberi Anda bahan bakar untuk melewati ketidaknyamanan dan ketidakpastian dalam perjalanan menuju sesuatu yang baru.(Eko W)

Sumber/foto : forbes.com/albycarta.ch