Untuk Menjadi Pemimpin Global, Para Leader di Asia Harus Lebih Banyak Berusaha

Leadership

Bagi perekonomian dunia, pasar di Asia merupakan salah satu kawasan yang memiliki perkembangan ekonomi cukup pesat. Dari data Asian Development Bank (ADB) pada 2017 Asia bahkan telah menunjang lebih dari 60% pertumbuhan ekonomi global. Pesatnya perkembangan tersebut tidak bisa dilepaskan dari para pemimpin bisnis yang menciptakan, mempertahankan dan mengembangkan perusahaan yang mendorong pertumbuhan di Asia.

Benarkah keberhasilan tersebut karena mereka memiliki gaya kepemimpinan global yang unik ? Apakah kepemimpinan mereka juga banyak dipengaruhi oleh budaya ataupun tahapan perkembangan perekonomian setempat ? Apakah kepemimpinan mereka memiliki persamaan dengan gaya kepemimpinan yang ada sekarang ? Pertanyaan ini sering dilontarkan dalam pertemuan informal para pemimpin perusahaan multinasional, dan menurut CheeTung Leong, CEO and co-founder of EngageRocket sebagaimana dikutip dari laman forbes.com pada Selasa (20/6) menyebutkan bahwa banyak para pemimpin di Asia memiliki kedua pola tersebut di atas serta mempraktikkan gaya kepemimpinan yang unik.

Menurut sebuah studi oleh The Human Capital Leadership Institute (HCLI), bekerja sama dengan Tata Communications sebagian besar kepemimpinan di Asia terkait dengan terkait dengan nilai-nilai budaya yang menekankan ikatan keluarga dan strata sosial. Walaupun sebagian dari mereka juga mengaitkan keberhasilan ini juga berkat koneksi di kalangan bisnis dan politik setempat. 

Lebih  sebuah artikel tentang leadership yang dimuat dalam Harvard Business Review menyebutkan, Konfusianisme membentuk inti budaya banyak pemimpin bisnis senior di China dan, sebagai hasilnya mereka condong ke arah gaya kepemimpinan hirarkis. Hal ini juga berlaku bagi para pemimpin di Korea Selatan, sebuah negara yang juga sangat dipengaruhi oleh Konfusianisme dan dunia perusahaannya. Ini bisa dilihat dari karakteristik rasa hormat yang ditunjukkan berlebihan atau perhatian yang mendadak terhadap detail saat melapor, dan mengeluarkan arahan berapi-api atau menolak berkompromi saat memerintah bawahan.

Bahan dalam studi tentang leadership dari Mosaic Across Asia menyebutkan, di Asia Tenggara pada masa lalu banyak cara-cara kepemimpinan berkaitan erat dengan paternalistik, hierarkis, otokratis dan feodalistik. Terutama di  Indonesia, Malaysia, Thailand, Filipina dan Vietnam. Sedangkan di India yang dikenal dengan pusatnya para pemimpin global, menunjukkan gaya kepemimpinan berbeda  yakni sangat aspiratif,  mudah beradaptasi, memiliki kemampuan yang bak dalam mencari solusi sebuah masalah. Hal ini serupa dengan pemimpin global dari Filipina yang memiliki ciri yang sama dengan di India. Namun demikian mereka juga mamsih membutuhkan dorongan untuk  menumbuhkan kepercayaan diri dan ketegasan, serta dukungan dari manajer senior untuk menuju ke kancah persaingan global.

Walaupun demikian kepemimpinan di Asia juga memiliki perbedaan, mulai dari karena perbedaan budaya hingga kepada sejarah yang membentuk sikap dan mental mereka. Seperti misalnya di Jepang, mereka memiliki keunggulan dalam teknologi dan pemecahan masalah metodologis yang telah mampu menciptakan produk dan proses terbaik di kelasnya. Terutama di sektor manufaktur. Setidaknya itu dinyatakan oleh Mosaic Leadership Around the Asia.

Untuk menjelaskan semangat keunggulan ini, seorang eksekutif Jepang menunjuk pada agama Shinto yang memegang keyakinan bahwa "Tuhan (dewa) ada dalam segala hal," Hal ini mungkin telah membentuk jiwa dan sikap kepemimpinan masyarakat Jepang dari waktu ke waktu, dan mampu menciptakan produk dan layanan yang sangat baik sebagai salah satu bentuk penghormatan kepada  para dewa ini.

Sedangkan di Singapura, para pemimpin di dana lebih banyak menawarkan proposisi unik untuk menjembatani kesenjangan antara Timur dan Barat. Sehingga memposisikan negara kota sebagai yang paling kosmopolitan dengan pandangan global saat mengambil keputusan bisnis. Sebagai negara kosmopolit Singapura kemudian berkembang menjadi sebuah peleburan budaya (melting pot) dari berbagai bangsa di dunia. Sehingga masyarakatnya cenderung sadar secara budaya. Akibatnya dalam menerapkan kepemimpinannya, para pebisnis Singapura banyak mempergunakan data dan keragaman tersebut sebagai pedoman dalam membuat keputusan yang bisa diterima oleh mayoritas penduduk. Mereka mengantisipasi, merencanakan dan melaksanakan secara terstruktur serta mampu bekerja dalam tim yang baik.

Berbeda dengan Jepang dan Singapura, para pemimpin bisnis India merasa nyaman berada dalam dunia yang sangat dinamis dan mampu melakukan improvisasi yang cepat untuk mengatasinya. Hal tersebut sedikit banyak dikarenakan buruknya infrastruktur di India, para pemimpinnya secara alami beroperasi dengan asumsi bahwa segala sesuatunya akan salah. Sehingga mereka harus segera mencari jalan keluarnya secara cepat. Adaptasi dan melakukan pilihan merupakan kata kunci para pemimpin di India.

Dengan banyaknya prestasi yang telah dilakukan oleh para pemimpin bisnis di Asia, mulai dari masuknya perusahaan Asia dalam daftar 10 Fortune Global 500 di tahun 2016 dan bank China menempati tiga tempat teratas. Apakah nantinya mereka akan mampu menjadi pemimpin global yang baik ? 

Karena untuk menjadi pemimpin global setidaknya mereka  harus sangat mobile, mudah beradaptasi dan unggul dalam membangun hubungan. Selain itu mereka juga harus dapat bekerjasama dalam beragam lingkungan kerja baru dan sepenuhnya siap untuk merangkul keragaman. ini semua tentunya membutuhkan lebih dari satu pendekatan dalam manajemen.

Berbagai persyaratan tersebut mungkin berat, dan akhirnya juga (mungkin) tidak ada yang namanya pemimpin Asia. Namun setidaknya semua pemimpin hebat tampaknya memiliki kesamaan ini, yakni mereka cenderung lebih partisipatif daripada direktif dan lebih banyak bekerja daripada sekedar memamerkan kemampuan. Dalam hal ini kutipan dari mantan Presiden Ronald Reagan bisa menjadi acuan dalam menjadi pemimpin hebat, pemimpin terbesar bukanlah orang yang melakukan hal-hal terbesar namun mampu membuat orang lain melakukan hal-hal hebat. 

 

Sumber/foto : forbes.com/