Kepemimpinan : Katalis yang Melakukan Transformasi

Leadership

Kepemimpinan memang hanya mudah didefiniskani, tapi merupakan konsep yang susah dipraktikan. Salah satu kamus mendefinisikannya sebagai tuntunan atau arahan.  Pemimpin dapat ditemukan di mana-mana. Beberapa di antara pembaca mungkin tidak pernah melihat dirinya sebagai pemimpin, hingga Anda menyadarinya.   Pemimpin tidak selamanya sebagai seseorang yang menjabat  atau selalu pada posisi tinggi, tidak juga orang yang sedang bertugas atau dapat memandang jauh ke depan.

 Visi tanpa aksi adalah bagaikan mimpi di siang hari.  Aksi tanpa visi adalah bagaikan mimpi buruk.  Demikian Mark Strickland  mengawali tulisannya.   Selama bertahun-tahun Mark Strickland  menjalani usaha dan kehidupan, ia telah bertemu dengan  pemimpin besar, tapi memang jumlahnya tidak banyak.  

Mempercepat Proses (The Catalyst)

Kepemimpinan baginya adalah bagaikan katalisator  yang mengambil sesuatu yang biasa dan mengubahnya menjadi sesuatu yang luar biasa.  Kurangnya kepemimpinan biasanya  justru akan melakukan hal kebalikannya,  menghancurkan sesuatu yang sudah baik.

Salah satu pemimpin terbaik dan paling inspiratif  ternyata hanya orang biasa saja.  Ia seorang petani tapi pernah bekerja di pabrik. Dean, demikian nama petani itu, memimpin orang dengan membangun kepercayaan dan mendorong kreativitas. Melalui perlakuannya ini, orang mengembangkan rasa kepemilikan terhadap proses yang ia lakukan dan meraih  kinerja luar biasa,  tetapi itu karena dorongan hati dan bukan karena perintah.

Agar betul-betul dapat mengabdikan diri dan rasa memiliki terhadap tugas, pekerjaan, atau misi dalam hidup ini Anda harus yakin bahwa apa yang Anda lakukan memiliki makna/nilai.  Paradigma Anda, atau titik pandang, memainkan peran penting dalam melihat sesuatu hal bernilai.  Banyak hal mulai dari latar belakang, hingga bagaimana Anda diperlakukan, akan memengaruhi paradigma ini.  Anda bisa saja secara internal mengembangkan paradigma positif tetapi pengaruh luar dapat mengambil perilaku positif dan menciptakan apatisme atau bahkan kemarahan.

Keyakinan akan nilai ini dapat memiliki efek besar terhadap bagaimana seseorang  akan bertindak dan berkorban untuk visi atau alasannya melakukan sesuatu.  Mark menyatakan pernah suatu ketika bekerja di pabrik cat yang didirikan oleh seorang pemimpin besar.  Ia pensiun karena masalah kesehatan tapi warisannya (legacy) dilanjutkan oleh setiap orang yang bekerja di sana.   Tiba-tiba seorang pemburu perusahaan mengambil alih perusahaan dan bisnis jatuh bagaikan spiral akibat hal itu, ditambah lagi bagian marketing tidak mampu menahan turunnya laju penjualan. 

Mark, kebetulan dilibatkan dalam operasi penyelamatan perusahaan dan hari pertamanya adalah harus mem-PHK banyak orang.   Ia selalu mencoba melukiskan  keadaan yang sebenarnya dan seakurat mungkin kondisi usaha dan kendati kondisinya buruk sejumlah karyawan masih percaya bahwa yang mereka kerjakan adalah bernilai.  Mereka berhasil mencapai rekor produksi ketika ada permintaan besar dan masih mempertahankan mutu bagus serta kerja keras.  

Seseorang bernama  Silas, telah bekerja lebih dari  40 tahun di perusahaan dan memiliki isteri yang cacat.  Ia masih memberi sumbangan pada perusahaan dan bekerja dengan waktu fleksibel.  Suatu hari ada anak muda, Brian, salah satu pekerja terbaik di bagian produksi, menegur Mark di bengkel.  Ia tahu masih akan ada PHK lagi, tapi menyarankan agar tidak mem-PHK Silas.  Ia akan mundur dan mencari pekerjaan lain, tapi Silas dengan umurnya tidak mungkin lagi.  Mendengar saran Brian, Mark berkaca-kaca.

Kepercayaan

Salah satu ciri kepribadian terpenting dalam kepemimpinan adalah kemampuan untuk mendapatkan kepercayaan dari bawahan.  Kepercayaan ini barangkali merupakan salah satu elemen paling kuat dari kepemimpinan.  Kepercayaan memungkinkan orang bekerja dalam siklus kemandirian tanpa rasa takut Sebuah tim yang dibayangi ketakutan atau apatisme akan menjadi tim yang tidak produktif.    Sebuah tim dimana kepercayaan dirasakan akan mampu mengambil risiko yang telah diperhitungkan (calculated) tapi produktif.  Anda tidak dapat memaksa orang untuk percaya tapi Anda dapat menciptakan sistem yang dipercaya 

Integritas

Integritas umumnya mengikuti pembangunan kepercayaan.  Orang yang memiliki integritas dengan memenuhi janji-janjinya, berpegang pada kebenaran, dan tetap terkendali meski ada kesulitan umumnya dipandang sebagai pemimpin oleh orang sekitarnya.   Adalah sangat ironis bahwa dengan tidak memiliki integritas seseorang akan dijuluki  misleading.

Integritas merupakan bumbu dalam membangun kepercayaan di dalam tim.  “Katakan   apa yang akan Anda lakukan kemudian lakukan apa yang Anda katakan.”  Mark pernah mendengar kisah tentang seorang pengkotbah/penceramah agama yang pergi ke sebuah minimarket dan membeli sesuatu, dan saat kembali ke mobil ia menyadari bahwa kasir menagih dia lebih rendah dari harga sebenarnya Pengkotbah ini segera kembali ke kasir dan mengatakan “tampaknya Anda keliru menagih saya terlalu kecil.”   Karyawan itu menjawab  secara mengejutkan, “itu bukan kesalahan … Saya melakukannya secara sengaja”.   Pengkotbah ini bingung sesaat dan kemudian karyawan  ini menambahkan “Saya sering mendengar kotbahmu dan saya ingin tahu apakah Anda mempraktikkannya.” 

Fasilitator dan Kerendahan Hati (Facilitator and Humility)

Seorang pemimpin yang sadar bahwa dirinya merupakan bagian dari tim, akan mendapat dampak yang positif tentang bagaimana ia dipandang sebagai pemimpin.  Seorang pemimpin yang efektif perlu melihat dirinya sebagai  facilitator kelompok.  Pemimpin berada di situ untuk menghilangkan hambatan-hambatan dan biasanya membantu tim untuk mencapai sasarannya.  Suatu kadar kerendahan hati akan muncul dari kepemimpinan tipe ini.  Dia tidak merasa lebih baik dibanding yang lain hanya memainkan peran yang berbeda. 

Perubahan

Perubahan ada di mana-mana dan orang yang mampu mengatasi perubahan secara efektif mempraktikkan banyak elemen kepemimpinan.  Kepemimpinan sejati justru mencari perubahan dan beradaptasi dengannya tanpa perlu didorong-dorong  Kepemimpinan merupakan katalis  terbentuknya motivasi diri untuk mengatasi perubahan.  Anda menghadapi perubahan secara efektif  karena niat dan bukan seseorang memaksanya.  Memiliki visi ke depan merupakan elemen penting dalam mengatasi perubahan dan pemimpin  selalu memiliki visi.  

Salah satu prinsip sangat penting dalam  Zen (ajaran Budha) adalah penguasaan melalui adaptasi (mastery through adaptation).  Ketika perubahan datang jika Anda orang yang fleksibel Anda dapat menyesuaikan dengan lebih baik dan masih dapat mengendalikan lingkungan.  

Kemarahan

Kemarahan adalah reaksi alamiah terhadap  input dari pihak lain yang melihat dari sisi negatif.  Setiap orang memiliki opini yang mungkin saja tidak diterima oleh orang lain.  Jika Anda bereaksi dengan kemarahan yang tampak maka hal itu akan dibalas dengan kemarahan juga Seorang pemimpin yang efektif  memilah antara kemarahan dengan tindakan Kemampuan memilah ini akan memunculkan reaksi yang positif.   Pemimpin bisa marah tapi bagaimana dia mampu menahan diri itu yang membedakan.  Ini juga merupakan bagian dari ajaran  Zen … “Orang marah akan mengalahkan dirinya dalam pertempuran maupun kehidupan (The angry man will defeat himself in battle as well as in life)”.

Memiliki Proses (Process Ownership)

Karyawan ideal adalah dia yang senantiasa menyelesaikan tugasnya tanpa perlu diawasi.  Mengapa ada karyawan yang penuh pengabdian tapi ada yang senaknya sendiri Rasa memiliki merupakan elemen kuat yang dapat membantu menciptakan motivasi diri dan jalin-menjalin dengan kepercayaan, nilai, dan  elemen kepemimpinan yang lain. Jika seseorang dapat  melihat makna dari tugasnya dan bekerja dalam suasana saling percaya  ia akan bekerja keras melebihi standar yang ditentukan supervisornya.

Lantas bagaimana rasa memiliki ini dapat terjadi?  Ini adalah produk samping dari segala hal yang dilakukan oleh seorang pemimpin efektif.   Rasa ini tumbuh secara alamiah karena bawahan merasakan kepemimpinan yang layak diikuti. Rasa memiliki berasal dari hati.  Di perusahaan dimana Brian menawarkan pekerjaannya untuk menyelamatkan Silas, rasa memiliki tidak hanya terbentuk di kalangan karyawan tapi juga hingga ke pemasok.  

Kesenangan dan Pengakuan (Fun and Recognition)

Kesenangan merupakan elemen lain yang berasal dari  tim dan kerjasama.   Setelah bekerja keras, Mark Strickland, dan teman-temannya selalu mengadakan pesta besar.  Setiap karyawan tanpa kecuali diberi piala oleh pimpinan, disertai dengan cerita tentang kontribusinya bagi perusahaan.  Pesta itu dapat melepaskan ketegangan dan menyatukan kelompok.

Elemen lain dari kesenangan ini adalah dengan pemberian otonomi untuk mendefinisikan dan membuat proyek yang sesuai dengan visi perusahaan.  Orang-orang yang gila kerja akan merasa tertantang untuk membuat sesuatu yang berharga bagi perusahaan.

Memikirkan Diri Sendiri (Selfishness)

Salah satu kegagalan dalam kepemimpinan adalah hanya memikirkan diri sendiri  (selfishness).   Memikirkan diri sendiri/egois  mengubah semua motivasi untuk menjadi pemimpin yang baik.   Tujuan jangka pendek untuk menyenangkan atasan atau rapat pembuatan anggaran sering memicu egoisme.  Sifat egois akan membawa pada kehilangan integritas, yang akan mengerosi kepercayaan, lalu tanpa kepercayaan segalanya akan lenyap.  Orang egois akan berkata, “Saya lebih penting dibandingkan dengan dirimu.” (Eko W)

 

Sumber/foto : leadershipfiles.com/ericjacobsononleadership.files.wordpress.com