Enam Pelajaran di Masa Kecil untuk Menjadi Pemimpin yang Hebat

Leadership

Banyak orang ingin menjadi pemimpin, namun hanya sedikit dari mereka yang berhasil. Akibatnya banyak dari mereka kemudian menjalani pelatihan kepemimpinan, di berbagai seminar ataupun workshop dengan menghabisskan dana yang cukup besar. Namun demikian sebenarnya tanpa sadar sejak kecil kita telah mempelajari dasar-dasar kepemimpinan dari orang tua ataupun guru di sekolah. Mereka adalah pelatih eksekutif terbaik yang telah melatih kita untuk menjadi pemimpin. Setidaknya itulah yang dinyatakan oleh Ayse Birsel, seperti yang dikutip daari laman inc-asean.com.

Ayse Birsel sendiri merupakan salah satu dari 25 top leaders dari Marshall Goldsmith, bersama-sama dengan  Frances Hesselbein, CEO Frances Hesselbein Leadership Institute dan Alan Mulally, Mantan CEO Ford Motor Company - dan rekan setimnya Frank Wagner dan Chris Coffey..

Birsel memberikan contoh beberapa dasar-dasar kepemimpinan yang kita dapat semasa kecil, diantaranya adalah :

1. Selalu Mengucapkan Terima Kasih

Ucapan terima kasih dari orang-orang yang telah membantu kita, akan membuat diri kita lebih berarti. Sama seperti ibumu mengajarimu.

Marshall Goldsmith menceritakan sebuah contoh yang dikutipnya dari bukunya yang berjudul What Got You Here Won't Get You There. Suatu saat dirinya mengalami keadaan darurat dalam sebuah penerbangan, yang mungkin akan mengarah pada tragedi dan keematian. Hal pertama-tama disesalinya adalah dirinya tidak pernah berterimakasih, kepada orang yang pernah berjasa kepadanya. Sehingga segera setelah saat semuanya berlalu dan dalam keadaan yang sehat, dirinya langsung menulis terima kasih kepada semua orang untuk mengakui apa yang telah mereka lakukan untuknya.

2. Selalu Mendengarkan dan Bicaralah Seperlunya 

Alan Mulally mengajarkan kepada kita bahwa para pemimpin hebat, selalu mendengarkan dengan baik. Menjadi pendengar yang baik adalah kekuatan. Lihatlah dan dengarkan mereka dengan penuh perhatian, karena dari mereka kita akan belajar banyak hal baru. Orang akan lebih menghargai mereka yang mau mendengarkan pendapat dengan baik. Dari sini kita bisa membangun sebuah kepercayaan.

Ini persis seperti yang dikatakan oleh orangtua kita untuk sedikit berbicara, dan lebih banyak mendengarkan. Karena dari sinilah sikap kepemimpinan mulai dibentuk. 

3. Jangan Memotong Pembicaraan

Bagian dari kebiasaan mendengarkan yang baik, adalah tidak menyela jika mereka sedang berbicara. Karena hal ini justru akan mengganggu mereka. Jangalah berpikir bahwa kita lebih tahu dari mereka, atau gagasan kita lebih baik daripada miliknya. Apabila kita jarang memotong pembicaraan mereka, maka hal ini akan menjadi contoh yang baik dari pentingnya mendengarkan pendapat orang lain.

4. Saling Menolong

Kita semua membutuhkan pertolongan dan juga bisa memberikan pertolongan.

Goldsmith menyatakan banyak orang tidak menyukai komentar, namun mereka bisa memberikan saran dan kritik yang baik sebagai bantuan untuk menolong mereka di masa depan. Untuk itu dirinya menganjurkan mereka selalu berpasangan, dan saling mengingatkan satu sama lain akan sebuah hal. Dengan semakin banyak orang yang melakukan ini, maka mereka akan selalu saling tolong menolong dan membangun sebuah kepercayaan mengenai peran dan jasa mereka bagi sesama. 

5. Berbaik Hati

Goldsmith menyatakan bahwa salah satu kriteria terpenting untuk menjadi pemimpin bukanlah otak, keahlian, posisi atau pengaruh. Namun yang terpenting adalah kebaikan hati. Untuk itu kit harus selalu berbaik hati dengan oraang lain dan hormatilah semua orang. Hal terbaik daari melakukan ini adalah ketika kita bisa melakukannya untuk diri sendiri.

Frances Hesselbein pernah bercerita tentang neneknya berbaik hati terhadap  seorang binatu Tiongkok yang bernama Yi. Ketika nenek Hesselbein kembali ke negaranya, Yi memberikan hadiah dua buah vas bunga raksasa dari Tiongkok. Mengapa? Karena nenek Hesselbein adalah satu-satunya orang yang menghormatinya dan menunjukkan ini melalui kebaikan. Itulah pelajaran berharga yang sering dibagikan dengan kami, bahwa berbuat baik itu menyenangkan.

6. Bermainlah

Ini adalah sebuah catatan kecil dari Birsel. Karena bekerja dan bermain sebenarnya aadaalah sama.  Ketika bermain dan bekerja kita tidak harus takut untuk berbuat salah. Dengan bermain tentang ide-ide baru, maka akan banyak pelajaran yang bisa didapatkan. Dengan belajar secaraa terus menerus juga merupakan cara terbaik untuk bergerak maju, berinovasi dan belajar dari kegagalan kita. Pemimpin yang hebat selalu bekerja dengan senyuman dan tahan banting dalam meniti langkah mereka. Sehingga bagi mereka bekerja terlihat seperti bermain. Untuk itu bermainlah seperti anak kecil, meskipun kita telah dewasa.

Sumber/foto : asean-inc.com/incimages.com