Kepemimpinan Transformasional Elon Musk

Leadership

Jika ada orang mengatakan bahwa ia ingin mengajak anak isteri dan sahabat-sahabatnya untuk pindah ke Planet Mars, apa yang terbersit dalam benak Anda?  “Tidak mungkin!”  “Ini orang aneh?” Atau bahkan “Ini orang gila!”  Tapi di dunia ini ada orang yang memiliki tekad seperti itu, namanya Elon Musk.  Ia bertekad membangun koloni pada tahun 2040 dengan membawa serta 80 ribu orang dari bumi.

Apakah Anda berminat bekerja di sebuah perusahaan yang salah satu mantan karyawannya pernah mengatakan, “Perusahaan itu luar biasa!” dan  “Saya tidak akan pernah bekerja di sana lagi”?

Jika Anda ingin bekerja untuk orang yang memimpin dengan memberikan contoh dan yang mengikuti dorongan hatinya menuju kesempurnaan, mendorong Anda mengeluarkan seluruh potensi, mungkin Anda cocok di sana. Sebagai pemimpin transformasional, Elon Musk, dari  Tesla Motors, memperagakan “visi yang luar biasa, dedikasi dan kegigihan” ketika ia berusaha keras mengaktualisasikan visinya.

Sebagai contoh, Musk selalu menaruh sleeping bag di dekat lini produksi  pabrik Tesla di Fremont, California.  Setiap saat ia selalu siap mendampingi para insinyurnya yang sedang bekerja.  

Dolly Singh, mantan kepala HR di  SpaceX, perusahaan yang merencanakan akan membawa manusia ke planet Mars,  berkomentar tentang  Elon Musk, “Hal yang membuat adanya Elon Elon lain adalah kemampuannya membuat orang lain memercayai visinya.” Jim Cantrell, ahli teknik pertama SpaceX, menambahkan, “…Kebanyakan dari kami berpandangan ini tidak mungkin; ia berpandangan ini tidak boleh gagal.”

Tapi itulah visi mengagumkan dan dorongan  yang membuat gaya kepemimpinan Elon Musk. Ia kadang-kadang meminta para teknisi untuk bekerja selama sembilan bulan  dengan 100 jam kerja per minggu, karena Musk sedang memfokuskan pada sesuatu hal.  Tetapi dengan tiba-tiba ia bisa berubah pikiran dan menghentikan proyek tersebut.

Perjalanan hidup Musk yang luar biasa berawal di  Afrika Selatan, ketika ia sering diejek sewaktu masih anak-anak, bahkan pernah sampai dibawa ke rumahsakit karena sekelompok anak laki-laki melemparkan dia di anak tangga dan memukulinya hingga tak sadar. Dari awal yang tanpa harapan ini, ia kemudian masuk ke universitas di Kanada dan AS,  termasuk mengikuti kuliah dua kali seminggu untuk mendapat Ph.D. Fisika Terapan di  Stanford University.  Ia tidak melanjutkan program itu dan mengejar impian kewirausahaannya di bidang  internet, energi terbarukan, dan ruang angkasa.

Pada usia 39 tahun ia mendirikan, menjadi CEO dan mengepalai para insinyur di SpaceX, ikut mendirikan dan menjadi CEO Tesla Motors, chairman dari  SolarCity, co-chairman dari  OpenAI, ikut serta mendirikan Zip2 dan PayPal. Pada tahun 2016 ia juga masuk ke dalam urutan ke 39 orang terkaya  di AS. 

Pada semua perusahaan itu, Musk memiliki rencana yang muluk-muluk.  SolarCity, yang didirikan untuk melawan pemanasan global, merupakan penyedia tenaga sinar matahari kedua terbesar di AS. 

Sementara dengan Tesla, ia mengembangkan mobil listrik dengan harga terjangkau dan sedang bergerak untuk melipattigakan jumlah stasiun   supercharger. Untuk merangsang produsen otomotif memproduksi mobil listrik, ia mengizinkan pemanfaatan hak paten teknologi Tesla. Ia juga membangun pabrik baterei di  “Gigafactory”  Tesla di Nevada, sebagai bagian dari strateginya.  

Dengan SpaceX, yang telah bermitra dengan NASA, ambisinya adalah melakukan perjalanan ke planet Mars dengan biaya terjangkau bagi orang kebanyakan.  Ia ingin mengirim sebanyak 80,000 orang ke Mars pada 2040,  sebagai persiapan kalau terjadi kepunahan di planet bumi.  

Seorang pemimpin gaya transformasional punya potensi bertentangan dengan para pimpinan yang menolak perubahan, itulah yang terjadi pada Musk di PayPal. PayPal adalah penyedia jasa transaksi dalam jual beli di dunia maya, menjadi penjamin baik bagi pembeli maupun penjual.  Beberapa orang juga kurang setuju atas  kerjasama Musk dengan  California High-Speed Rail System. 

Dengan menggabungkan para insinyur dari SpaceX dan Tesla, ia merancang sistem transportasi super cepat yang menghubungkan Sylmar (di bagian utara Los Angeles) dengan Hayward (San Francisco Timur).  Jarak sejauh 350 mil (sekitar 500 km) akan dapat ditempuh hanya dalam waktu 35 menit.  Dengan demikian para penglajo akan dapat bepergian lebih cepat  dibandingkan dengan naik pesawat terbang.  

Di bawah bendera, Boring Co., pengerjaan terowongan yang digagas  pada tahun 2013 itu kini sedang dilakukan, dengan tujuan untuk memfasilitasi kendaraan super cepat termasuk kereta super cepat, Hyperloop.  Banyak perusahaan startups ikut terlibat dalam proyek ini. 

Seperti halnya Steve Jobs, Musk adalah seorang yang visioner dan jenius, tapi barangkali sikap ekstrimnya yang terkenal adalah keyakinan akan visinya, dorongan dan kegigihannya, menolak segala rintangan yang di jalani.  

Disegani di Bidang Teknologi

Dalam survai terhadap ratusan pendiri perusahaan startup, 23% responden mengatakan mereka mengagumi pimpinan  Tesla dan  SpaceX,  Elon Musk lebih dibandingkan dengan pimpinan lain di bidang teknologi. Sementara itu  pimpinan Amazon,  Jeff Bezos berada di urutan kedua, dengan 10%  responden memberikan penilaian terbaik, diikuti oleh pendiri Facebook Mark Zuckerberg dengan  6%, dan co-founder Apple, Steve Jobs yang sudah meninggal lebih dari lima tahun lalu,  dengan 5%.

Survai dilakukan oleh First Round Capital,  sebuah perusahaan modal ventura di New York  yang sahamnya mencakup  Uber, TaskRabbit, dan Blue Apron. First Round mensurvai lebih dari 700 pendiri perusahaan  startup  tentang segala sesuatu mulai dari atmosfir investasi sampai dengan peluang pertumbuhan.

Tahun 2016 merupakan survai nasional kedua, dan Musk juga masuk ke dalam pemimpin bidang teknologi yang dikagumi pada survai tahun sebelumnya. Selama beberapa tahun, Musk dan perusahaannya telah mencapai tonggak sejarah yang menentukan, termasuk keberhasilan pengumuman Tesla Model 3 dan peluncuran rencana untuk menjajah planet Mars.  

Konsep Hyperloop yang digadang-gadang Musk memperlihatkan kemajuan yang nyata, meskipun ada problem di Hyperloop One,  yang sedang mencoba membuat Hyperloop tanpa keterlibatan Musk secara langsung.

Memang Tesla juga pernah gagal memenuhi target pengiriman mobil ke para pemesannya, namun tampaknya tidak memengaruhi minat orang untuk membeli, terutama dari para pencinta lingkungan.  Mobil listrik akan dapat mengurangi polusi udara yang diakibatkan oleh efek samping  pembakaran bahan bakar dari fosil (BBM).  

Akuisisi Tesla terhada SolarCity pada 2016 juga sempat menimbulkan tanda tanya menyangkut manfaatnya bagi pemegang saham. Tetapi banyak orang masih menyandarkan harapannya atas kepemimpinan Musk di bidang teknologi. Musk juga diketahui menjadi salah satu penasihat presiden terpilih Donald Trump, sebagai bagian dari Strategic and Policy Forum.

Masuk ke Dalam the World Greatest Leader 

Para staf majalah Fortune dan sekelompok ahli baru-baru ini mengumpulkan daftar tahunan World’s Greatest Leaders.   Satu di antaranya adalah Elon Musk.   Seorang yang dianggap memiliki visi, ideologi dan berani ambil risiko.  Milliuner ini sekarang memimpin sekitar 35 ribu karyawan di perusahaan-perusahaannya. (Eko W)

Sumber/foto : fortune.com/businessinsider.com