Ketika Karyawan Merasa Lebih Hebat Daripada Atasan

Industrial Relation

Dalam sebuah organisasi ataupun perusahaan hubungan antara karyawan dan atasan, merupakan sebuah hal yang cukup unik. Dalam satu saat menjadi sangat berarti bagi pengembangan perusahaan, namun juga bisa menjadi masalah yang sulit dipahami. Sehingga untuk itu dibutuhkan adanya sebuah keseimbangan antara rasa saling menghormati satu sama lain dan  rasa saling percaya.

Namun demikian bagi sebagian besar pemimpin, perihal tersebut tidaklah semudah seperti yang ada  dalam teori. Karena ada berbagai tantangan yang harus dihadapi oleh mereka, dalam mengembangkan hubungan tersebut agar bisa berkembang lebih baik lagi. Dalam survei yang dilakukan oleh sebuah situs karir terhadap lebih dari 5.000 responden di Amerika, menunjukkan sekitar 34 % pegawai perempuan dan 37 % karyawan pria merasa bahwa mereka mampu melakukan seperti yang dikerjakan oleh pimpinan mereka. Bahkan lebih bagus lagi.

Banyak dari generasi pekerja yang lebih muda merasa, bahwa mereka telah mengetahui semuanya. Dari beberapa pengembangan survey tersebut, generasi ini merasa bahwa pimpinan senior merupakan generasi yang harus diwaspadai. Karena dari karyawan berusia 66 ke atas, 50% menjawab "Ya" saat ditanya apakah mereka bisa melakukan pekerjaan yang lebih baik daripada atasan mereka. Padahal hanya 31% karyawan berusia 18-25 yang berpikiran bahwa para senior bisa mengerjakannya. Artinya generasi kmuda kurang begitu mempercayai seniornya di kantor dalam beberapa hal. 

Dalam survey tersebut tingkat pendidikan dan pengalaman, banyak berpengaruh terhadap kepercayaan diri mereka dalam mengerjakan tugas yang lebih sulit. Sebanyak 49% karyawan yang memiliki level  pendidikan sekolah menengah, menganggap mereka lebih mampu daripada atasan mereka. Sementara hanya 32% dari mereka yang bergelar sarjana juga memiliki pemikiran sama.  Selain itu lebih dua pertiga dari karyawan yang telah bekerja selama lebih dari 10 tahun, memiliki pemikiran bahwa mereka merasa dapat melakukan yang lebih baik dari pada atasan.

Beberapa pertanyaan dari survei tambahan yang dijawab oleh lebih dari 10.000 responden mengungkapkan, bahwa perbaikan dalam hal berkomunikasi dengan bawahan merupakan hal poko yang harus dibenahi. Ini dijawab oleh sekitar 50 % responden, kemudian disusul oleh akuntabilitas (20 %), sikap positif (14%), kejujuran (9%) dan terakhir adalah etos kerja (8%).

Bagi sebagian dari para manajer merasa bahwa mereka tidak perlu mengkhawatirkan hal tersebut, selama mereka tidak pernah mendapatkan kritikan (negatif) dari bawahan. Namun demikian ternyata dari sekitar 5000 reponden, hanya 56 % perempuan dan 64 % pria yang menyatakan pernah mengkritik atasan mereka. Terutama untuk hal yang negatif. Sebagian lagi merasa lebih baik berdiam diri saja.

 

Sumber/foto : humanresourcesonline.com/completewellbeing.com