INTIPESAN.COM - Terdapat kaitan erat antara employee performance management dan talent management strategy, hal tersebut bisa dilihat dari upaya menselaraskan dengan tujuan perusahaan melalui pengembangan sumber daya manusia untuk bisa mensupport bisnis. Guna mendapatkan karyawan berkemampuan tinggi maka diperlukan adanya talent management yang baik. Pernyataan tersebut disampaikan oleh Aloysius Budi Santoso, Chief Corporate Human Capital Development PT Astra Internasional Tbk, dalam sebuah sesi yang berjudul Performance Management & Talent Management pada Seminar Employee Performance Management pada Rabu (8/2) di Aryaduta Hotel, Jakarta.

INTIPESAN.COM - Guna dapat mendorong pembangunan industri yang berdaya saing, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) lakukan terobosan dengan pengembangan industri berbasis sumber daya alam, pemerataan industri nasional, serta penguatan sumber daya manusia (SDM) melalui vokasi industri. Demikian yang diungkapkan pelaksana tugas (Plt) Sekretaris Jenderal (Kemenperin) Haris Munandar pada acara Indonesia Economic Outlook 2017 di Jakarta, Selasa (31/01/2017).

“Pada 2016 pertumbuhan industri relatif di bawah pertumbuhan ekonomi, di bawah 5%. Tapi pada 2017 kita mematok angka pertumbuhan 5,5%. Kita sangat optimistis karena melihat beberapa kondisi yang kita harapkan bisa tercapai,” ucapnya.

Pengembangan industri non-migas terus ditingkatkan mengingat tingginya kontribusi sektor ini terhadap produk domestik bruto (PDB), yakni mencapai 17,82% pada triwulan II-2016. Jika digabung dengan sumbangan dari jasa industri, total kontribusinya bisa mencapai 30%. Kemenperin mencatat, industri makanan dan minuman memberikan kontribusi terbesar, yakni 33,61% disusul industri elektronika dan logam.

Menurutnya, optimisme tersebut akan tercapai jika prasyarat seperti harga gas dan listrik bisa tercapai.Selain itu, ekspor juga diharapkan meningkat meskipun masih ada ketidakpastian dari Trump Effect.

“Tapi, prasyaratnya harga gas bisa turun, harga listrik juga. Kita enggak minta subsidi, tapi flat saja , jangan harganya dimahalin ,” kata Haris.

Dia memaparkan, Kemenperin memprioritaskan pengembangan 11 sektor industri unggulan.Sebelas sektor tersebut meliputi industri makanan dan minuman; industri farmasi kosmetik dan alat kesehatan; industri tekstil, kulit, alas kaki, dan aneka; industri alat transportasi; industri logam dasar dan bahan galian bukan logam; industri elektronika dan telematika; industri kimia dasar berbasis migas dan batu bara; industri hulu agro; industri pembangkit energi; industri barang modal, komponen, bahan penolong, dan jasa industri; serta industri kecil dan menengah (IKM) di bidang kerajinan dan kreatif.

“Ada enam kebijakan prioritas industri nasional yang akan dilaksanakan pada 2017. Pertama, penguatan sumber daya manusia (SDM) melalui vokasi industri. Kami menargetkan penciptaan 1 juta tenaga kerja tersertifikasi pada 2019 melalui program link and match antara sekolah menengah kejuruan dan industri,” ungkapnya.

Beliau menuturkan, Kemenperin juga memprioritaskan pendalaman struktur industri melalui penguatan rantai nilai industri. Kebijakan ini untuk mengembangkan sektor industri yang saling terkait mulai dari industri hulu, antara, hingga hilir.

“Kita akan mendorong pendalaman struktur industri melalui penguatan nilai tambah. Selama ini kita mengekspor barang material masih berbentuk mentah. Nilai tambahnya akan luar biasa kalau dilakukan di dalam negeri,” tuturnya. Kebijakan prioritas lain, kata Haris, mendorong industri padat karya dan industri yang berorientasi ekspor.

Kemenperin juga mendorong pengembangan IKM lewat platform digital. Dua kebijakan yang terakhir adalah pengembangan industri berbasis sumber daya alam dan pengembangan per wilayah industri. Keduanya bertujuan membangun pusat industri baru di area penghasil sumber daya alam, terutama di luar Jawa. Sejauh ini perkembangan hilirisasi industri berbasis logam, mencakup 32 perusahaan dengan total nilai investasi USD16,3 miliar di 22 kabupaten/kota dan 11 provinsi.

Sumber/Foto : sindonews.net

INTIPESAN.COM - Dalam upaya untuk meningkatkan kinerja Badan Usaha Milik Negara (BUMN) pemerintah menginginkan agar posisi chief executive officer (CEO) BUMN bisa diisi oleh orang asing. Karena menurut Presiden Joko Widodo, BUMN harus memiliki semangat kompetisi yang kuat dan sehat agar BUMN dapat terus maju dan berkembang secara optimal seperti yang disampaikannya awal bulan lalu di Jakarta.

"Saya bahkan ingin ada tiga atau empat bule profesional yang memimpin perusahaan BUMN, agar orang-orang kita belajar serta termotivasi dan berkompetisi dengan adanya orang-orang asing itu," tuturnya.

Hal tersebut serta merta menimbulkan berbagai pro dan kontra di kalangan masyarakat, Banyak yang mendukung namun banyak pula yang menolak.

Menurut Andrew Tani sebenarnya permintaan tersebut lebih banyak bernuansa politis, karena sebenarnya CEO dari Indonesia memiliki kualitas yang tidak kalah dengan CEO asing. Namun demikian kalau hal itu akan dijadikan sebagai acuan pemerintah dalam mengelola BUMN, maka dirinya mengharapkan pemilihan tersebut harus berdasarkan merit atau prestasi.

"Jadi jangan asal pilih CEO dari luar negeri dan jika dilakukan tepat waktu dan tepat pilihan, itu akan lebih bagus hasilnya, " jelasnya saat ditemui Redaksi Intipesan.com pada Jumat (27/1) di Jakarta.

Selain itu dirinya juga mengingatkan akan pemilihan tersebut harus dilakukan dengan hati-hati, karena tidak semua CEO memiliki kemampuan manager leader dan adaptasi yang baik.

"Karena walaupun seorang CEO memiliki kemampuan managerial yang baik, namun tidak bisa beradaptasi maka pasti dirinya akan ditolak oleh lingkungan kerjanya. Sehingga semuanya akan tergantung pada individu CEO itu sendiri. Hal-hal tersebut setidaknya harus diperhatikan dan yang terpenting harus ada conditioning dari semua pihak yang terlibat, " demikian jelasnya.

Menurut Guru Besar Ilmu Manajemen Universitas Indonesia Rhenald Kasali wacana penempatan warga negara asing tersebut, sebenarnya merupakan penyesuaian atas realitas dari kompetisi global.

"Realitasnya, ternyata banyak eksekutif profesional yang bagus-bagus di luar negeri yang harganya lebih murah, itu banyak perusahaan swasta yang sudah lakukan. Tidak terlalu sulit kok mencari mereka," kata R‎henald.

Dirinya juga mengungkapkan bahwa sebenarnya saat ini banyak perusahaan kelas dunia yang justru mempekerjakan orang Indonesia. Karena mereka melihat bahwa pekerja RI dikenal memiliki intelegensi di atas rata-rata. Dirinya memberikan beberapa contoh perusahaan kelas dunia, yang dipimpin oleh orang Indonesia yaitu Freeport, Unilever dan Axiata.

"Itulah mengapa perusahaan-perusahaan asing justru memilih profesional dari Indonesia," jelasnya.

Namun demikian dirinya juga melihat sisi positifnya, yakni dengan dipimpinnya BUMN oleh warga negara asing. Setidaknya diharapkan bisa menambah daya saing BUMN itu sendiri.(Anto)

Kesuksesan merupakan salah satu tujuan utama seseorang dalam bekerja ataupun belajar, karena sukses merupakan sebuah tolok ukur keberhasilan mereka dalam melakukan aktivitas. Namun demikian tidak semua orang mampu meraih kesuksesan atau bahkan mengalami kegagalan. Gagal karena kita tidak mampu mencapai tujuan dalam hidup kita.

Sejak jaman dulu manusia dalam berinteraksi dengan sesamanya, telah mengenal konsep persaingan. Hal tersebut kemudian selanjutnya semakin berkembang dalam berbagai bidang kehidupan, baik itu bidang pendidikan, sosial dan ekonomi. Persaingan dapat berdampak positif maupun negatif bagi manusia, namun demikian apabila persaingan telah bergeser pada sisi negatif maka akan menimbulkan kerugian bagi mereka yang terlibat. Pendapat ini dinyatakan oleh psikolog dan editor senior di laman konsultasi psikologi PsychAlive.org, Dr. Lisa Firestone Ph.D.

Sebuah persaingan dapat dikatakan tidak sehat ketika mulai menyerang lawan dengan menempuh cara-cara yang curang, melawan aturan, atau dengan menyebar fitnah. Akal-akalan ini bisa terjadi karena ada pihak yang tidak bisa menerima kekalahan .

“Sehingga dia cenderung menyangkalnya dengan cara yang bisa menyakiti diri dan orang lain,” katanya.

Sedangkan menurut Mary Ellen Slayter, penasihat dan pakar karier seperti yang dikutip dari laman Monster menyebutkan bahwa persaingan yang tumbuh di antara pekerja timbul, karena perusahaan selalu mencari pekerja terbaik. Sehingga demi tampil menjadi karyawan terbaik, segala upaya dilakukan sehingga persaingan tak terelakkan. Masalahnya kegiatan persaingan meski dimulai dengan persaingan sehat, tetap berpotensi menimbulkan konflik.

Berdasarkan survei yang dilakukan laman Monster pada 2014, mayoritas pekerja di Amerika mengatakan persaingan dengan rekan kerja atau atasan justru memperburuk performa kerja mereka. Menurut survei tersebut, sebanyak 55 persen dari pekerja menyatakan persaingan membuat mereka stres dan produktivitasnya menurun.

Persaingan dalam dunia kerja bisa berpengaruh positif dan negatif. Persaingan yang sehat akan mendorong kita untuk menjadi lebih baik. Persaingan juga membuat bekerja lebih seru dan menambah semangat.

 

Kita akan terus terpacu untuk menampilkan performa kerja terbaik, demi memenangkan persaingan. Sebaliknya, persaingan yang tidak sehat akan membuat suasana kerja tidak menyenangkan, bahkan memicu stres.

 

Ada banyak cara yang dilakukan dalam mengembangkan kualitas sumber daya manusia (SDM) di organisasi, mulai dari melakukan program leadership hingga kepada usaha melakukan transformasi human capital. Setiap pendekatan tersebut biasanya dilakukan dengan mengacu pada budaya atau kultur (culture) yang dimiliki oleh setiap organisasi.

More Articles ...