Mengenali Faktor Penunjang Kinerja Karyawan

Performance Management

Ada banyak faktor yang dapat memengaruhi kinerja seorang karyawan.  Namun berbagai studi menyimpulkan ada tiga kelompok utama yang berperan pada pembentukan kinerja: kompetensi, komitmen dan lingkungan.   Faktor lainnya bisa saja memberi pengaruh tambahan terhadap kinerja seseorang, misalnya umur.

Perbincangan tentang kinerja (performance) atau hasil kerja menjadi salah satu hal yang umum di kalangan pimpinan atau pemilik perusahaan.    Kinerja karyawan  memang menjadi dasar untuk melihat apakah suatu unit kerja, divisi, atau bahkan perusahaan akan terus berkontribusi secara positif  atau sebaliknya.

Kalau unit kerja atau diivisi  berkontribusi positif artinya bagian itu tidak menjadi beban, sebaliknya dia menjadi profit center atau paling tidak dia menjadi pembangun reputasi perusahaan (branding).      Itu yang selalu diharapkan oleh manajemen.   Kalau hanya satu atau dua unit yang harus disubsidi, mungkin masih dapat ditolerir. Tapi kalau divisi kontribusinya negatif, maka umumnya akan memberi dampak yang lebih luas.

Divisi-divisi lain yang surplus dan menjadi pihak yang menyubsidi umumnya akan bersikap sinis terhadap divisi yang menjadi beban.   Hubungan kerja antar karyawan  menjadi tidak harmonis.     Idealnya memang setiap divisi harus berkontribusi positif, sehingga   tidak ada yang menjadi cost center.  Namun demikian, ternyata memang cukup banyak perusahaan yang selalu memiliki divisi minus.   Divisi yang menjadi beban umumnya langsung ditutup oleh pemilik. 

Kecuali divisi itu memang terkait dengan kesenangan atau hobi pemilik perusahaan.   Contohnya ada seorang konglomerat yang tiba-tiba ingin menjadi politisi untuk meraih posisi  di birokrasi/pemerintahan.  Dia segera membuat  suratkabar  yang salah satu tugasnya adalah untuk menjadi corong bagi kampanye politiknya.  Meskipun  rugi, koran itu terus dipertahankan keberadaannya, karena mampu memberikan kepuasan batin bagi pemilik.

Dalam hal setiap divisi dituntut berkontribusi positif, maka mau tidak mau harus ada semacam upaya terus-menerus untuk mengetahui  agar  kinerja karyawan tidak jatuh.  Apa saja faktor-faktor yang memengaruhi kinerja?  Dari berbagai studi yang dilakukan ternyata ada tiga factor utama yang berperan.

Kompetensi

Kompetensi menjadi faktor utama yang akan memengaruhi kinerja seorang karyawan.   Ambil contoh di perusahaan taksi.   Seorang sopir taksi dituntut untuk tahu secara teori bagaimana mengemudikan taksi  secara baik dan benar.    Setelah tahu maka ia harus melatih dirinya terlebih dahulu agar terampil.   Orang tahu teorinya – bahkan sampai hafal, tapi kalau tidak mempraktikkan maka dia juga tidak akan terampil.   Dia mengaku bisa menyetir mobil, tapi sewaktu mengerem membuat penumpang terangguk-angguk ke depan.  Berarti dia belum terampil.    Tahu dan  terampil  ternyata belum cukup.  Dia juga harus berperilaku sopan terhadap calon penumpang.   

Bukan hanya dalam hal penguasaan kendaraan, seorang sopir taksi juga harus tahu medan.  Dia harus hafal jalan-jalan, baik jalan raya maupun jalan kecil, sehingga ia dapat  membawa penumpang menuju ke tujuan dengan cepat dan selamat.  Memang boleh saja seorang sopir bertanya kepada penumpangnya agar dipandu menuju tempat yang dituju.  Tapi kalau penumpang kebetulan berasal dari luar kota dan hanya berbekal alamat yang ia catat, maka sopir harus mencari tahu terlebih dahulu.  Untung saja sekarang sudah ada GPS (Global Positioning System).    Paling tidak arahnya ke mana dapat ditanyakan kepada GPS.

Namun GPS juga bukan segalanya, mengingat jalan yang satu arah tidak dapat ditanyakan ke GPS.  Belum lagi kalau tiba-tiba ada  penutupan jalan oleh pihak berwajib, karena ada pejabat yang mau lewat.  Seorang sopir taksi harus tahu jalan alternatif yang paling pendek menuju sasaran.    Jadi penguasaan jalan sedetailnya harus dimiliki oleh seorang sopir taksi.  Bahkan seorang sopir yang profesional, dia hafal di mana ada lubang di jalan tertentu.  Atau di mana ada warung enak dan murah di wilayah tertentu.

Komitmen

Orang sudah ahli di bidangnya, tidak perlu dilatih lagi untuk mengerjakan suatu hal.   Tapi apakah dia memiliki niat untuk bekerja di bidang yang ia kuasai itu.   Seorang  gitaris yang sudah jago.  Bahkan mengiringi lagu apa pun dapat ia lakukan sambil merem, tapi begitu dia ditawari main di sebuah kafe remang-remang, dia enggan.   Dia takut terpengaruh lingkungan.  Nanti isterinya cemburu terus.    Bisa-bisa setiap pagi pulang kerja, pipinya penuh dengan lipstik.  Dia sudah memiliki komitmen untuk setia kepada isterinya, karena itu lebih baik dia tidak berkomitmen untuk main band  di kafe remang-remang.

Komitmen adalah faktor lain selain kompetensi, yang akan memengaruhi kinerja.  Dalam kasus gitaris yang takut isteri ini, maka pihak kafe harus menerapkan kiat khusus kalau masih ngotot ingin mem-booking dia.  Misalnya honornya dilipatgandakan.    Dengan naiknya honor, maka gitaris ini dapat saja memiliki motivasi baru untuk main, dengan segala risiko yang dihadapi.   Motivasi bersama-sama dengan keyakinan diri inilah yang akan membentuk komitmen. 

Seorang yang tidak yakin mampu melakukan suatu pekerjaan tentu saja tidak akan menghasilkan kinerja bagus.  Orang yang takut ketinggian, tentunya dia tidak akan berani naik gondola untuk kemudian membersihkan dinding-dinding  gedung pencakar langit.    Baru naik gondola saja sudah takut, bagaimana mungkin ia harus mengayunayunkan tangannya untuk membersihkan gedung.   

Lingkungan

Kompetensi ada, komitmen ada, usia masih muda, tapi mengapa kinerja tidak maksimal.  Perlu dicari  faktor lain di luar itu yang akan memengaruhi kinerja, yakni lingkungan tempat kerja.  Lingkungan ini dapat   berupa lingkungan fisik, tapi juga dapat berupa lingkungan non- fisik, suasana.    Suasana ini juga dapat di-break down lagi.    Bisa karena tidak ada dukungan dari anak buah, dari rekan kerja atau bahkan pimpinan.     

Dalam hal lingkungan fisik, maka umumnya suasana kerja industri manufaktur memang kurang  nyaman dibandingkan dengan kerja kantoran.  Orang sudah digaji tinggi tapi dia tidak maksimal kinerjanya, ternyata ia tidak kuat mendengar suara bising  dari mesin pabrik.   Bau menyengat dari bahan kimia pabrik  juga dapat berpengaruh  terhadap kinerja seseorang.   Dia tidak cocok bekerja di pabrik.    

Dalam konteks yang lebih besar, lingkungan eksternal dapat saja memengaruhi  kinerja perusahaan secara keseluruhan.  Misalnya pemerintah atau masyarakat sekitar tidak merestui keberadaan suatu pabrik tertentu karena dianggap mencemari lingkungan.    Demonstrasi yang dilakukan masyarakat akan memengaruhi kinerja karyawan dan juga perusahaan secara keseluruhan.

Usia

Orang memiliki kompetensi dan sudah menyatakan komitmen untuk bekerja di sebuah perusahaan,  lingkungan kerja juga mendukung tapi bisa gagal karena faktor usia.  Usianya tidak memungkinkan lagi untuk bekerja maksimal, mengingat penyakit yang dimiliki.    Orang dengan usia uzur bisa dimanfaatkan untuk pekerjaan-pekerjaan yang sedikit melakukan aktivitas fisik.  

Dengan mengetahui faktor-faktor utama yang memengaruhi kinerja, seorang pimpinan dapat  melakukan pembinaan terhadap  para  karyawannya.   Jika pengetahuan masih kurang, berarti diperlukan penambahan pengetahuan, baik melalui lokakarya, seminar, kursus atau sekadar melalui buku atau bacaan lainnya.  (Eko W)

 

Sumber/foto : iorsjournal.org/isma.info/streamdental.ca