Benarkah Ancaman PHK Membuat Pekerja Lebih Produktif ?

Performance Management

Bagi sebagian besar pekerja, pemutusan hubungan kerja (PHK), merupakan sebuah 'aib' yang harus mereka hindari. Walaupun sebenarnya proses PHK tidak selalu terkait dengan buruknya kinerja mereka, karena bisa juga karena faktor eksternal yang lain. Namun tetap saja hal ini menimbulkan tekanan tersendiri bagi  performa kerja dan kondisi mental mereka.

Namun demikian menciptakan situsasi tak pasti secara sengaja, telah lama menjadi taktik yang digunakan di sebagian industri. Karena langkah itu akan menambah performa para pekerja. Setidaknya hal itu pernah dinyatakan oleh mantan presiden direktur General Electric, Jack Welch, yang mendorong PHK sebanyak 10% dari karyawan yang paling tidak berprestasi. Ini dikenal dengan istilah aturan 20-70-10. Sedangkan beberapa perusahaan lain menerapkan aturan yang dikenal dengan nama 'up or out', yakni karyawan yang tidak mencatat perbaikan atau kariernya tidak naik, akan segera diganti.

Namun demikian menurut William Schiemann, pimpinan Metrus Group, perusahaan riset di Somerville, di New Jersey, Amerika Serikat menyebutkan bahwa taktik tersebut tidak baik bagi perusahaan, karena lebih banyak menimbulkan efek negatif dibanding sisi postif.

"Ketika perusahaan mulai mempergunakan kepastian kerja sebagai hukuman dan bukan sebagai hadiah, maka hal itu menjadi bumerang karena karyawan kehilangan komitmennya," katanya.

Pada sebagian besar karyawan staabilitas dalam bekerja merupkan salah satu hal yang dicari, namun demikian terkadang instabilitas selalu muncul dalam berbagai bentuk. Sehingga akhirnya kecemasan dapat timbul diantara mereka, dan ini biasanya  bergantung pada profesi, peran, situasi keuangan dan lokasi.

Misalnya para pekerja di Eropa mendapat perlindungan lebih ketat, dalam hal pengurangan karyawan dibandingkan karyawan di Amerika Serikat. Di Belgia karyawan dengan masa kerja selama tiga tahun harus menerima pemberitahuan tiga bulan sebelum diberhentikan, namun di Amerika Serikat pemberitahuan PHK dengan masa kerja yang sama hanya sekitar dua minggu. Dengan kata lain pekerja di Eropa memiliki perlindungan yang lebih baik  dibanding teman sejawat mereka di Amerika Serikat.

Menurut Tinne Vander Elst, psikolog di Universitas KU Leuven, Belgium menyebutkan bahwa bagi para pekerja keamanan kerja tidak hanya merujuk pada ancaman PHK, tetapi juga kecemasan tentang masa depan peran mereka. Hal ini disebut dengan ketidakpastian kerja kualitatif.

Sehingga munculnya ketidakpastian dalam bekerja merupakan pemicu utama munculnya tekanan, namun demikian pada intensitas kecil perasaan ketidakpastian kerja mungkin memberikan insentif tambahan untuk melakukan yang terbaik dalam jangka pendek. Karena dengan adanya ancaman PHK akan membuat mereka bekerja lebih keras, untuk membuktikan kepada pihak manajemen bahwa mereka layak dipertahankan.

"Jika mereka berpikir situasinya dapat terkontrol, mereka masih akan melakukan usaha nyata," demikian jelas Schiemann.

Meskipun tidak ada penelitian ilmiah tentang fenomena khusus ini, beberapa penelitian menunjukkan bahwa dalam sebagian kasus stres di tempat kerja dapat membantu karyawan lebih fokus dan meningkatkan efisiensi kerja. Walaupun demikian tetap saja situasi kerja yang banyak memiliki tekanan, menimbulkan gangguan performa dalam jangka panjang.

Menurut David Creelman, seorang konsultan sumber daya manusia di Toronto, Kanada menyataakan bahwa kita tidak seharusnya menempatkan seseorang dalam situasi seperti ini. 

"Karena orang-orang yang sangat stres kemungkinan besar mengalami gangguan mental dan penyimpangan etik, dan lebih sulit diajak bekerja sama sebagai anggota tim. Dibandingkan orang-orang yang tidak menderita stres," demikian jelasnya.

Menurut Vander Elst, ketidakpastian terkait pekerjaan tidak hanya berdampak pada kesehatan dan mengubah performa, tetapi juga memicu persoalan fisik yang dapat berlangsung bertahun-tahun setelah pekerja meninggalkan pekerjaan. Dampak ketidakpastian kerja dikatakan masih dapat dirasakan beberapa tahun kemudian. Dalam penelitiannya, para karyawan  yang mengalami ketidakpastian kerja pada tingkat tinggi, akan merasa depresi meskipun sudah tiga tahun kemudian.

"Mengalami ketidakpastian kerja merupakan titik kritis untuk menjadi depresi," jelasnya.

Bahkan jika sebagian orang mampu melakukan pekerjaan dengan lebih baik ketika menghadapi ketidakpastian, mereka yang merasa tidak aman terkait pekerjaan tetap tidak merasa beruntung. Dengan demikian gagasan ketidakpastian kerja dalam tataran tertentu, dapat membuat pekerja lebih produktif adalah suatu konsepsi yang salah.

"Ketidakpastian kerja berkaitan dengan performa peran tingkat lebih rendah, sikap lebih rendah terhadap kerja inovatif, tingkah laku bullying lebih tinggi di tempat kerja dan lebih banyak karyawan yang keluar," katanya.

Oleh karena itu menurutnya jika karyawan ingin merasa nyaman di tempat kerja, maka disarankan agar mereka mencari manajer dan perusahaan yang menitik beratkan pada keadilan dan transparansi. Karena hal ini akan dapat membantu mereka bekerja lebih baik di masa-masa ketidakpastian.

"Apabila perusahaan memperlakukan kita dan kawan-kawan sejawat sama, maka kita akan lebih betah dalam bekerja," demikian jelasnya lebih jauh.

Dengan demikian sebenarnya tidak ada rumus khusus yang dapat membuat kita merasa aman dalam bekerja, namun apabila hal ini mulai mempengaruhi kinerja. Maka kita harus segera memperbaikinya.

 

Sumber/foto : bbc.com/cw.iabc.com