INTIPESAN.COM - Dalam Rencana Jangka Menengah Nasional 2015-2019, pemerintah Indonesia merencanakan sejumlah strategi untuk mengaitkan industri dan pendidikan, juga guna meningkatkan pengumpulan, analisis dan diseminasi informasi tenaga kerja. 

Strategi ini termasuk salah satunya adalah mengembangkan kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan pengusaha yang berdasarkan masukan dari bisnis dan industri. Juga penyesuaian program pengembangan dan keterampilan vokasi, berdasarkan aktivitas ekonomi utama dan kebutuhan tenaga kerja di tingkat daerah. 

Menteri Tenaga Kerja, Hanif Dhakiri, juga mengusulkan strategi untuk memfasilitasi pasar tenaga kerja, salah satunya dengan mengintegrasikan Sistem Informasi Tenaga Kerja (SITK) untuk merespon kebutuhan informasi perusahaan, penyedia jasa pelatihan, pencari kerja dan pembuat kebijakan.

Relevansi dan kualitas lulusan pendidikan tinggi dapat ditingkatkan dengan keterlibatan dunia usaha dan industri dalam penyusunan kurikulum dan program pelatihan bagi mahasiswa, serta membuka kesempatan bagi mahasiswa untuk belajar mengenai dunia kerja melalui konseling dan program magang dan/atau program kerja nyata/praktikum. Demikian yang dijelaskan oleh Tim ACDP (Analytical and Capacity Development Partnership) dalam acara Kopi Darat, Kongkow Pendidikan: Diskusi Ahli dan Tukar Pendapat ke-31 dengan topik "Sudahkah Pendidikan Tinggi Menyesuaikan Diri dengan Rencana Pembangunan Ekonomi Nasional?" hari Rabu, 8 Maret 2017 di Perpustaaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Jl. Jenderal Sudirman, Senayan - Jakarta.

Selain itu, dunia industri juga dapat memanfaatkan pengetahuan dan fasilitas perguruan tinggi untuk mengembangkan keterampilan staf mereka. Namun, saat ini baru 7% dari perusahaan yang disurvei telah berpartisipasi pada pengembangan kurikulum, 12% perusahaan menggunakan institusi sebagai pusat pelatihan karyawan, 7% perusahaan terlibat dalam proyek penelitian dan 7% perusahaan menyiapkan karyawannya sebagai instruktur. Lebih dari setengah (60%) perusahaan yang dianalisis tidak menyediakan program magang untuk lulusan perguruan tinggi.

Salah satu jalur lain untuk mengembangkan relevansi perguruan tinggi dengan dunia kerja adalah dengan menggunakan Sistem Informasi Tenaga Kerja (SITK). Berdasarkan pengalaman dan praktik di negara-negara maju, fitur mendasar dari SITK yang efektif di antaranya adalah: data yang tepat waktu, akurat dan relevan; analisis dan interpretasi data yang efektif; mudah diakses oleh pengguna melalui berbagai outlet; serta penghubung yang memiliki pengetahuan lengkap. Survei pemerintah menunjukkan bahwa SITK Indonesia masih terbatas dan, terutama di tingkat kabupaten, masih lemah. Data yang dikumpulkan secara administratif dari perusahaan-perusahaan di tingkat lokal belum bisa mewakili populasi tenaga kerja perusahaan dan konsistensi data dari perusahaan-perusahaan tersebut masih relatif lemah. Selain itu dunia pendidikan belum memanfaatkan SITK secara optimal.(Artiah)

 

 

Perkembangan perdagangan global telah membawa perubahan dalam pemasaran hasil industri pertanian, termasuk diantaranya adalah industri pengolahan kopi di Indonesia. Untuk bisa bersaing dengan produk kopi dari berbagai negaraa yang ada di dunia, maka Indonesia sudah seharusnya membenahi sumber daya manusia (SDM) dalam bidang tersebut. Pendapat ini disampaikan oleh Direktur industri kecil menengah (IKM) Pangan, Barang dari Kayu dan Furnitur Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Dr Sudarto, dalam acara  pelatihan Roasting Kopi pada Sabtu (4/3) di Jakarta.

Mengembangkan potensi yang ada pada mereka adalah sebuah solusi, yang terfokus pada pola pikir (mindset) dan ketrampilan perilaku (behavioral skills) yang digunakan oleh seluruh karyawan, terutama para pemimpin dan ahli fungsional dalam rangka membantu orang.

More Articles ...

Page 1 of 2