Pentingnya Melakukan Transformasi Digital untuk Menghadapi Persaingan

Organization Development

Perusahaan yang belum bertransformasi menjadi digital ternyata mempunyai resiko bisnis yang tinggi, hal ini berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh SAP Southeast Asia baru-baru ini. Hal tersebut juga disadari oleh sebagian besar persen pemimpin bisnis di Indonesia, dan mereka menyatakan perlu melakukan transformasi digital untuk mendorong pertumbuhan perusahaan.

Sebuah penelitian serupa yang dilakukan oleh Oxford Economics ditemukan saat ini ada sekitar 84% perusahaan global, yang menyatakan bahwa transformasi digital amatlah penting bagi keberlangsungan bisnis mereka dalam lima tahun ke depan. 

Namun demikian ternyata dalam sebuah studi bertajuk ‘The Microsoft Asia Digital Transformation: Enabling The Intelligent Enterprise’ pada bulan lalu menyebutkan bahwa hanya 27 persen yang telah memiliki strategi transformasi digital menyeluruh. Sebanyak 51 persen sisanya masih merencanakan proses transformasi digital dan sebanyak 22% belum memiliki strategi apapun.

Sedangkan di Indonesia menurut  Cisco, saat ini belum banyak perusahaan yang telah melakukan transformasi digital. Padahal transformasi digital tersebut sangatlah penting agar perusahaan tetap bertahan dan bersaing di era yang serba digital ini.

Di masa depan, transformasi digital bisa menjadi salah satu dari tiga penggerak utama pendapatan bisnis bagi perusahaan, dari survey tersebut, perusahaan yang telah bertransformasi digital  akan meraih pertumbuhan pendapatan sekitar 23% dalam dua tahun ke depan dibandingkan dengan perusahaan yang belum bertransformasi. 

Andreas Diantoro, Presiden Direktur Microsoft Indonesia menjelaskan, organisasi yang tidak mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman akan menjadi kurang kompetitif. Untuk itu Microsoft  telah mendefinisikannya dengan menjabarkan empat pilar berikut yang berguna dalam pengembangan transformasi digital:

Pertama, yakni memprioritaskan pelanggan, atau menjalankan aplikasi teknologi yang memungkinkan organisasi untuk menganalisis dan memahami karakter konsumen dengan lebih baik. Sehingga organisasi dapat memprediksi kebutuhan konsumen dan menjawab kebutuhan tersebut secara personal.

Kedua, yakni memberdayakan karyawan. Dalam rangka menjawab kebutuhan konsumen secara lebih personal, karyawan organisasi perlu bekerja dengan lebih cepat. Teknologi hadir untuk mendukung karyawan dalam melakukan pekerjaan secara mobile, sehingga karyawan dapat bekerja dari mana saja, kapan saja, dan dengan menggunakan perangkat apa saja.  Walaupun karyawan tidak bekerja di tempat dan waktu yang sama, karyawan dapat tetap bekerja secara kolaboratif.

Ketiga, mengoptimalkan kegiatan operasional. Artinya, hadirnya teknologi mampu membantu proses pengumpulan, pengolahan, dan analisis data. Sehingga dapat mempercepat proses pengambilan keputusan. Sebagai hasilnya efektivitas dan efisiensi kerja organisasi, akan semakin meningkat.

Keempat, transformasi produk dan model bisnis. Dalam rangka menghadirkan pengalaman yang berbeda bagi kosumen, organisasi perlu mendefinisikan ulang jenis produk dan model bisnis yang ditawarkan agar berbeda dari kompetitor lainnya. (Manur)

 

Sumber/foto : kompas.com/warnaplus.com