Ingin Bekerja di Google ? Cobalah Tips ini

Recruit & Selection

Siapa sih yang tidak mau bekerja di kantor seperti Google? LinkedIn pada tahun 2016 melaporkan bahwa Google merupakan perusahaan, yang paling baik dalam memperlakukan para pekerjanya. Hal ini bisa terlihat dari fasilitas yang diberikan kepada karyawannya, mulai dari makan gratis, pijat gratis, suasana kantor yang menyenangkan lapangan olahraga hingga jaminan setelah meninggal.

Maka tak heran jika Google selalu menjadi "tempat kerja impian" bagi para calon karyawan,  terlebih Google sudah mempunyai kantor perwakilan di Indonesia. Bahkan karena banyaknya peminat yang ingin bekerja di perusahaan tersebut, sebuah media nasional di Jakarta sempat merilis artikel yaang berisikan pandian agar diterima kerja di perusahaan besar seperti Google.

Pertama, tonjolkan hal-hal yang tepat pada resume lamaran. Menurut Kevin Miller yang kini menjadi Director of Growth di OpenListings.com dan sebelumnya bekerja di divisi penjualan Google AdWords, ceritakan lebih banyak soal pengalaman Anda sebelumnya.

“Jelas dan detail menjabarkan pengalaman-pengalaman sebelumnya akan sangat membantu,” ia menuturkan.

Anda tak perlu buang banyak waktu untuk menceritakan karakter diri atau prestasi-prestasi yang diraih dalam resume. Hal-hal itu cukup dijelaskan sekadarnya. Lebih penting untuk menggarisbawahi pengalaman Anda ketika magang atau bekerja di tempat tertentu, atau ketika dihadapkan pada masalah tertentu saat bekerja.

Kedua, membuat  koneksi ke orang dalam Google. Hal ini bisa masuk kategori nepotisme, namun prinsipnya kesempatan selalu dekat dengan orang yang dekat.

Di Google para pekerjanya diberikan hak untuk memberikan referensi orang, ketika perusahaan tersebut mencari pegawai baru. Jika Anda punya koneksi yang tepat dan tahu kemampuan Anda, ini bisa jadi kesempatan emas.

“Saya berutang pada teman baik saya yang mereferensikan saya,” kata Nate Smith. Ia adalah mantan Google Associate Product Manager, yang kini mendirikan perusahaan software bertajuk “Lever”.

Ketiga, tunjukkan karakter Google-mu atau kerap disebut “Googleyness”. Ada kombinasi karakter yang bisa dibilang “Google banget”, yakni seru, intelektual namun manusiawi, berhati nurani, serta memiliki rekam jejak melakukan hal-hal menarik dan unik.

“Seberapa gampang Anda untuk bergaul? Dalam proses rekrutmen Google, ada beberapa pertanyaan yang akan ditanya berkali-kali seperti apakah Anda ingin bekerja dengan orang A setiap hari? Apakah Anda bahagia duduk di samping orang B setiap hari? Apakah Anda bisa bekerja dengan baik bersama tim Anda?,” kata Kevin Miller.

Keempat, antisipasi beberapa pertanyaan dan buat pula pertanyaan balik. Menurut Nate Smith, Anda harus benar-benar menyiapkan diri menjawab rentetan pertanyaan dari pewawancara, baik berhubungan dengan keterampilan maupun karakter personal.

Terlepas dari itu, Smith sesumbar pewawancara juga senang jika Anda melempar pertanyaan yang baik. “Ceritakan waktu Google mengatasi kesulitan?”, begitu misalnya.

Kelima, tunjukan semangat dan keunikan Anda. Ada beberapa orang yang pada tahap wawancara memilih jawaban-jawaban aman. Ini bukanlah karakter yang Google cari.

Falon Fatemi yang kini menjadi penasihat startup dan dulunya bergabung di tim YouTube, membagi tips penting. Menurut dia, Google lebih menyukai jawaban unik, tak membosankan, serta tak disangka-sangka.

Ketika ditanya periode waktu apa yang ingin dijalani olehnya, Fatemi menjawab “Saya ingin tinggal di era 60-an di San Francisco dan merasakan hari-hari hippie di Haight-Ashbury”. 

Keenam, berikan pendapat soal produk-produk Google. Mantan Head of Marketing Google Fiber dan kini mendirikan restoran di San Francisco, Azhar Hashem, memberikan tips tambahan.

Menurut dia, Google ingin mendengarkan pendapat yang kuat dan tajam soal produk-produknya dari pelamar. Pendapat itu harus mencakup kritik, apa hal yang disukai, apa yang perlu ditingkatkan, serta pemahaman tentang produk secara umum

Ketujuh, perlihatkan kemampuan memecahkan masalah. Ini adalah salah satu kriteria wajib para pekerja Google. Terkadang pertanyaan-pertanyaan untuk melihat kemampuan memecahkan masalah  agak di luar konteks, semisal “apa saja gunanya kerucut lalu lintas?”.(Manur)

 

Sumber/foto : fastcompany.com/media.licdn.com