Sistem Pendidikan Indonesia Tidak Memperhatikan Kecerdasan Emosi

Education

Pada saat ini dari sisi psikologi sistem pendidikan di Indonesia, dinilai masih kalah jauh dengan sistem pendidikan di negara maju. Karena sistem pendidikan di sana lebih banyak mengajarkan kurikulum yang tidak terlalu berat, sehingga anak memiliki kebebasan memilih mata pelajaran yang diminatinya sejak dini. Ini kemudian mempengaruhi kecerdasan emosi anak-anak.  Demikian yang disampaikan Psikolog Klinis Universitas Gajah Mada (UGM) dan Pendiri Analisa Personality Development Center, Analisa Widyaningrum, Senin (12/6) di Jakarta.

“Kalau di luar negeri, saya lihat sistemnya di beberapa negara maju memang beda dengan Indonesia, dan anak lebih diasah kecerdasan emosinya. Seperti anak TK yang diajarkan tentang antre, empati berbagi makanan dengan teman. Bukan hanya melulu dipaksa bisa baca tulis hitung (calistung) seperti di Indonesia,” ungkapnya.

Karena itu dirinya menilai kebijakan Mendikbud yang akan menyelenggarakan sekolah selama lima hari dalam seminggu, lebih baik dikaji ulang terlebih dahulu agar tidak gegabah dalam mengubah satu sistem kurikulum. Banyak hal yang harus dibenahi dalam sistem kurikulum di Indonesia. Misalnya terutama dalam hal pemerataan fasilitas pendidikan di setiap daerah.

Dirinya menambahkan dalam pemerataan peningkatan kualitas SDM, pengajar di setiap daerah juga harus dibenahi. Serta berbagai metode pembelajaran yang diseragamkan agar semua anak di Indonesia berhak mendapatkan pendidikan yang berkualitas.

“Baru setelah semua itu dilakukan, maka pemerataan dalam hal jam pelajaran hingga pemerataan output (melalui Ujian Nasional) ini bisa dilakukan. Jika tidak, maka kasihan dengan daerah yang terpencil dan belum mendapat akses pendidikan yang baik seperti di kota besar,” tandasnya.

 

 

Sumber/foto : jawapos.com/bppk.kemenkeu.go.id