Lima Cara Efektif untuk Meningkatkan Employee Engagement

Culture

Dalam mengembangkan budaya sebuah perusahaan, karyawan memiliki peranan yang cukup vital. Selain itu dengan adanya semakin banyaknya karyawan yang ikut terlibat didalam proses tersebut, maka hal tersebut dapat menumbuhkan dan membawa organisasi pada perubahan yang lebih baik.

Untuk mendukung hal ini peran pemimpin dalam membangkitkan semangat, dan melibatkan karyawan dalam menciptakan perubahan yang lebih baik cukup dominan. Namun bagaimana caranya agar hal tersebut bisa dicapai ? Dibawah ini terdapat lima langkah mudah guna meningkatkan peran karyawan (employee engagement) dalam pengembangan budaya perusahaan, diantaranya adalah : 

1. Berbagi Tujuan Bersama (Stephen Covey)

Hasil studi menunjukkan bahwa karyawan sangat memahami tujuan organisasi, jika mereka ikut terlibat dalam mencapai tujuan tersebut. Karyawan dengan pemahaman  jelas tentang strategi dan prioritas organisasi. Mereka dapat diposisikan untuk membuat keputusan yang lebih baik, dalam melakukan pekerjaan mereka sehari-hari.

“The bottom line is, when people are crystal clear about the most important priorities of the organization and team they work with, not only are they many times more productive, they discover they have the time they need to have a whole life,”  jelas Stephen Covey.  

2. Mengatasi Ketakutan Untuk Gagal (Zig Ziglar)

Setiap pemimpin harus meyakinkan tim bahwa perubahan dan inovasi melibatkan resiko. Tidak setiap pendekatan baru yang dilakukan akan berhasil, tetapi setiap upaya yang wajar akan selalu dihargai.

“The top salesperson in the organization probably missed more sales than 90% of the sales people on the team, but they also made more calls than the others made,”  – demikian penyampaian oleh  Zig Ziglar.

3. Membangun Hubungan Emosional yang Kuat (John Wooden)

Keterlibatan karyawan yang sukses juga melibatkan hubungan emosional antara karyawan dengan organisasi. Koneksi ini dapat tercipta dengan menunjukkan kepedulian terhadap kesejahteraan setiap anggota tim sebagai pribadi. Sebisa mungkin para pemimpin harus mencari cara untuk menawarkan fleksibelitas, pengembangan personal, dan pengakuan bagi karyawan yang berkomitmen penuh.

“I worry that business leaders are more interested in material gain than they are in having the patience to build up a strong organization, and a strong organization starts with caring for their people,”  ungkap John Wooden.

4. Lakukan Perbaikan dari Ide-Ide Karyawan (Jack Welch)

Jika seorang pemimpin meminta ide dari para karyawannya, dan kemudian tidak melakukan tindakan nyata dari ide-ide tersebut. Maka  hal itu dapat membuat karyawan merasa diabaikan. Sehingga  hal ini akan mengurangi antuasisme mereka, untuk berkontribusi dalam mencapai tujuan organisasi.

“An organization’s ability to learn, and translate that learning into action rapidly, is the ultimate competitive advantage,” terang Jack Welch.

5. Memupuk Kerjasama Antar Divisi (Malcolm Gladwell)

Antusiasme adalah hal yang menular. Ketika para karyawan di dorong untuk saling bekerja sama, hal tersebut memungkinkan untuk menghilangkan budaya silo yang ada. Selain itu, hal tersebut juga dapat menciptakan inovasi baru dalam proses. Kolaborasi lintas divisi / fungsi dapat membangun budaya yang  terbuka untuk menerima perubahan dan bekerja sama untuk membangun budaya perbaikan secara kontinu.

“Innovation – the heart of the knowledge economy- is fundamentally social,” kata Malcolm Gladwell.

 

Sumber/foto : shiftindonesia.com/forbes.com