Jurus Membangun Jejaring

Article

Agung Setiyo Wibowo

Advisor Guidepoint, Self-Discovery Coach, & Program Director Veloz Training

Jejaring yang Anda miliki ialah “kekayaan” sesungguhnya. Ungkapan ini mungkin terdengar klise di telinga Anda. Tapi jika kita renungkan dan praktekkan, ternyata bukan pepesan kosong.

Seorang politisi membutuhkan massa untuk memuaskan syahwat politiknya hingga kepuncak kekuasaan. Seorang pengusaha memerlukan mitra-mitra hebat untuk mengembangkan gurita bisnisnya. Bahkan seorang pekerja sosial pun wajibmemilikikolega di mana-mana untuk mendukung advokasinya.

Ya, jejaring memang “alat tukar” sesungguhnya dalam kehidupan. Tanpa jejaring, Jokowi mustahil bisa mengubah nasibnya dari pengusaha mebel menjadi R1 I. Tanpa jejaring, seorang Anies Baswedan tidak mungkin bertransformasi dari pimpinan perguruan tinggi menjadi DKI 1. Tanpa jejaring, Laudya Cynthia Bella tidak akan pernah menemukan pengusaha asal negeri jiran sebagai pasangan hidupnya. 

Belum lama ini saya berjumpa dengan seorang profesional-cum-pebisnis inspiratif. Sebut aja bernama Bayu. Kami bersua di salah satu kedai populer di bilangan Mega Kuningan, Jakarta Selatan.

Bayu merupakan prototipe profesional sukses. Jalan hidupnya "lurus". Lulus kuliah, kerja beberapa tahun, menikah, jenjang karir meningkat, sambil merintis bisnis. Yang menarik meski pendapatan dari bisnisnya sudah lebih besar dari pada pendapatannya sebagai karyawan, ia belum terketuk hati untuk fokus mengembangkan bisnis karenasatu dan lain hal. Bocoran saja, bisnisnya telah ekspansi ke Asia. Tidak hanya "jago kandang".

Bayu saat ini berumur hampir 2x lipat dari pada saya. Ia memutuskan masa lajangnya ketika berusia 25 tahun. Jadi, anak sulungnya saat ini sudah menjadi mahasiswa tingkat akhir yang tak lama lagi lulus.

Lalu, apa yang saya pelajari dari Bayu? Ada berderet kalau mau saya tuliskan di sini. Namun, saya sengaja hanya membeberkan satu saja yang paling menonjol. Bapak beranak tiga ini paling jago untuk urusan membangun jejaring.

Jujur, saya angkat topi untuk orang yang pandai "bergaul". Itu mengapa saya paling kagum dengan politisi, pebisnis atau Salesman. Karena ketiganya pandai "mengambil hati" orang lain. Lantaran ketiganya mampu mempengaruhi orang lain untuk mengikuti apa yang mereka inginkan.

Jadi, bagaimana jurus Bayu membangun jejaring untuk mendukung karirnya? Jika disarikan, ada tiga poin utama yang dapat kita pelajari.

Pertama, menempatkan diri pada orang lain. Intinya, kalau mau banyak teman harus "gaul". Nah, untuk bisa gaul kita wajib mengikuti "dunia" orang lain tanpa meninggalkan identitas kita. Misalnya, dengan mencari persamaan minat atau bakat. Bisa bergabung dalam organisasi sosial hingga komunitas olahraga. Dari sini, kitabisa lebih luwes mengenal orang lain secara emosional. Jika sudah mendapatkan "chemistry", mau menjajaki urusan bisnis hingga politik lebih mudah.

Kedua, jangan mendekat ketika ada "mau"-nya saja. Ini jelas sudah klise sekali.Tapi jangan diabaikan. Silaturrahmi yang kuat itu organik.Tidak dibuat-buat.Jadi itu memerlukan proses yang panjang. Marathon, bukan lari cepat.

Ketiga, memberi, membantu dan melayani lebih dahulu. Ini syarat yang tak bisa ditawar. Alih-alih meminta "keuntungan" duluan dari jejaring yang dibangun, kita harus bersikap sebaliknya. Mengulurkan tangan untuk membantu, memberi dan melayani. Jangan hitung-hitungan dulu di awal, karena dari sinilah akan datang "keajaiban" yang tak disangka-sangka dalam berbagai bentuk benefit.

Nah, tiga jurus di atas bisa kita terapkan dalam bidang saja. Apapun goal yang kitamiliki. Yang harus diingat, dasar membangun jejaring ialah menciptakan value untuk orang lain. Sehingga tidak berlebihan jika Lewis Howes mengatakan bahwa“One of the most powerful networking practices is to provide immediate value to a new connection. This means the moment you identify a way to help someone, take action.”