Meningkatkan Kompetensi SDM lewat ASEAN Skill Competition ke 12

News

Dalam usaha untuk meningkatkan kompetensi tenaga kerja Indonesia di kawasan Asia Tenggara, maka pemerintah melalui Kementrian Tenaga Kerja mengadakan Seleknas ASEAN Skill Competition (ASC) ke-12 pada Sabtu (9/9) di Balai Besar Pengembangan Latihan Kerja (BBPLK), Bekasi, Jawa Barat. Diharapkan dengan adanya kegiatan ini akan dapat meningkatkan kualitas SDM di Indonesia. Demikian yang disampaikan oleh Menteri Ketenagakerjaan (Menaker), M. Hanif Dhakiri pada saat menghadiri acara penutupan Seleknas

"Saya mengucapkan selamat kepada pemenang ASEAN Skills Competition yang akan mewakili indonesia pada Oktober 2018 di Thailand," jelasnya.

Dalam kurun waktu 10 bulan ke depan, para pemenang seleksi nasional ASC ke-12 akan mendapatkan pelatihan yang intensif sebelum mengikuti gelaran ASC. Ajang ASC merupakan pembuktian bahwa dunia kompetensi merupakan dunia yang penuh dengan persaingan.

"Ini merupakan suatu pertarungan bagaimana daya saing SDM bisa terus dipertarungkan, baik di ajang nasional maupun di tingkat regional ASEAN," demikian ungkapnya lebih jauh.

Lebih jauh juga dijelaskan bahwa saat ini pendidikan dan pelatihan vokasi, sering dipandang sebelah mata. Padahal realitanya banyak sarjana yang tidak memiliki keterampilan dan menganggur.

"Soal keterampilan dan kompetensi ini ibarat mata uang dalam persaingan global," kata Hanif

Jika SDM Indonesia tidak memiliki kompetensi, maka tidak akan bisa bersaing dan memiliki kesempatan untuk menang. Angkatan kerja muda Indonesai harus berada diatas standar pasar kerja.

"Kenapa harus di atas standar, karena kalau di atas standar maka Anda pasti menang. Kalau Anda sesuai standar, Anda bisa menang, tapi kalau anda di bawah standar, Anda pasti kalah," ujar Hanif.

Untuk itu dirinyapun berharap generasi mileneal indonesia menjadi generasi yang di atas standar pasar kerja, sehingga tenaga kerja Indonesia bisa bersaing dengan negara lain. Sudah saatnya Indonesia meninggalkan sumber daya alam sebagai tumpuan untuk melakukan pembangunan.

"Karena selain persoalan lingkungan, kita juga tahu bahwa terus mengekploitasi alam akan mengakibatkan ketidakadilan antar generasi," ucap Hanif.

 

Sumber/foto : liputan6.com/